Hukum Isteri Yang Menampar Suaminya

Hukum Isteri Yang Menampar Suaminya

Assalamu Alaikum ustads….

ustad yg semoga slalu dirahmati Allah, aku punya pertanyaan tentang apakah hukum istri nan menampar suaminya….??? adakah hadits nan shahih mengatur ini??

sebelum dan sesudahnya aku ucapkan terima kasih.

wassalamu’alaikum wr wb…

Waalikumussalam Wr Wb

Saudara Alfakih ang dimuliakan Allah swt

Diantara kewajiban seorang istri kepada suaminya ialah menaatinya didalam perkara-perkara nan tak mengandung kemaksiatan terhadap Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana firman Allah swt :

فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلاَ تَبْغُواْ عَلَيْهِنَّ سَبِيلاً

Artinya : “jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan buat menyusahkannya.” (QS. An Nisaa : 34)

Diriwayatkan oleh Abu Daud dari Abu Hurairoh bahwa Rasulullah saw bersabda,”…Seandainya saya (dibolehkan) memerintahkan seseorang buat bersujud kepada seseorang lainnya pastilah saya perintahkan para istri buat bersujud kepada para suaminya dikarenakan hak nan diberikan Allah kepada para suami itu terhadap para istrinya.”

Didalam kitab “ash Shahihain” disebutkan dari Abu Hurairoh bahwa Rasulullah saw bersabda,”Jika seorang suami mengajak istrinya ke loka tidurnya lalu dia menolak ajakannya itu kemudian suaminya bermalam dalam keadaan marah terhadapnya maka para malaikat akan melaknatnya hingga pagi hari.”

Adapun ganjaran bagi seorang istri ang menaati suaminya didalam perkara-perkara nan bukan maksiat terhadap Allah dan Rasul-Nya ialah surga Allah swt, sebagaimana disebutkan didalam shahih Ibnu Hibban dari Abu Hurairoh bahwa Rasulullah saw bersabda,”Apabila seorang istri melaksanakan shalat lima waktu, berpuasa di bulan (Ramadhan), memelihara kemaluanya dan menaati suaminya maka akan masuk surga dari pintu surga mana saja nan dikehendakinya.”

Demikianlah ketinggian kedudukan sebuah ketaatan seorang istri kepada suaminya di sisi Allah swt. Sebaliknya diharamkan bagi seorang istri maksiat dan tak menaatinya didalam perkara-perkara nan tak mengandung kemaksiatan terhadap Allah dan Rasul-Nya, nan didalam istilah agama disebut dengan nusyuz.

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء بِمَا فَضَّلَ اللّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُواْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّهُ وَاللاَّتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ

Artina : “Kaum laki-laki itu ialah pemimpin bagi kaum wanita, oleh sebab Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian nan lain (wanita), dan sebab mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. karena itu maka wanita nan saleh, adalah nan taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tak ada, oleh sebab Allah telah memelihara (mereka). Dan wanita-wanita nan kamu khawatirkan nusyuznya, Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di loka tidur mereka, dan pukullah mereka.” (QS. An Nisaa : 34)

Tentang firman Allah swt :

وَاللاَّتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ

Artinya : “Dan wanita-wanita nan kamu khawatirkan nusyuznya.” (QS. An Nisaa : 34)

Ibnu Katsir mengatakan bahwa nusyuz berarti tinggi sedangkan wanita nan nasyiz (berbuat nusyuz) ialah wanita nan merasa lebih tinggi dari suaminya, mengabaikan perintahnya, berpaling darinya, murka terhadapnya. Dan setiap kali tampak oleh seorang suami tanda-tanda nusyuz pada diri istrinya maka hendaklah dia menasehatinya, mengancamnya dengan siksa Allah sebab maksiat terhadapnya. Sesungguhnya Allah swt telah menjadikan hak seorang suami ialah ditaati oleh istrinya dan haram bagi seorang istri maksiat terhadapnya dikarenakan kelebihannya terhadap dirinya. Sabda Rasulullah saw,”…Seandainya saya (dibolehkan) memerintahkan seseorang buat bersujud kepada seseorang pastilah saya perintahkan para istri buat bersujud kepada para suaminya dikarenakan hak nan diberikan Allah kepada para suami itu terhadap para istrinya.” (Tafsir al Qur’an al Azhim juz II hal 294)

Setiap perbuatan keluar dari ketaatan kepada suami atau maksiat terhadapnya ialah termasuk nusyuz nan diharamkan didalam islam. Begitu juga jika kemarahan terlebih lagi penamparan nan dilakukan seorang istri terhadap suaminya dikarenakan dirinya maksiat terhadap perintah-perintah suaminya didalam kerangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya maka perbuatan ini pun termasuk nusyuz dan penzhaliman terhadapnya.

Didalam sebuah hadits Qudsi disebutkan,”Wahai hamba-Ku sesungguhnya saya mengharamkan kezhaliman terhadap diri-Ku dan Aku menjadikannya haram diantara kalian maka janganlah kalian saling menzhalimi.” (HR. Muslim)

Hendaklah si suami melakukan tiga hal berikut, sebagaimana arahan Allah swt didalam firman-Na diatas :

1. Menasehatinya agar menaatinya dan tak maksiat terhadapnya. dan jika langkah ini tak sukses maka lakukan langkah kedua, yaitu :

2. Memisahkan loka tidurnya sebagai pertanda ketidakredoannya terhadap perlakuan jelek istrinya itu. Jika ini pun tak sukses maka lakukan langkah ketiga, yaitu :

3. Memukulnya dengan pukulan tak menyakitkan dan tak di wajahnya.

Dan dibolehkan bagi suaminya buat tak memberikan nafkah kepada istrinya itu hingga dirinya meninggalkan perbuatan nusyuznya.

Akan tetapi jika memang penamparan nan dilakukan seorang istri terhadap suaminya dikarenakan adanya kezhaliman suami terhadap dirinya, seperti : tak memberikan nafkah kepadanya atau tak memperlakukannya dengan baik maka tidaklah termasuk nusyuz namun termasuk tindakan melampaui batas didalam menuntut hak-haknya dan hendaklah dirinya beristighfar dan berlindung kepada Allah swt dari tipu daya setan lalu meminta maaf kepada suaminya atas perbuatannya itu. Sementara si suami tetap diwajibkan atasnya buat memenuhi hak-hak istrinya itu.

Wallahu A’lam

Ustadz menjawab

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy