Hukum Mencari Nafkah dari Berdakwah

Hukum Mencari Nafkah dari Berdakwah

Sesuai dgn surat asyura ayat 23, dan dari kisah para sahabat nabi nan tak menerima upah atas da’wah. Apakah hukumnya profesi ustadz2 guru2 agamasekolah dosen2 yg menerima gaji dari da’wah serta khatib2 jum’at yg menerima amplop sehabis khutbah? apakah tdk termasukmemperjual belikan agama?

Waalaikumussalam Wr Wb

Saudara Abdurrahman nan dimuliakan Allah swt

Jumhur ulama berpendapat dibolehkan bagi seorang nan guru mengajarkan al Qur’an (guru ngaji) buat mengambil upah dari pengajarannya tersebut berdasarkan apa nan diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari Ibnu Abbas bahwa beberapa sahabat Nabi saw melewati sumber mata air dimana terdapat orang nan tersengat binatang berbisa, lalu salah seorang nan bertempat tinggal di sumber mata air tersebut datang dan berkata; “Adakah di antara kalian seseorang nan pandai menjampi? Karena di loka tinggal dekat sumber mata air ada seseorang nan tersengat binatang berbisa.” Lalu salah seorang sahabat Nabi pergi ke loka tersebut dan membacakan al fatihah dengan upah seekor kambing. Ternyata orang nan tersengat tadi sembuh, maka sahabat tersebut membawa kambing itu kepada teman-temannya. Namun teman-temannya tak suka dengan hal itu, mereka berkata; “Kamu mengambil upah atas kitabullah?” setelah mereka tiba di Madinah, mereka berkata; “Wahai Rasulullah, ia ini mengambil upah atas kitabullah.” Maka Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya upah nan paling berhak kalian ambil ialah upah sebab (mengajarkan) kitabullah.”

Hal itu juga diperkuat bahwa Rasulullah saw pernah memerintahkan seorang lelaki buat mengajarkan istrinya al Qur’an sebagai mahar baginya. (baca : )

Demikian halnya dengan seorang ustadz, guru agama, dosen-dosen nan mengajarkan ilmu-ilmu agama atau para dai atau khotib nan menyampaikan ceramah-ceramahnya maka dibolehkan bagi mereka menerima upah dari pengajarannya itu sebagaimana dibolehkannya seorang nan mengajarkan Al Qur’an mengambil upah atau bayaran atau gaji dari pedagogi al Qur’annya kepada murid-muridnya.

Markaz al Fatwa menyebutkan bahwa boleh mengambil upah dari mengajarkan ilmu-ilmu syar’i (baca : ilmu agama) seperti para ustadz (dosen) di Fakultas Syariah dan lainnya.

Al Khotib al Baghdadiy didalam “al Fiqh wa al Mutafaqqih” mengatakan,”diwajibkan bagi seorang imam (pemimpin) buat memberikan kecukupan penghasilan kepada orang-orang nan menyerahkan dirinya buat memberikan pedagogi didalam bidang fiqih atau fatwa hukum-hukum dan ambilah buat itu dari baitul harta benda kaum muslimin. Jika di sana tak terdapat baitul harta benda maka penduduk negeri harus bekerja sama menyisihkan sebagian dari hartanya buat diberikan kepadanya (mufti) agar dia dapat fokus mencurahkan segenap waktunya buat memberikan fatwa kepada mereka dan jawaban-jawaban dari permasalahan-permasalahan mereka. (Markaz al Fatwa, fatwa No. 34050)

Namun hendaklah setiap ustadz, dai, khotib, dosen, guru agama atau orang-orang nan memberikan pedagogi dan pengetahuan tentang agama kepada orang lain nan mendapatkan bayaran atau gaji darinya tetap menjaga keikhlasan niatnya agar apa nan didapatnya itu tak menghapuskan pahalanya di sisi Allah swt.

Diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dari Umar bin Khattab dia berkata, “Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya amalan itu tergantung dengan niatnya, dan sesungguhnya ia akan mendapatkan sesuatu nan diniatkannya.”

Wallahu alam,

Ustadz Sigit Pranowo

Bila ingin memiliki  karya beliau dari  kumpulan jawaban jawaban dari Ustadz Sigit Pranowo LC di Rubrik Ustadz Menjawab , silahkan kunjungi link ini :

Resensi Buku : Fiqh Pada masa ini nan membahas 100 Solusi Masalah Kehidupan…

Ustadz menjawab

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy