Hukum Haji dan Umroh dari Pinjaman di Bank

Hukum Haji dan Umroh dari Pinjaman di Bank

assalamu’alaikum warahmatullah.

Ustad ana mau menanyakan apakah boleh seseorang pergi haji dan umroh dengan menggunakan pinjaman bank bagi PNS atau pegawai partikelir nan memiliki gaji bulanan nan tetap? atas penjelasannya ana mengucapkan Jazakallahu.

Waalaikumussalam Wr Wb

Saudara Abu Shabir nan dimuliakan Allah swt

Diantara syarat diwajibkannya seseorang pergi haji ialah memiliki kesanggupan buat berangkat ke sana. Seorang nan berutang pada dasarnya termasuk orang nan tak memiliki kesanggupan kecuali setelah dirinya melunasi utang-utang tersebut atau telah mendapatkan toleransi dari orang atau pihak nan memberikannya pinjaman akan penundaan pembayaran utang tersebut hingga setelah penunaian haji.

firman Allah swt :

وَلِلّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً

Artinya : “Mengerjakan haji ialah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu (bagi) orang nan sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS. Al Aimron : 97)

Diriwayatkan oleh al Baihaqi dari Abdullah bin Abi Aufa berkata,”Aku bertanya kepada Rasulullah saw tentang seorang nan belum menunaikan haji atau berutang buat haji? Beliau saw bersabda,’Tidak.” (HR. Baihaqi)

Demikian pula utang nan pelunasannya baru terjadi pada masa nan akan datang dan pembayarannya diambil dari mutilasi gaji atau pernghasilan tetapnya secara rutin setiap bulannya maka pada dasarnya ia bukanlah penghalang baginya buat berhaji. Baik utang itu tak terkait dengan ONH nya, seperti : cicilan kendaraan, cicilan rumah atau lainnya maupun utang buat ONH itu sendiri.

Akan tetapi jika seseorang buat biaya pergi hajinya melakukan pinjaman dari bank konvensional nan menerapkan praktek ribawi maka hal itu termasuk perkara nan tak diperbolehkan meskipun dia memiliki kesanggupan melakukan pembayaran per bulannya dari mutilasi gajinya.

Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir dia berkata, “Rasulullah saw melaknat pemakan riba, orang nan menyuruh makan riba, juru tulisnya dan saksi-saksinya.” Dia berkata, “Mereka semua sama.”

Dan apa nan dilakukannya itu termasuk tolong menolong atau bantu membantu dalam kemaksiatan dan dosa nan dilarang Allah swt.

وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُواْ اللّهَ

Artinya “ Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah.” (QS. Al Maidah : 2)

Wallahu Alam

Ustadz Sigit Pranowo

Bila ingin memiliki  karya beliau dari  kumpulan jawaban jawaban dari Ustadz Sigit Pranowo LC di Rubrik Ustadz Menjawab , silahkan kunjungi link ini :

Resensi Buku : Fiqh Pada masa ini nan membahas 100 Solusi Masalah Kehidupan…

Ustadz menjawab

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy