Hak Asuh Anak Setelah Perceraian

Hak Asuh Anak Setelah Perceraian

Assalamualaikum ustadz…

saya mau memberikan pertanyaan mengenani masalah keluarga aku nan selama ini masih mengganjal di fikiran aku dan juga suami. kami baru menikah2 tahun nan lalu..

maaf,sebelumnya aku mau menceritakan sedikit kondisi sebelum suami aku bercerai dengan mantan istrinya 4 tahun nan lalu.

suami aku menikah dengan mantan istrinyasebelum tahun 2000 dan telah dikaruniai 2 orang anak perempuan. usianya 11 tahun dan 3 tahun.

selama pernikahan,memang ada saja masalah dalam kehidupan rumah tangga..namun semuanya bisa mereka lalui..hanya saja ada satu masalah besar ketika suami aku bekerja jauh dari keluarganya (dinas selama 5 bulan dan sementara jauh dngistri dan anak nan pada saat itu masih satu), maaf,.istrinya berselingkuh dan berzina dengan laki2 lain. ada saksi mata dan mantan istrinya pun mengaku walaupun memang dengan cara paksaan..

suami aku tahu kejadian ini setelah mantan istrinya hamil anak ke dua usia 4 bulan. setelah anak kedua lahir,akhirnya mereka bercerai.

pertanyaan saya,.bagaimana dengan hak asuh anak2 suami saya?saya sangat sayang mereka,.semoga aku dapat mendidik anak2 denganbaik..Alhamdulillah anak paling besar tinggal bersama kami,namun anak nan kedua masih tinggal bersama ibunya..

apakah pendapat kami berdua sahih jika anak2 harus berada di bawah asuhan bapaknya(suami saya)? sebab sepengetahuan kami, keluarga (ibu/bapak)mantan istri suami aku seperti tak berani menghukum anaknya padahal sudah ketahuan berzina (malah seperti mencari alasan penyebab perzinahan,contohnya sebab dulu ditinggal kerja) kami risi mereka pun tak dapat mendidik akhlakanak2,khususnya nan paling kecil krn sekarang masih tinggal bersama mereka.

semoga pertanyaan aku bermanfaat.

terima kasih atas jawabannya,ustadz

wassalam

Waalaikumussalam Wr Wb

Hadhanah merupakan pegasuhan anak baik nan masih kecil atau sudah besar baik laki-laki maupun perempuan nan belum tamyiz demi memberikan penjagaan, pemeliharaan dan konservasi dari berbagai unsur nan dapat merusaknya baik kerusakan rohani, fisik maupun akalnya sehingga kelak anak itu mampu berdiri sendiri menghadapi tantangan kehidupannya.

Kaum wanita dan laki-laki memiliki hak hadhanah (pengasuhan) namun kaum wanita lebih didahulukan dikarenakan mereka lebih memiliki kasih sayang, kelembutan, konservasi dan pendidikan terhadap anak nan diasuhnya daripada kaum laki-laki. Kaum wanita pula nan mengandung si anak dengan penuh afeksi serta menjaga dan memeliharanya hingga anak itu lahir.

Hak pengasuhan terhadap anak menjadi milik ayah dan ibunya selama keduanya masih diikat oleh satu ikatan pernikahan. Akan tetapi ketika keduanya berpisah maka hak pengasuhan tersebut ada pada ibu dari si anak itu, demikianlah menurut kesepakatan para ulama berdasarkan hadits nan diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, Baihaqi dan Hakim dari Abdullah Amr disebutkan bahwa seorang wanita berkata, “Ya Rasul Allah, sesungguhnya anak aku ini, perut sayalah nan telah mengandungnya, dan payudara sayalah nan telah menjadi minumannya dan haribaankulah nan melindunginya. Tapi bapaknya telah menceraikan saya dan hendak menceraikan anakku pula dari sisiku.” Maka bersabdalah Rasulullah saw. : “Engkaulah nan lebih berhak akan anak itu, selagi belum kawin (dengan orang lain).”

Hak asuh menjadi milik ibu anak itu selama ia belum menikah lagi dengan lelaki lain. akan tetapi jika si ibu menikah lagi dengan laki-laki nan masih dekat kekerabatannya dengan anak itu, seperti : paman dari ayahnya maka hak hadhanahnya tidaklah hilang. (baca : )

Adapun seorang ibu pelaku maksiat atau fasik maka tidaklah memiliki hak pengasuhan terhadap anaknya sebab dirinya tidaklah memenuhi persyaratan sebagai pengasuh yaitu amanah dan adil, demikian menurut sebagian ulama, diantaranya para ulama Hambali dan Safi’i.

Al Qurthubi mengatakan bahwa sebagian sahabat berpendapat tak ada hak hadhanah bagi seorang wanita pelaku maksiat dan tak juga bagi wanita nan tak memiliki kesanggupan buat menunaikan hak-hak si anak itu dikarenakan sakit nan berkepanjangan. (al Jami’ Li Ahkamil Qur’an jilid II hal 142)

Berbeda dengan hal diatas, Ibnul Qoyyim mengatakan bahwa sebenarnya pengasuh tidaklah disyaratkan mesti adil. Hanya murid-murid Imam Ahmad dan Syafi’i dan lain-lainnyalah nan mengisyaratkan demikian.

Persyaratan seperti ini sangat sukar dipenuhi. Kalaulah hadhin (pengasuh) disyaratkan harus adil tentu banyak anak-anak di global ini nan terlantar, bertambah besar kesulitan bagi umat, bertambah payah mengurusnya, bahkan sejak islam muncul hingga datangnya kiamat nanti, kebanyakan anak-anak memiliki orang tua nan fasik, nan tak seorang pun di global ini nan dapat mengurus mereka sebab mereka ini justru berjumlah paling besar…

Tidak pernah Nabi saw dan para sahabatnya melarang seorang fasik mendidik dan mengasuh anaknya atau mengawinkan orang nan berada dalam perwaliannya. (Fiqhus Sunnah juz II hal 241 – 242)

Yang serig terjadi di masyarakat ialah meskipun ayah ialah seorang nan fasik namun ia tetaplah menyayangi dan berbuat baik kepada anak-anaknya, tetap berusaha keras buat memberikan pendidikan nan terbaik kepadanya dan tak berharap anaknya melakukan perbuatan maksiat seperti dirinya. Apalagi jika si pengasuh itu ialah seorang ibu walaupun dirinya fasik pastilah akan lebih memiliki afeksi dan cinta kepada anaknya.

Dengan demikian selama ibu dari anak suami Anda itu belum menikah dengan lelaki lain meskipun dirinya pernah melakukan perbuatan zina maka dia tetap memiliki hak asuh terhadap anaknya itu, terlebih lagi jika dia telah bertaubat dari perbuatannya itu.

Wallahu A’lam

Alquran

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy