Hakekat Ibadah Qurban

Hakekat Ibadah Qurban

Assamu’alaikum Wr Wb

Yth. Bapak Ustadz,

Apakah sebenarnya pengertian berkurban pada Idul Adha? Dan niat apa nan harus diucapkan?

Terima Kasih

Wassalamu’alaikum Wr Wb

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebenarnya istilah nan standar bukan berqurban, tetapi menyembelih hewan udhiyah. Sebab kata "Qurban" artinya mendekatkan diri kepada Allah. Padahal nan disunnahkan ialah melakukan ibadah ritual yaitu menghilangkan nyawa hewan udhiyah, baik dengan cara dzabh (menyembelih) atau nahr (menusuk leher unta dengan tombak), sebagai bentuk ritual peribadatan buat mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Jadi inti ritualnya ialah pada prosesi penghilangan nyawa hewan udhiyah itu sendiri. Namanya ritual, jadi kita tak bicara tentang hikmah atau makna apa nan implisit di belakang peristiwa itu. Ritual ya ritual, sebagaimana kita mengenal istilah itu.

Shalat ialah ibadah ritual, di mana kita diperintahkan buat berdiri dan menghadap ke arah kiblat, sebelumnya kita harus melakukan ritual dulu yaitu membasuhkan air ke wajah, tangan hingga siku, mengusap kepala dan membasuh kaki hingga mata kaki.

Ritual shalat itu terdiri dari gerakan berdiri, ruku’ (membungkuk), sujud, duduk tasyahhud. Juga terdiri dari bacaan ritual tertentu, yaitu doa iftitah, membaca surat Al-Fatihah, bacaan tasyahhud dan lainnya.

Semua itu ialah ritual spesifik nan diperintahkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, di mana dahulu malaikat Jibril spesifik turun ke bumi mendemonstrasikan gerakan dan bacaan ritual shalat di hadapan nabi Muhammad SAW. Lalu beliau pun mengikuti mobilitas dan bacaan ritual itu dan beliau bersabda kepada kita, "Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat saya shalat."

Bentuk ritual nan lain ialah berjalan berputar mengelilingi empat dinding ka’bah sebanyak 7 putaran, mulai dari hajar aswad dan finish di loka nan sama. Putarannya antagonis dengan arah jarum jam kalau dilihat dari atas, dan searah dengan jarum jam kalau dilihat dari bawah tanah. Sebelumnya harus melakukan ritual wudhu’.

Ritual lainnya lagi ialah berjalan kaki 7 kali bolak balik antara bukit Shafa dan bukit Marwah, juga harus dalam keadaan kudus dari hadats.

Kita juga mengenal ritual lainnya yaitu gerakan melempar batu ke satu titik, nan kita kenal dengan istilah melontar jumrah (jamarat).

Pendeknya semua ialah ritual, di mana nabi SAW sama sekali tak memberikan alasan logis atau hikmah terpendam di balik semua ritual itu. Kalau orang betawi bilang, "Udeh dari sononye emang begitu."

Menyembelih Udhiyah

Nah, kali ini ritualnya ialah melakukan penyembelihan. Bentuknya mengiris leher kambing, sapi atau kerbau hingga urat lehernya terputus dan mati. Dan selesai.

Disunnahkan buat membaca nama Allah dan bertakbir, lafadznya adalah: "Bismillahi Allahu Akbar." Dan disebutkan Allahumma hadzihi udhiyah ‘an fulan, nan artinya: Ya Allah, saya persembahkan hewan udhiyah ini buat si fulan."

Ada pun urusan membagi daging hewan itu kepada nan mustahiq, di luar ritual tersebut di atas. Maka di masa lalu, di manhar (tempat penyembelihan hewan) di Mina, tubuh-tubuh kambing atau unta nan telah disembelih dibuang begitu saja, tak ada nan mengurusinya. Toh ritualnya sudah tercapai.

Baru akhir-akhiri ini ada badan sosial nan peduli dengan nasib umat Islam di berbagai wilayah ditimpa kelaparan dan kemiskinan, maka didirikan pabrik kornet agar daging-daging itu dapat dimanfaatkan secara lebih luas.

Pembagian Daging Udhiyah

Secara umum, daging hewan udhiyah ini dibagi menjadi tiga bagian. Pertama, dimakan oleh nan menyembelih dan keluarganya. Kedua, buat dihadiahkan dan ketiga buat diberikan kepada fakir miskin.

Kecuali bila udhiyah itu bernilai wajib, di mana seseorang sebelumnya telah bernadzar buat menyembelih, maka menurut sebagian ulama, dagingnya tak boleh dimakannya sendiri tapi diberikan kepada fakir miskin.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Makanan

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy