Hubungan Tidak Direstui Orang Tua

Hubungan Tidak Direstui Orang Tua

assalamu`alaikum wr wb

Ibu Siti nan terhormat, saat ini aku mempunyai masalah nan lumayan rumit. Saat ini aku membina interaksi dengan seorang teman wanita saya, adapun niat kami membina interaksi ini ialah sebab mengharapkan ridho  4JJI. Saat aku mengutarakan niat aku buat menikah kepada orang tua dari pihak perempuan, mereka tak merestui interaksi kami dengan alasan nan berhubungan dengan adat. Saat ini kakak dari teman wanita aku ini bersuamikan laki – laki nan desanya sama dengan aku ( hal inilah nan menjadi penyebab dari tak direstuinya interaksi kami, sebab menurut mereka bila dua orang bersaudara bersuamikan pria dari satu desa nan sama, salah satu dari mereka akan mengalami kegagalan dalam membina rumah tangga ).

Menurut ibu, apa nan seharusnya aku lakukan dengan situasi nan seperti ini ?

hormat saya,

Sunawan

 Ngawi

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,

(Mohon maaf jawaban kami sampaikan buat pertanyaan nan mirip nan disampaikan oleh Sdr. Joko nan terhambat oleh orangtuanya dan sekarang merasa gamang apa nan harus dilakukan sebab bayangan gadis itu selalu mengganggunya)
Sdr. Sunawan dan Joko nan sholih,
Saya salut pada Anda nan berkeinginan menikah dengan seseorang nan sudah menjadi pilihan Anda. Namun ternyata jalan tak lah mulus, sebab belum mendapat lampu hijau dari orang tua dan calon mertua. Dalam kasus Sdr Sunawan hambatannya ialah adapt istiadat, padahal seorang muslim tak boleh berpegang pada adat jika adat tersebut bertentangan dengan syariat-Nya. Untuk Sdr Joko, sayang Anda tak menjelaskan mengapa mereka belum merestui. Sdr Sunawan dan Sdr. Joko, aku bisa memahami bahwa tak selalu mudah melobi orang tua. Jenjang pernikahan memang termin nan perlu dipersiapkan jauh-jauh hari, kadang banyak tantangan, meskipun kadang mulus dan begitu mudah. Diperlukan persiapan internal maupun eksternal bagi individu nan akan memasuki jenjang ini. Persiapan internal antara lain menyangkut sejauhmana individu memahami tentang hakikat pernikahan, sejauhmana mental menghadapi segala persoalan nan akan dihadapi, juga menghadapi karakter pasangan, persiapan ekonomi bagi laki-laki sebab ia akan berkewajiban memberi nafkah keluarga, pengetahuan tentang pendidikan anak, bagaimana menjadi anggota masyarakat, dsb. Adapun persiapan eksternal antara lain ialah penyiapan keluarga besar, dalam hal ini sebab pernikahan juga menyatukan dua keluarga dengan latar belakang nan mungkin tak sama. Apalagi nanti seorang laki-laki harus bisa memimpin rumah tangga nan dibangunnya agar menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah,sehingga anggota keluarga harus dididik dan diarahkan. Ibarat kapal, maka suami akan menjadi nakhoda ke mana kapal itu akan berlayar.
”…Seorang suami ialah penanggungjawab atas keluarganya; ia dimintai tanggungjawab atas kepemimpinannya.” (HR Ahmad, Abu Dawud & Tirmidzi dari Ibnu umar ra).

Ketika ada kendala dari orangtua atau mertua, tentulah harus meloby dengan baik-baik terlebih dahulu; dsinilah seninya, sebab tak setiap kasus cocok dengan pendekatan nan sama, setiap orang tua (ayah maupun ibu) mempunyai ciri nan khas. Dalam kasus Sdr Sunawan maka gadis tersebut terutama nan harus meloby orang tuanya. Ada keluarga nan pengambil keputusan primer pada Ayah, sehingga loby primer ialah pada Ayah. Tetapi tidak sporadis suara kedua orang tua sangat menentukan. Memang jika restu tersebut tak kunjung datang tanpa alasan nan bisa diterima secara syar’iy, Anda bisa menikah asal ada wali dari pihak wanita. Namun dalam budaya Timur nan masih kental sistem kekeluargaannya hal ini seringkali menjadi masalah nan berkepanjangan. Bagaimanapun dalam pernikahan pertimbangan da’awiy sinkron prinsip-prinsip da’wah juga perlu dipikirkan. Katakanlah misalnya menikah tanpa persetujuan orang tua, maka kedua keluarga menjadi menyimpan konflik, atau minim ada perasaan tak nyaman ketika meangsungkan aqad. Mengapa? sebab kedua keluarga tidak bisa menyatu, tentu tak lengkap rasanya ya..tanpa kehadiran orangtua, nantinya mungkin interaksi jadi renggang; hal ini secara da’wah jadi merugikan, sebab justru memutus silaturrahim, padahal kita mestinya dengan pernikahan itu akan memperluas interaksi antar anggota masyarakat. Memang pada kasus eksklusif ada juga orang tua nan semula tak menyetujui setelah datangnya cucu juga bisa berubah sikap menjadi merestui. Namun saran aku Sdr Sunawan dan Sdr Joko, sembari menunggu berhasilnya loby Anda, isilah waktu dengan berbagai hal nan positif sambil terus melakukan pendekatan ke orang tua maupun ke orang tua gadis tersebut, hal-hal apa nan dia sukai tentang calon menantu hendaklah Anda ketahui, jika ada nan belum sinkron syariat arahkan orang tua pelan-pelan. Beri buku-buku agama atau mintalah keluarga dekat nan bisa membantu memahamkan. Sdr Joko…jika Anda selalu teringat bayangan gadis tersebut, mungkin sebab waktu Anda kosong, syaitanpun mengganggu…nah…isi waktu luang dengan kegiatan nan positif. Bergaullah secara wajar dengan berbagai kalangan agar pergaulan Anda luas. Jangan hanya pada gadis tersebut Anda berteman sehingga pikiran Anda tidakselalu terpancang pada dia. Bukankah Anda juga belum mengutarakan keinginan dan belum tahu pula reaksinya. Sdr. Sunawan dan Sdr Joko, tingkatkan pemahaman agama Anda sehingga kesholihan Anda juga menyebabkan datangnya pasangan nan sekufu dengan Anda, yakni gadis sholehah idaman para pria. Selalu gantungkan asa Anda hanya pada Allah swt, memohon secara spesifik pada Allah agar dibukakan hati orang tua maupun calon mertua. Jika gadis tersebut memang jodoh Anda semoga Dia memberi kemudahan, namun jika ternyata memang gadis tersebut bukan jodoh Anda, maka Anda harus siap menerima kenyatan. Demikian nan bisa aku sarankan semoga Anda senantiasa optimis menghadapi hayati ke depan.
Wallahu a’lam bissshawab.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Ibu Urba

Konsultasi

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy