Haramkah Lukisan Gambar Nabi SAW

Haramkah Lukisan Gambar Nabi SAW

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Salam sejahtera untuk pak ustadz nan dihormati. Semoga pak ustadz sentiasa dinaungi oleh rahmat Allah.

Pertanyaan aku adalah:

  1. Adakah embargo melukis gambar Nabi SAW itu haram secara total? Saya sedikit galat kerana aku pernah melihat lukisan gambar Nabi SAW memberi khutbah nan dilukis sekitar zaman Turki Uthmaniyyah.
  2. Adakah embargo ini untuk lukisan gambar Nabi Muhammad saja? Bagaimana dengan nabi-nabi sebelumnya seperti Nabi Isa, Nabi Musa dan lain-lain.
  3. Suatu ketika dulu, satu filem kartun tentang Nabi Musa (Prince of Egypt) telah diterbitkan. Soalan saya, bolehkah kita umat Islam membuat filem nan serupa tentang Nabi Musa ataupun nabi-nabi lain?

Semoga pak ustadz bisa memberikan klarifikasi nan akurat dengan dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW.

Sekian, terima kasih.

Wa’alaikkumsalam warohmatullahi wabarokatuh.

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Keharaman buat menggambar nabi Muhammad SAW dan juga nabi-nabi nan lain, oleh para ulama ditetapkan berdasarkan kemustahilan buat memastikan bahwa gambar itu benar-benar nan sebenarnya. Mengingat tak ada satu orang pun orang di global ini nan tahu paras para nabi. Karena tak satu pun nan saat para nabi itu hayati nan hingga sekarang ini masih hidup.

Semua lukisan dan gambar tentang para nabi itu 100% bukan paras mereka. Dan menurut para ulama, kalau pun gambar-gambar itu dilukis, sama sekali bukan gambar nabi, melainkan hayal dan khayalan pelukisnya.

Seandainya nan digambar itu hanya orang biasa nan bukan nabi, mungkin masalahnya tak serumit kalau nan digambar itu nabi. Menggambar atau melukis paras seorang nabi ialah sebuah kerumitan tersendiri dari segi hukum. Mungkin Anda bertanya, mengapa harus jadi rumit? Bukannah tujuan menggambar nabi itu baik, yaitu agar lebih mendekatkan kita kepada sosok nabi itu?

Ya, masalahnya menjadi rumit lantaran seorang nabi ialah pembawa selebaran resmi dari Allah. Maka bukan hanya pembicaraannya saja nan jadi ukuran, tetapi semua tindak tanduk dan bahkan hingga masalah paras dan potongan tubuhnya, ialah bagian utuh dari selebaran itu.

Penggambaran paras dan tubuh seorang nabi, sedikit banyak sangat berpengaruh kepada esensi syariat nan disampaikannya. Mengingat di kemudian hari setelah wafatnya para nabi itu, banyak orang nan berdusta tentang nabi. Baik bohong tentang perkataannya, perbuatannya, taqrirnya (sikap), termasuk berbohong tentang kondisi pisiknya.

Dan perbuatan berbohong atas apa nan apa nan dibawa oleh seorang nabi merupakan dosa nan amat serius. Ancamannya tak tanggung-tanggung, yaitu kedudukan di dalam neraka.

من كَذَبَ عليَّ مُتَعَمِّدًا فلْيَتَبوأ مقعده من النار

Siapa nan berbohong tentang saya secara sengaja, maka hendaklah dia menyiapkan tempatnya di neraka. (HR Bukhari Muslim)

Dengan berdasarkan hadits ini, maka para ulama sepakat buat mengharamkan gambar nabi Muhammad SAW, juga gambar para nabi nan lain. Mengingattidak ada seorang pun manusia nan hayati di zaman ini nan pernah melihat paras nabi Muhammad SAW dan juga nabi lainnya. Dari mana lukisan nabi itu didapat, kalau bukan dari hayal dan imajinasi? Hayal dan khayalan pada hakikatnya ialah kebohongan, meski niatnya mungkin baik.

Kita dapat simpulkan bahwa haramnya menggambar paras seorang nabi, bukan semata-mata sebab ditakutkan bahwa gambar akan menghina nabi, melainkan masalah keaslian dan kejujuran gambar itu sendiri. Bahwa tak ada kebenaran dalam gambar itu dan gambar itu bukan gambar nabi.

Seharusnya masalah ini juga berlaku untuk para shahabat nabi, para tabi’in dan atba’ut tabiin. Mengingat keagungan dan ketinggian kedudukan mereka dalam agama ini.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Kontemporer

advertisements

Abu Haidar 2018 - Contact - Privacy Policy