Hukum Hadiah 'Taruhan' dalam Olahraga

Hukum Hadiah 'Taruhan' dalam Olahraga

Assaalamu’alaikum Ustadz.

Saya sangat getol dengan batminton, ada beberapa pertanyaan nan terkait dengan kegemaran aku tersebut, diantaranya:

1. Yang kalah membayar 3 kaleng minuman, 1 buat wasit 2 buat pemain nan menang. bagaimana hukumnya. (kadang2 nan kalah juga membayar jumlah kok nan dipakai)

2. Sekarang berkembang lagi, sebab tiap indifidu butuh patner nan tangguh dalam bermain, maka kami menggundang pemain nan tentunya kami bayar, hal tersebut juga kami bebankan kepada nan kalah. bagiamana juga hukumnya.

menurut aku uang tersebut halal, sebab aku bukan mengadu nasib seperti judi kartu dll. sebab disitu ada usaha aku buat selalu menang dan aku butuh uang tersebut buat makan minumnya dan membayar instruktur aku dan bayar lapangan. Kalau memang tak halal harus diapakan uang tersebut.

Terimakasih Ustadz atas perhatianya.

mohon jawabannya. agar hati aku tak gundah.

Pardianto

Waalaikumussalam Wr Wb

Saudara Pardianto nan dirahmati Allah swt

Pada dasarnya musabaqoh (perlombaan) merupakan perkara nan disyariatkan manakala ia bisa membantunya didalam berjihad di jalan Allah swt, baik jihad dengan ilmu maupun jihad dengan kekuatan fisiknya ; seperti : perlombaan lari, berkuda, bergulat, sepak bola, bulu tangkis atau olah raga pada umumnya.

Jumhur ulama membolehkan perlombaan nan tak menyediakan hadiah bagi pemenangnya sebagaimana riwayat Abu Daud dari Aisyah bahwa dirinya bersama Nabi saw saat safar (bepergian). Aisyah berkata,”Aku mendahului beliau saw dan saya pun mengalahkan beliau saw dengan berlari. Tatkala badanku mulai gemuk saya mencoba mendahului beliau saw namun beliau saw mengalahkanku.’ Beliau saw bersabda,’Inilah balasanku.’

Adapun apa nan Anda dan teman-teman Anda lakukan didalam permainan bulu tangkis dengan mengharuskan pihak nan kalah membeli 2 kaleng minuman buat pihak nan menang dan 1 kaleng minuman buat wasit atau pihak nan kalah membayar pemain tamu nan ikut bermain maka kedua jenis tersebut termasuk kedalam perjudian nan diharamkan dilihat dari dua sisi :

1. Adanya dua kemungkinan yaitu mendapatkan laba atau kerugian pada setiap pemain. Jika dirinya menang maka ia akan mendapatkan laba yaitu 2 kaleng minuman dari pihak nan kalah dan jika dirinya kalah maka dirinya akan membayarkan 2 kaleng minuman kepada pihak nan menang dan 1 kaleng kepada wasit. Para fuqaha berpendapat bahwa hadiah berupa taruhan nan diambil dari kedua pihak nan berlomba tidaklah diperbolehkan dan termasuk kedalam judi nan diharamkan sebab setiap dari kedua orang nan bertanding itu tidaklah luput dari untung atau rugi. (baca : Lomba Burung Berkicau)

2. Biaya pertandingan, seperti : memberikan 1 kaleng minuman kepada wasit, membayar pemain undangan, pelatih, sewa lapangan nan dibebankan kepada pihak atau pemain nan kalah maka ini juga termasuk judi nan diharamkan dan uang buat pembayaran tersebut termasuk suap. Markaz al Fatwa dalam fatwanya No. 45064 : “Para ulama berpendapat bahwa apabila pihak nan kalah didalam suatu pertandingan membayarkan biaya permainan maka ia ialah haram sebab bersifat boros dan menyia-nyiakan harta didalam pembelanjaannya pada suatu permainan dan perlombaan, meminta bayaran (dari phak nan kalah, pen) didalam suatu pertandingan ialah tansaksi nan batil sedangkan hasil nan diambil darinya termasuk kedalam bentuk suap, memakan harta dengan cara nan batil serta termasuk dosa besar dan perjudian nan diharamkan.

Jika memang uang nan didapat dari pertandingan seperti itu masih ada pada kalian saat ini maka kalian diharuskan mengembalikannya kepada teman-teman Anda nan kalah.

Jadi hendaklah Anda bertaubat kepada Allah swt lalu menyudahi dan tak mengulangi lagi bentuk pertandingan dengan model seperti itu dikarenakan adanya pelanggaran terhadap anggaran Allah swt. Bermainlah sebagaimana tujuan dari olah raga itu sendiri yaitu buat menambah kebugaran, kesehatan dan kekuatan nan bisa menunjang ibadah-ibadah Anda kepada Allah swt. Jika memang kalian membutuhkan pembiayaan permainan seperti : makan, minum, sewa lapangan, membayar instruktur atau partner undangan maka ambilah dari sedekah mereka nan ikut bermain atau donatur akan tetapi jangan dibebankan kepada nan kalah.

Wallahu A’lam

Ustadz menjawab

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy