Haruskah Kita Cukup Hanya dengan Syarat Sholeh?

Haruskah Kita Cukup Hanya dengan Syarat Sholeh?

Assalamu’alaikum wr wb

Ana seorang perempuan, nan cukup lama mencoba mempelajari Islam secara kaffah. Awalnya ana seorang nan jahil, dan suka gonta-ganti pacar. Maklum ana memang dikaruniai hampir segalanya, kecantikan, kecerdasan, dan kekayaan.

Ana akui proses buat menjalani Islam dengan syar’i cukup sulit, terutama dalam hal mencari jodoh. Awalnya ana sempat merasa tak mungkin kalo ana dapat menerima seorang ihwan nan belum ana kenal, dan tanpa pacaran, ana akan menerimanya asalkan ia sholeh. Dengan keyakinan nan coba kupaksakan, akhirnya ana mencoba buat menjalani proses ta’aruf.

Dari biodata nan ana terima secara syar’i tak ada alasan buat menolaknya, dia sholeh, berakhlak baik, dan dari keluarga baik-baik pula. Tapi setelah berjumpa dengan orangnya, ana gak tahu apakah ini subyektifitas atau bagaimana. Jujur ana sempat syok melihat tampangnya, sebenarnya secara generik tak dapat dikatakan jelek, tapi ana tak dapat menyukainya, mungkin sebab dulu-dulunya mantan ana cakep-cakep. Menyedihkan memang jika itu nan menjadi alasan.

Tapi sebenarnya ana juga tak konfiden dengan sifatnya nan pendiam dan cenderung kaku, dan ana merasa tak dapat cocok dengannya. Ana sekarang menjadi trauma, apakah memang iman ana nan masih lemah, dan belum siap, atau memang ana tak sanggup buat menjalani Islam dengan tuntunan syariah nan ketat.

Mohon masukannya, jazakillah…

Wassalamualaikum wr wb

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Mbak Vivi nan sedang bingung,

Tentu memang membingungkan ya, situasi nan sedang mbak alami saat ini. Saya pun ikut merasakannya juga. Dan perasaan seperti sebenarnya manusiawi dan wajar, apalagi mengingat keadaan sosial mbak Vivi selama ini agak berbeda. Tentu bukan sebuah kesalahan kalau muncul perasaan asing, bahkan sampai syok melihat calon nan diajukan.

Yang aku ketahui tentang hal-hal seperti itu dalam agama Islam, masih ditolelir dan dibenarkan dalam kasus-kasus tertentu. Misalnya, dahulu ada seorang wanita shahabiyah nan merasa kurang cocok dengan orang nan dijodohkan kepadanya. Kalau tak salah namanya ialah Zainab ra.

Beliau ini syahdan dijodohkan oleh nabi SAW buat diperistri oleh Zaid, anak angkat nabi sendiri. Zainab ialah seorang wanita terhormat, keturunan ningrat dan kaya. Sedangkan Zaid ialah seorang budak nan kemudian dibebaskan. Secara status sosial, ada jurang disparitas nan sangat lebar tentunya.

Akhirnya, kisah rumah tangga mereka berakhir dan Allah SWT memerintahkan nabi Muhammad SAW buat menikahi Zainab nan telah menjadi janda.

Mbak dapat bayangkan, bahkan di kalangan para shahabat nabi nan mulia itu, tetap saja dimungkinkan adanya rasa tak cocok antara sepasang suami isteri. Dan alasannya pun sederhana, yaitu sebab adanya disparitas kelas sosial nan sangat lebar antara keduanya. Dan keadaan seperti ini diakomodir serta mendapatkan

Sepenggal kisah di atas tentunya bukan sebuah legitimasi bahwa kita boleh seenaknya menilai orang semata-mata sebab status sosialnya.

Tetapi sebelum memutuskan, mengapa tak dilakukan dulu proses buat mengenal dari sisi lainnya. Mungkin memang tampangnya kurang menarik, terutama dibandingkan dengan ‘para mantan’ dahulu. Akan tetapi, tentu pertimbangannya kan bukan hanya tampang saja. Siapa tahu dia juga punya sisi nan lebih, nan tak dimiliki oleh orang lain.

Jadi sebaiknya jangan langsung ditolak, tetapi juga jangan langsung diterima. Pikirkan terlebih dahulu baik-baik. Menunda bukan berarti menolak. Dan jangan lupa buat berkonsultasi kepada ayah dan ibu. Biar bagaimana pun mereka ialah orang nan paling berjasa kepada kita. Juga konsultasi kepada orang-orang nan sudah punya pengalaman banyak dalam hal berumah tangga.

Kalau calon Anda itu punya niat kuat, persilahkan saja buat berkenalan dengan mahram anda. Biar nanti dapat dikorek lebih jauh informasi dan detail-detail tentang dirinya.

Dan jangan lupa berdoa serta minta petunjuk dari Allah SWT. Sebab Dia ialah tuhan nan membolak-balik isi hati seseorang. Suka dan tak suka, datang dari-Nya.

Semoga kita tetap berada dalam lindungan-Nya, amien.

Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

Konsultasi

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy