How Can They Come to Germany? (4)

How Can They Come to Germany? (4)

Pertama kali melihatnya di Bahnhof Dueren, aku mengira jangan-jangan ia orang Indonesia nan sedang melakukan penelitian juga di Forschungszentrum Juelich. Bila berjumpa orang muda di kota Juelich dengan pembawaan layaknya kalangan terdidik, maka besar kemungkinan orang nan kita temui itu ialah peneliti di Forschungszentrum Juelich.

Ini pula nan menjadi alasan aku mengambil konklusi dini ketika melihat orang ini di stasiun kereta Dueren sedang menunggu kereta khas nan hanya mengarah ke Juelich. Sekilas paras dan kulitnya amat mirip dengan aku dan orang Indonesia kebanyakan. Waktu itu dia sedang di dalam toko buku melihat-lihat sambil membawa tas gitar cukup besar di punggungnya.

Ketika aku berjumpa dengan orang ini di ZOB Juelich, ternyata Uday mengenalnya. Waktu itu baru Uday dan aku nan sedang menunggu bis. Uday pun lalu mengajaknya mengobrol dan aku pun ikut dalam dialog mereka. Maka ketika pertama kali berbicara dengannya, aku langsung menanyakan nama dan asalnya.

Cito ialah namanya dan Madagaskar ialah asalnya. Uday sempat bercanda dengan menyebut namanya sebagai cheetah. Ia ialah mahasiswa PhD di Forschungszentrum Juelich dalam bidang nuklir. Dari pembicaraan dengannya, aku merasa ia lebih mengerjakan fisika nuklir layaknya Vishwajid, teman kami dari India, nan kemudian juga datang ke ZOB itu, ketimbang kimia nuklir seperti nan ditekuni Prof. Qaim.

Ketika pertama kali mendengar asalnya dari Madagaskar, aku langsung berkomentar dan bertanya bahwa tempatnya jauh dari Jerman, dan bagaimana dia dapat ke sini. Sebenarnya pertanyaan aku itu lebih dimaksudkan sebagai keheranan sebab aku belum pernah mengenal bahwa Madagaskar termasuk di antara negara-negara berkembang nan cukup dikenal sebab minatnya terhadap global penelitian. Ia katakan bahwa ia menyelesaikan masternya di Madagaskar tetapi dalam kolaborasi dengan salah satu universitas di Swiss.

Sehingga ketika melanjutkan ke PhD, ia memilih negara tetangga Swiss ini. Cito juga berkomentar ketika mengetahui aku dari Indonesia. Ia katakan bahwa di Madagaskar bagian tengah, perawakan orang-orangnya mirip dengan orang-orang dari Indonesia, Malaysia, dan Philipina. Ia katakan bahwa dahulu orang-orang ini berasal dari suatu loka dan kemudian terpisah, dan salah satu dari kelompok ini kemudian menetap di Madagaskar. Hal ini pun kemudian diiyakan oleh saudara aku Mustafa dari Kamerun, ketika aku menginap di tempatnya dalam kunjungan ke Oldenburg buat sidang tesis saya.

Sebenarnya kekaguman aku nan serupa terhadap orang-orang ini nan berasal dari pelosok global dan saat ini mampu duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan bangsa nan sudah lebih dulu dikenal sebagai penghasil teknologi masa kini, pernah juga aku rasakan ketika pertama kali aku berjumpa teman-teman aku di awal perkuliahan di Indonesia. Saya menemukan banyak teman-teman aku nan berbakat berasal justru bukan dari kota-kota besar di Indonesia, tetapi dari daerah-daerah nan aku sendiri sulit membedakan apakah daerah mereka itu ialah kabupaten, kecamatan, atau desa.

Ini membuat aku semakin konfiden bahwa kualitas pendidikan itu bukan ditentukan dari loka pendidikan nan ikut menjadi besar sebab letaknya di kota-kota besar, tetapi memang murni hanya bagaimana mereka nan terlibat dalam pendidikan memahami tujuan luhur pendidikan yaitu ketika manusia mampu mengenal fitrahnya.

Fitrah manusia ialah memiliki rasa ingin tahu, dan bila rasa ingin tahu ini dilayani dengan cara-cara nan sederhana namun mengena, maka manusia nan dibentuk tak lain ialah manusia nan amat menghargai ilmu pengetahuan dan tentu saja manusia nan ketika semakin banyak nan dipelajarinya, maka nan muncul bukan rasa tinggi sebab banyaknya nan telah ia ketahui, tetapi justru rasa rendah sebab sadar bahwa begitu banyaknya nan masih belum ia ketahui. Dan bagi seorang muslim, ketika ini sudah dirasakan, maka tentu saja kerendahan ini ialah pengakuan seorang hamba betapa tidaklah nan ia ketahui melainkan apa nan telah diberi-Nya, dan tak lah nan ia ketahui itu melainkan amat sedikit dari keluasan pengetahuan-Nya.

Rasanya tak mungkin sekolah-sekolah di daerah dapat bersaing dengan sekolah-sekolah di kota besar dalam hal infrasrtukturnya. Niscaya ada alasan lain dari keberhasilan para siswa sekolah-sekolah daerah buat melanjutkan pendidikan mereka ke perguruan tinggi nan menjadi dambaan kebanyakan pelajar. Sampai sekarang aku tak habis pikir mengapa masih saja ada uang bangunan buat masuk sekolah. Apa hubungannya bangunan dengan pendidikan. Dan kalaupun ada hubungan, seberapa dekat interaksi itu.

Sungguh mengherankan, ketika ingin membangun pendidikan, maka nan terpikir ialah membangun tembok-tembok. Apakah manusia memang dibangun dengan tembok-tembok, atap, dinding, lantai, dan pagar? Rasanya kalaupun ada uang nan patut dituntut dari peserta didik, nan pantas hanya uang buku atau uang perpustakaan. Apalah artinya satu juta buat semen, bata, dan pasir. Tetapi sungguh amat berarti satu juta itu buat buku-buku, nan dipergunakan buat melengkapi koleksi perpustakaan dan menyediakan semakin banyak perbendaharaan ilmu bagi para penuntut ilmu. Rasanya buat nan satu ini, aku tak perlu mengulangi pertanyaan sebelumnya mengenai apa hubungannya dengan pendidikan.

Kisah

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy