Hukum Jual Beli Saham serta Trading Options dan Sekuritas

Hukum Jual Beli Saham serta Trading Options dan Sekuritas

Assalamu alaikum wr wb,

Ustadz, aku ingin menanyakan mengenai hukum transaksi jual beli saham dan trading options,  maupun trading sekuritas lainnya di bursa efek. 

Demikian pertanyaan dari aku dan mohon jawaban dari ustadz..

Wassalamu alaikum wr wb.


Wassalamu’alikum Wr.Wb.

Trading sebelum menjadi istilah dalam capital dan financial market dengan segala distorsinya dampak berbagai penyalahgunaan, substansinya ialah aktivitas jual beli atau bai’. Prinsip generik syariah dalam jual beli sebagaimana bisa disimpulkan dari pendapat para ulama dalam kitab-kitab fiqih seperti M. Rifa’i dalam Kifayatul Akhyar (184) dan Wahbah Az-Zuhaili dalam al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu yaitu:

  1. Pada dasarnya diperbolehkan transaksi jual beli sebagai salah satu wahana nan baik dalam mencari rezki. (QS.al-Baqarah:194, an-Nisa’:29)
  2. Barang ataupun instrumen nan diperjualbelikan itu harus halal sehingga dilarang menjualbelikan barang haram seperti miras, narkoba, kembang bank ribawi. (QS.Al-Maidah: 3, 90)
  3. Bermanfaat dan bermaslahat dengan adanya nilai guna bagi konsumen maupun pembeli serta tak membahayakan.
  4. Barang nan diperjualbelikan bisa diserahkan, baik secara langsung holistik maupun secara simbolis
  5. Barang nan diperjualbelikan harus jelas keadaannya, sifat-sifatnya, kualitasnya, jumlah dan satuannya dan ciri lainnya.
  6. Dilakukan proses “ijab qabul” baik dalam arti tradisionalnya maupun modern. seperti dalam paper trading nan menampilkan dokumen dagang berupa kertas maupun elektronic trading/ e-commerce nan menampilkan data komputer dan data elektronik lainnya (paperless trading). Kedua media tersebut substansinya menunjukkan sifat barang, mutu, jenis, agunan atas kebenaran data dan dokumen serta bukti kesepakatan transaksi (dealing).
  7. Transaksi dilangsungkan atas dasar saling sukarela (‘an taradhin), kesepahaman dan kejelasan. (QS. An-Nisa’:29)
  8. Tidak ada unsur penipuan maupun judi (gambling). (QS.al-Baqarah:278, al-Maidah: 90)
  9. Adil, jujur dan amanat (QS.al-Baqarah:278)
  10. Dalil generik transaksi jual-beli dalam Allah berfirman: “…dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…” (QS.al-Baqarah: 275). “Hai orang nan beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan nan batil, kecuali dengan dengan jalan perniagaan nan berlaku dengan suka sama suka di antara kamu,…” (QS. al-Nisa’ : 29). “Hai orang nan beriman! Penuhilah akad-akad itu…” (QS. al-Ma’idah : 1).“…kamu tak (boleh) menganiaya dan tak (pula) dianiaya” (QS. al-Baqarah: 279).

Dengan demikian, beberapa hal nan harus dipedomani dalam konteks ini adalah; menghindari unsur spekulasi nan cenderung bersifat maysir yaitu gambling (judi), data dan informasi komoditi jelas baik nan menyangkut satuannya, kualitasnya, kriteria, jenis dan sifat-sifatnya serta harga dan penyerahannya, nilai guna nan membawa maslahat dan tak membahayakan.

Secara ringkas bisa dikatakan bahwa transaksi jual beli surat berharga sebagai instrumen investasi sinkron atau tak sesuainya dengan syariah menyangkut tiga hal nan menjadi kriteria di pasar kapital syariah yakni 1. Investasi dengan cara tradingnya nan di antaranya dengan cara spekulasi nan gambling, 2. Investasi nan tak sinkron syariah dari segi struktur instrumennya, 3. Investasi nan tak sinkron syariah dari segi asset/operasional emiten nan bersangkutan. Salah satu indeks saham nan sinkron syariah dari aspek operasional emitennya terdaftar dalam Jakarta Islamic Index (JII) terdiri sekitar 30 saham termasuk diantaranya dalam kategori salah likuid dikenal sebagai LQ45 nan diperdagangkan di bursa imbas indonesia nan terdiri dari 45 saham pilihan dengan kriteria likuiditas perdagangan dan kapasitas pasar .

Sebelum membahas hukum trading sekuritas dan saham ada baiknya kita mereview beberapa hal nan terkait dengan pasar kapital diantaranya:

  • Surat Berharga Syariah atau Imbas Syariah ialah saham perusahaan nan dikategorikan syariah (JII), obligasi Syariah, Reksa Dana Syariah, Kontrak Investasi Kolektif Imbas Beragun Aset (KIK EBA) Syariah dan surat berharga lainnya nan sinkron dengan prinsip Syariah;
  • Informasi atau fakta material ialah informasi atau fakta krusial dan relevan mengenai peristiwa, kejadian, atau fakta nan bisa mempengaruhi harga imbas pada bursa imbas dan atau keputusan pemodal, calon pemodal atau Pihak lain nan berkepentingan atas informasi atau fakta tersebut;
  • KIK EBA Syariah ialah Kontrak Investasi Kolektif Imbas Beragun Asset nan Kontrak dan strukturnya sinkron dengan prinsip syariah.
  • Portofolio Imbas Syariah ialah kumpulan Imbas Syariah nan dimiliki oleh Pihak Investor;
  • Reksa Dana Syariah ialah Reksa Dana nan beroperasi menurut ketentuan dan prinsip Syari’ah Islam, baik dalam bentuk akad antara pemodal sebagai pemilik harta (sahib al-mal/rabb al-mal) dengan Manajer Investasi sebagai wakil shahib al-mal, maupun antara Manajer Investasi sebagai wakil shahib al-mal dengan pengguna investasi;
  • Transaksi Bursa ialah kontrak nan dibuat oleh Anggota Bursa Imbas sinkron dengan persyaratan nan ditentukan oleh Bursa Imbas mengenai jual beli Efek, pinjam meminjam Efek, atau kontrak lain mengenai Imbas atau harga Efek;
  • Unit Penyertaan ialah satuan ukuran nan menunjukkan bagian kepentingan setiap Pihak dalam portofolio investasi kolektif.

Kriteria Emiten Surat Berharga Syariah:

  1. Jenis usaha, produk dan jasa nan diberikan serta cara pengelolaan perusahaan Emiten tak boleh bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah.
  2. Jenis kegiatan usaha nan bertentangan dengan prinsip syariah antara lain ialah :
    1. Usaha perjudian dan permainan nan tergolong judi atau perdagangan nan dilarang;
    2. Usaha forum keuangan konvensional (ribawi), termasuk perbankan dan asuransi konvensional;
    3. Usaha nan memproduksi, mendistribusi, serta memperdagangkan makanan dan minuman nan haram;
    4. Usaha nan memproduksi, mendistribusi, dan/atau menyediakan barang-barang ataupun jasa nan merusak moral dan bersifat mudarat.
  3. Emiten Imbas Syariah wajib menandatangani dan memenuhi ketentuan akad nan sinkron dengan syariah atas Imbas Syariah nan dikeluarkan.

Kriteria Surat Berharga Syariah

Efek Syariah ialah surat berharga nan akad maupun cara penerbitannya tak melanggar prinsip-prinsip syariah.

Jenis Surat Berharga Syariah

  1. Saham ialah bukti kepemilikan atas suatu perusahaan nan memenuhi kriteria syariah
  2. Obligasi Syariah ialah suatu surat berharga jangka panjang berdasarkan prinsip syariah nan dikeluarkan Emiten kepada pemegang Obligasi Syariah nan mewajibkan Emiten buat membayar pendapatan kepada pemegang Obligasi Syariah berupa bagi hasil/margin fee serta membayar kembali dana obligasi pada saat jatuh tempo
  3. Unit Penyertaan KIK Reksa Dana Syariah ialah satuan ukuran nan menunjukkan bagian kepentingan setiap pihak dalam portofolio investasi suatu KIK Reksa Dana Syariah.
  4. Efek Beragun Aset Syariah ialah imbas nan diterbitkan oleh kontrak investasi kolektif EBA Syariah nan portofolionya terdiri dari aset keuangan berupa tagihan nan timbul dari surat berharga komersial, tagihan nan timbul dikemudian hari, jual-beli pemilikan aset fisik oleh forum keuangan, imbas bersifat investasi nan dijamin oleh pemerintah, wahana peningkatan investasi/arus kas serta aset keuangan setara nan sinkron dengan prinsip-prinsip syariah.
  5. Surat Berharga Komersial Syariah ialah Surat Pengakuan atas suatu pembiayaan dalam jangka waktu eksklusif nan sinkron dengan prinsip syariah.

Transaksi Surat Berharga Syariah nan Dilarang:

  1. Pelaksanaan transaksi harus dilakukan menurut prinsip kehati-hatian serta tak diperbolehkan melakukan spekulasi gambling (maysir) nan di dalamnya mengandung unsur dharar, gharar, maysir, dan zhulm.
  2. Tindakan nan dimaksud di atas meliputi:
    • Najsy, yaitu melakukan penawaran palsu
    • Bai’ al-ma’dum, yaitu melakukan penjualan atas barang (Efek Syariah) nan belum dimiliki (short selling)
    • Insider trading, yaitu memakai informasi orang dalam buat memperoleh laba transaksi nan dilarang.
    • Menyebarluaskan informasi nan menyesatkan buat memperoleh laba transaksi nan dilarang
    • Melakukan investasi pada perusahaan nan pada saat transaksi, taraf (nisbah) hutang perusahaan kepada forum keuangan ribawi lebih dominan dari modalnya.
    • Margin trading, yaitu melakukan transaksi atas Imbas Syariah dengan fasilitas pinjaman atas kewajiban penyelesaian pembelian Imbas Syariah tersebut
    • Ihtikar (penumpukan), yaitu melakukan pembelian atau dan pengumpulan suatu Imbas Syariah buat menyebabkan perubahan harga Imbas Syariah, dengan tujuan mempengaruhi Pihak lain

Penentuan Harga Pasar Wajar

  1. Harga pasar wajar dari Imbas Syariah seharusnya mencerminkan nilai valuasi kondisi nan sesungguhnya dari aset nan menjadi dasar penerbitan imbas tersebut sinkron dengan prosedur pasar nan tak direkayasa.
  2. Bila harga pasar wajar sebagaimana nan disebutkan dalam pasal 8 ayat 1 di atas sulit buat ditentukan, maka dalam hal imbas syariah tersebut diperdagangkan melalui bursa bisa digunakan harga rata-rata tertimbang dari transaksi pada hari bursa nan terakhir sebagai rujukan.

Investasi dengan cara spekulasi adalah adanya sikap berjudi atau untung-untungan buat mendapatkan laba sebanyak-banyaknya seraya merugikan investor lainnya. Spekulasi ini dilakukan antara lain melalui margin trading, short selling dan option dengan mengeksploitasi peluang capital gain melalui transaksi spekulatif. Namun demikian tak semua asa laba melalui capital gain bisa dikategorikan termasuk spekulasi. Sedangkan margin trading, short selling dan option dilarang sebab Islam tak memperbolehkan seseorang buat menjual sesuatu nan tak dikuasainya (prinsip hadits: “la tabi’ ma laisa ‘indak). Selain itu pula adanya embargo berbisnis dengan cara untung-untungan (maysir).

Investasi nan tak sinkron dengan syariah Islam dari segi instrumennya adalah nan memberikan laba melalui prosedur pembayaran kembang (interest), seperti pada obligasi sebab merupakan salah satu bentuk praktek riba.

Investasi ke dalam perusahaan-perusahaan nan memilki aset atau prosedur operasional nan tak sinkron dengan syariah Islam. Industri-industri tersebut adalah nan bergerak dalam bidang: Minuman keras, narkotika, psikotropika, dan zat-zat adiktif beserta derivatifnya; Makanan haram dan derivatifnya; Pornografi dan seni mempamerkan estetika tubuh wanita; Prostitusi; Perjudian; Perusahaan-perusahaan nan menjalankan usahanya dan memberikan serta memperoleh laba melalui kembang (interest); Industri senjata nan secara jelas produknya digunakan buat melawan global Islam atau kaum muslimin. (Lihat: William Clark, Islamic Securities Market: Australian Experience, 1997).

Di Bursa Imbas Indonesia (BEi) terdapat sejumlah perusahaan publik nan bergerak dalam bidang minuman keras dan pembungaan uang, sedangkan makanan haram dan perjudian biasanya tak menjadi core business mereka. Adapun industri pornografi, prostitusi pembuatan dan pemasaran senjata, tak listed di BEi.

Sedangkan nan tak diperkenankan dari segi operasionalisasi perusahaan publik tersebut adalah konduite bisnis nan mencerminkan praktik-praktik penipuan, Penimbunan barang (ihtikar), permainan harga (najasy), monopoli dan oligopoli nan bersifat kartel

Selain faktor-faktor di atas, terdapat pula sejumlah konduite atau cara nan dilakukan oleh mereka nan menerjuni global pasar modal. Konduite tersebut tak bisa dibenarkan, baik dalam pandangan Islam maupun etika bisnis pada umumnya. Bahkan regulasi di dalam pasar kapital itu sendiri telah melarangnya, berikut sangsi-sangsi nan bisa dikenakan kepada pelakunya. Pelaku dari cara-cara nan tak dibenarkan ini dapat jadi ialah para investor, penasehat investasi, makelar (broker), akuntan publik, appraisal, internal emiten itu sendiri, maupun nan lainnya.

Perbuatan-perbuatan ini mungkin dilakukan seorang diri atau saling bekerja sama antar pihak-pihak tersebut, demi meraup laba nan tak sporadis cukup fantastis. Cara-cara tersebut ialah: Margin Trading, Short selling, Insider trading, Corner, Window Dressing (rekayasa pembukuan).

Margin trading berarti perdagangan saham melalui pembelian saham dengan uang tunai dan meminjam kepada pihak ketiga buat membayar tambahan saham nan dibeli. Asa pembeli margin buat mendapatkan laba nan berlipat ganda dengan kapital nan sedikit. Keputusan Ketua Bapepam nomor Kep-07/PM/1997, peraturan Nomor IV.B.1 pada nomor 12.h. melarang manajer investasi reksa dana berbentuk Kontrak Investasi Kolektif buat terlibat dalam pembelian imbas secara margin. Embargo nan sama dikenakan kepada pengelola reksa dana berbentuk perseroan berdasarkan Keputusan Ketua Bapepam nomor Kep-19/PM/1996 nomor 12.h.

Short selling adalah penjualan saham nan dimiliki penjual short, saham nan dijual secara short tersebut diperoleh dengan meminjam dari pihak ketiga. Penjual short meminjam saham dengan asa membeli saham tersebut nantinya pada harga nan rendah dan secara simultan mengembalikan saham nan dipinjam, juga memperoleh laba atas penurunan harganya. Secara generik UU No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Kapital pada Peraturan V.D.3 melarang perusahaan imbas menerima pesanan jual dari nasabah nan tak mempunyai saham. Sedangkan Keputusan Ketua Bapepam nomor Kep-07/PM/1997, peraturan Nomor IV.B.1 pada nomor 12.g. melarang manajer investasi reksa dana berbentuk Kontrak Investasi Kolektif buat terlibat dalam pembelian imbas nan belum dimiliki (short sale). Embargo nan sama dikenakan kepada pengelola reksa dana berbentuk perseroan berdasarkan Keputusan Ketua Bapepam nomor Kep-19/PM/1996 nomor 12.g.

Dalam hal ini perlu kiranya diketahui adanya beberapa disparitas nan signifikan antara perdagangan saham dan futures nan kebanyakan pada commoditas dapat dalam bentuk metal, hasil bumi, dan inetrumen keuangan adalah:

  1. Pada pembelian saham umumnya akan memperoleh kepemilikan (ownership), namun pada pembelian futures tak berhak atas kepemilikan underlying asset sampai si pembeli memutuskan buat menyerahkan saat berakhirnya kontrak. Umumnya para pemain futures sporadis sekali menahan kontraknya sampai saat penyerahan (delivery) dan mereka menjual kontraknya sebelum jatuh tempo.
  2. Fasilitas leverage (dengan menggunakan hutang) umumnya lebih besar pada pasar futures dibandingkan dengan pasar saham. Pada pasar saham hanya sebagian kecil saja transaksi nan menggunakan fasilitas margin, sedangkan pada futures semua jenis futures contract bisa memperoleh margin.
  3. Pada transaksi saham atas penggunaan fasilitas margin biasanya dikenakan kembang nan hal ini tak berlaku dalam pasar kapital syariah sedangkan pada futures tak dikenakan biaya atas margin, sebab jenis kontrak ini ialah jenis kontrak nan ditunda penyerahannya (deferred delivery contract).
  4. Fluktuasi harga pada pasar saham umumnya tak dibatasi (di BEI suatu saham otomatis akan disuspen dalam perdagangan jika dalam satu hari telah mengalami kenaikan atau penurunan sebesar 50%). Pada bursa futures, kontrak umumnya memiliki batas harian harga dan transaksi tak bisa dilakukan setelah mencapai batas tersebut, dan baru diteruskan keesokan harinya.
  5. Perdagangan interest rate dalam bursa apapun dan segala transaksi berbasis kembang apapun bentuknya tak diperkenankan dalam mumalah Islam, sehingga wajib buat dihindari oleh para pelaku bisnis syariah.

Dengan demikian, jual-beli saham dengan niat dan tujuan memperoleh penambahan modal, memperoleh aset likuid, maupun mengharap deviden dengan memilikinya sampai jatuh tempo  buat imbas syariah (hold to maturity) di samping bisa difungsikan sewaktu-waktu bisa dijual (available for sale) laba berupa capital gains dengan kenaikan  nilai saham seiring kenaikan nilai dan kinerja perusahaan penerbit (emiten) dalam rangka menghidupkan investasi nan akan mengembangkan kinerja perusahaan, ialah sesuatu nan halal sepanjang usahanya tak dalam hal nan haram. Namun ketika aktivitas jual beli saham tersebut disalah gunakan dan menjadi alat spekulasi mengejar laba di atas kerugian pihak lain, maka hukumnya haram sebab berubah menjadi perjudian saham. Demikian halnya trading options sebagaimana dalam futures trading konvensional (futures contract) juga haram hukumnya sebab mengandung unsur nan diharamkan syariah setidaknya maysir dan riba. Semoga bermanfaat dan bisa mencerahkan.

Wallau A’lam Wa Billahit Taufiq wal Hidayah

Al-Ustadz Dr. Setiawan Budi Utomo
Anggota Dewan Syariah Nasional (DSN) dan Komisi Fatwa MUI

Konsultasi

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy