Hati-hati Menjaga Lisan

Hati-hati Menjaga Lisan

Ada satu masalah nan mendera sebuah keluarga. Masalah nan kemudian diketahui oleh keluarga besar mereka. Tahun berganti masalah dalam keluarga tersebut belum terpecahkan.

Suatu ketika salah satu saudara mereka menikahkan anaknya. Kemudian ibu dan anak dari keluarga itu pergi menghadiri undangan tersebut bersama dengan saudara-saudara mereka nan lain. Sang anak terpisah dari ibunya, sebab ibunya berada di mobil nan berbeda dengannya.

Di tengah perjalanan, sang anak mendapat cercaan dari sepupunya. Secara tak langsung si sepupu mengatakan hal-hal nan menjelek-jelekkan keluarganya. Mengatakan ini dan itu nan menurut si anak tak seharusnya dikatakan. Sang anak merasa sangat terpukul mendengar kata-kata nan keluar dari mulut sepupunya. Ia merasa tanpa dikatakan pun keluarga besar mereka tahu permasalahan keluarganya, janganlah pula ditambah-tambahi dengan komentar-komentar nan cukup menyakitkan.
Setitik airmatanya mengalir. Ingin rasanya dia pergi, tapi sekarang ia sedang dalam perjalanan, dan itu tidak mungkin. Saat itu lirih hatinya berkata:

“Ya Allah, Engkau tahu bagaimana terlukanya hati ini mendengar komentar-komentarnya. Andai saja Ya Alllah, andai saja ia merasakan apa nan saya dan keluargaku rasakan. Andai ia mengalami masalah nan sama dengan keluargaku, Ya Allah… Mungkin ia tak akan berkata seperti itu”

Kemudian ia hapus airmatanya, nan walaupun ia mencoba menahannya tetap saja keluar. Ia tidak ingin jika Sang Ibu melihatnya menangis. Tak mau menambah lagi beban Ibunya. Sepanjang perjalanan ia mencoba menutup telinganya rapat-rapat agar tak mendengar kata-kata sepupunya. Peristiwa dalam perjalanan itu ia simpan sendiri.

Tahun berganti, si anak telah lupa kejadian itu. Sepupunya pun sekarang telah berkeluarga. Hingga satu ketika ia kedatangan sepupunya nan lain, nan tidak lain ialah adik dari sepupunya tersebut. Ia mengeluhkan pada si anak kelakuan kakaknya nan dinilainya terlalu kelewat batas. Ternyata saat ini sang sepupu mendapat masalah nan sama dengan masalah nan dialami keluarganya bertahun-tahun nan lalu.

Si anak teringat akan kejadian beberapa tahun silam. Ia pun teringat kembali jeritan hatinya saat itu. Ia merenung, apakah masalah nan menimpa sepupunya ialah sebab doanya waktu itu? Doa nan tidak sengaja terlantun dari bibirnya…

“Ya Allah, saya tak benar-benar menginginkan masalah nan ada pada keluargaku dialami juga oleh saudara-saudaraku nan lain. Aku tak benar-benar berniat mendoakan sepupuku seperti itu, sama sekali tak Ya Allah… Saat itu saya hanya menyuarakan jerit hatiku. Dan sama sekali tidak menginginkan hal itu akan terwujud…” ucap si anak lirih.

* * *

Mungkin kita telah lupa apa nan pernah kita lakukan dan apa nan pernah kita ucapkan. Mungkin perbuatan kita beberapa waktu nan lalu telah melukai banyak pihak. Mungkin saja diluar sana ada banyak “hati” nan begitu jelas merekam setiap kebaikan dan keburukan nan kita lakukan.

Cobalah bertanya pada hati masing-masing, berapa banyak kebaikan nan telah kita lakukan? Berapa banyak pula keburukan nan telah kita lakukan? Bahkan mungkin saja keburukan nan kita lakukan lebih banyak dari kebaikan nan telah kita lakukan. Hingga saking banyaknya kita tidak dapat menghitung berapa hati nan telah kita lukai. Boleh jadi masalah atau musibah nan menimpa kita ialah sebab doa dari saudara-saudara kita nan pernah kita zalimi.

Doa orang nan terzalimi cepat diijabah Allah. Cepat dikabulkan. Begitu sering kita mendengar kata-kata itu. Rasulullah pernah mengingatkan buat berhati-hati menjaga lisan. Karena lisan jauh, jauh lebih tajam dibandingkan pedang. Luka sebab pedang bisa disembuhkan dengan pengobatan nan benar. Sedangkan luka sebab lisan akan terus terkenang. Dan benarlah Rasulllah, bahwa banyak orang nan akan celaka sebab tidak dapat menjaga lisannya.
Keselamatan seseorang terletak dalam pemeliharaan lidahnya.

Semoga kita mampu menjaga lisan-lisan kita, agar tidak menyakiti orang-orang nan ada di sekitar kita. Semoga kita termasuk orang-orang nan bisa menjaga lisan-lisan ini agar tak melukai saudaranya sendiri.

“Siapa nan lebih baik perkataannya daripada orang nan menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shalih dan berkata, “ Sesungguhnya saya termasuk orang-orang nan berserah diri (muslim).” (QS. Al Fushilat : 33)

advertisements

Abu Haidar 2018 - Contact - Privacy Policy