How Can They Come to Germany? (2)

How Can They Come to Germany? (2)

Uday dari India. Saya langsung menanyakan apakah dia dari Bangalore atau Madras, maka ia menjawab tidak. Kedua kota nan aku sebutkan memang loka institut ternama di India. Teman saya, Reeshav, nan dahulu melakukan internship di group penelitian Prof. Peinke, berasal dari institut teknologi di Madras. Ia juga mengenal beberapa nama profesor nan menjadi penulis paper nan menjadi surat keterangan saya, nan juga ialah profesor di universitasnya.

Uday menceritakan bahwa ia berasal dari daerah nan tak begitu dikenal di India. Sekolah menengah dan perguruan tingginya pun bukan termasuk kelompok sekolah top di India. Ia hanya katakan bahwa ia berminat dengan bidang nan ditekuninya saat ini dan sempat bekerja di India pada bidang ini, hingga kemudian dapat menjalin kontak dengan profesor di Forschungszentrum Juelich buat mengambil PhD.

Bidang garapan Uday juga mirip dengan Ameena dan Gangga, bidang protein. Bedanya, Uday ini menekuni kristalografi. Ketika berjumpa di stasiun kereta Dueren, kami sempat lama mengobrol mengenai situasi masing-masing negeri kami, nan mau tak mau kemudian juga menyentuh masalah korupsi nan memang layaknya penyakit nan malah disenangi oleh sang pengidap. Padahal penyakit ini ialah penyakit mematikan nan membuat pengidapnya sakit di global dan ketika para pengidap ini kemudian tersadarkan bahwa ternyata mereka juga harus hayati lagi buat mempertanggungjawabkan konduite mereka pada hayati nan sebelumnya, maka tak lain nan mereka dapatkan ialah rasa sakit pula, hanya saja rasa sakit ini tak akan berakhir dengan kematian. Saya pertama kali mengenal Uday juga ketika dalam bis menuju institut.

Thomas, teman aku dari Kenya. Ia sedang mengambil PhD di Kenya dan mendapat kesempatan selama 6 bulan buat melengkapi penelitiannya di Forschungszentrum Juelich. Ketika berjumpa saya, ia sering mengutarakan rasa penasarannya buat melihat tambang batu bara terbesar di dekat Juelich. Saya katakan padanya bahwa aku tak tahu letak pastinya, sebab aku hanya pernah melihat area pertambangan itu dari jalan tol. Saya hanya menyarankannya buat melihat letak area pertambangan itu di googlemap.

Sebelum mengenal Thomas, aku sudah mengenali sosoknya ketika pernah melihatnya berjalan-jalan keliling kota Juelich sambil membawa peta. Waktu itu aku di dalam bis. Yang terlintas di benak aku ia ialah orang baru di forschungszentrum. Thomas ini memiliki kemauan luar biasa dalam mempelajari bahasa Jerman. Ia membeli kamus besar dan buku pedoman berbahasa Jerman sehari-hari. Ia katakan bahwa ia menargetkan buat mengetahui makna dari 2000 kata dalam bahasa Jerman, selama ia menetap di Juelich. Ketika aku tanyakan apakah dia menghafal kamus, maka ia menjawab tentu bukan begitu caranya.

Vishwajid dari India nan waktu itu juga duduk bersama kami di dalam bis hanya tertawa mendengar pertanyaan aku sambil bercanda bahwa Thomas mungkin sudah hafal kata-kata berawalan abjad A dalam kamus bahasa Jerman. Ketika kami di dalam bis, dan melihat kata-kata dalam bahasa Jerman selama perjalanan, Thomas sering mengatakan artinya pada saya, berikut pengucapannya dalam bahasa Jerman. Ia katakan bahwa melihat kata-kata ketika sedang jalan-jalan dan kemudian melihat artinya di kamus membuatnya lebih cepat mengenal kata-kata dalam bahasa Jerman dan lebih mudah diingat. Tetapi ia juga mengeluhkan kesulitan dalam hal pengucapan. Bagi Thomas dan mereka nan bahasa ibu mereka ialah bahasa Inggris, mengucapkan kata-kata dalam bahasa Jerman memang perlu penyesuaian, sebab pengucapan nan berbeda atas beberapa huruf dari kedua bahasa ini.

Ketika mengetahui aku tinggal di desa, Thomas langsung tertarik ingin melihat desa saya. Rasa ingin tahunya pun terjawab ketika kami bersama-sama ke desa saya. Ia katakan bahwa sungai nan ada di dekat desa aku termasuk besar baginya, sambil membandingkan dengan sungai Rhein di Koeln. Sempat ia berpikir mungkin saja sungai di desa aku ini juga anak sungai Rhein, aku pun hanya tersenyum menjawab tak tahu. Kami sempat menikmati kue protesis Frau Weiergraeber. Hari sebelumnya aku sudah mengatakan kepada Frau Weiergraeber bahwa ada teman aku dari institut nan akan mengunjungi kamar aku dan desa kami ini.

Thomas juga sempat berbelanja di supermarket besar di Linnich, kota terdekat dari Flossdorf. Ia katakan bahwa daging di supermarket ini lebih segar ketimbang daging di supermarket nan pernah ia bisa dari supermarket di Juelich. Ketika kemudian berjumpa lagi dengannya, ia sempat mangatakan bahwa kadang-kadang ia juga berbelanja ke supermarket di Linnich ini. Ya, Guest house Forschungszentrum Juelich nan ia tempati memang dekat dari halte kereta nan dapat mencapai Linnich. Saat ini pekerjaan Thomas di forschungszentrum ialah mengerjakan monocrystalline photovoltaic cell , salah satu pembangkit energi alternatif nan cocok buat diterapkan di negara-negara afrika. Ketika aku tanyakan apakah ini kali pertama ia ke eropa, maka Thomas mengatakan bahwa sebelumnya ia sudah pernah ke Belanda buat menghadiri suatu konferensi internasional.

Dari Thomas, aku juga sempat belajar membuat roti khas Kenya nan bagi aku sendiri mirip dengan roti prata di Tanjung Pinang. Frau Weiergraeber terheran-heran ketika suatu kali melihat aku di dapur, dengan tepung nan agak berserakan sedang mempraktekkan cara membuat roti nan diajarkan Thomas. Ketika roti protesis aku sedikit keras dan kaku, maka Frau Weiergraeber hanya berkomentar, " Dia melakukannya setiap hari bertahun-tahun, sedangkan kamu baru satu hari.“

Kisah

advertisements

Abu Haidar 2018 - Contact - Privacy Policy