Hukum Mengulang Shalat Fardhu sebab Menemani Shalat Berjamaah

Hukum Mengulang Shalat Fardhu sebab Menemani Shalat Berjamaah

Assalamu’alaikum wr wb
Ustadz nan berbahagia, telah ane pahami bahwa dapat sholat berjamaah antara imam dan makmum nan beda niatnya. Nah, jikalau si A sudah sholat zuhur berjama’ah (misalkan), terus ada si B nan datang terlambat ingin mengajak si A sholat berjamaah kembali. Pertanyaanya: 1) Sholat apakah yg dikerjakan si A bersama si B, sholat zuhur 4 rakaat (tapi niatnya sunnah), ataukah sholat sunnah lain, sholat sunnah wudhu, sholat absolut (2 rakaat). 2) Yang mana yg seharusnya jadi imam dan makmum? Syukron atas jawabannya

Waalaikumussalam Wr Wb

Dibolehkan bagi seorang nan telah melaksanakan shalat berjamaah kemudian kembali melakukan shalat jamaah tersebut buat menemani orang nan ketinggalan shalat jamaah sebelumnya, berdasarkan apa nan diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Sa’id Al Khudri berkata; “Seorang laki-laki masuk ke dalam masjid sedang Rasulullah saw dan para sahabatnya telah melakukan shalat, maka Rasulullah saw pun bersabda: “Barangsiapa ingin bersedekah kepada orang ini hendaklah ia shalat bersamanya, ” lalu berdirilah seorang laki-laki dan shalat bersamanya.

Abu Daud meriwayatkan dari Jabir bin Yazid bin Al-Aswad dari Ayahnya bahwasanya dia pernah shalat bersama Rasulullah saw sementara ketika itu dia masih muda. Tatkala shalat telah selesai dilaksanakan, ada dua orang laki-laki nan berada di salah satu sudut masjid tak melaksanakan shalat, maka beliau memanggil keduanya dan keduanya pun didatangkan dalam kondisi merinding bulu kuduknya, lalu beliau bersabda: “Apakah nan menghalangi kalian berdua buat melaksanakan shalat bersama kami?” Mereka menjawab; Kami sudah melaksanakannya di rumah kami. Beliau bersabda: “Janganlah kalian melakukannya lagi, apabila seseorang di antara kalian sudah melaksanakan shalat di rumahnya, lalu mendapatkan imam sedang shalat, maka shalatlah bersamanya, sebab nan ini baginya ialah nafilah (sholat sunnah)

Didalam riwayat Tirmidzi disebutkan ; “Ketika beliau saw selesai melakasanakan shalat subuh dan berpaling, tiba-tiba ada dua orang laki-laki dari kaum lain nan tak ikut shalat berjama’ah bersama beliau. Maka beliau pun bersabda: “Bawalah dua orang itu kemari!” maka mereka pun dibawa ke hadapan Nabi sedang urat mereka bergetar. Beliau bersabda: “Apa nan menghalangi kalian buat shalat bersama kami?” mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, kami telah shalat di loka kami, ” beliau bersabda: “Janganlah kalian lakukan, jika kalian telah melaksanakannya di loka kalian, lalu kalian datang ke masjid nan melaksanakan shalat berjama’ah maka shalatlah bersama mereka, sebab hal itu akan menjadi pahala nafilah kalian berdua.” Pendapat ini juga dipegang oleh Sufyan Ats Tsauri, Syafi’i, Ahmad dan Ishaq.” Mereka berkata; “Jika seorang laki-laki telah shalat sendirian kemudian mendapatkan shalat berjama’ah, maka hendaklah ia mengulangi semua shalatnya dengan berjama’ah. Dan jika seorang laki-laki telah shalat maghrib sendirian kemudian mendapatkan shalat berjama’ah, maka mereka berpendapat, “Hendaklah ia shalat bersama mereka dan menggenapkan, sedangkan shalat nan ia lakukan sendirian itulah nan fardlu bagi mereka.”

Didalam hadits tersebut tampak jelas bahwa shalat nan kedua dianggap sebagai shalat sunnah sedangkan nan wajib ialah nan pertama baik shalat itu berjamaah atau sendirian disebabkan kemutlakan hadits itu. Didalam hadits disebutkan pemahaman bahwa barangsiapa nan telah melaksanakan shalat di tempatnya lalu dia mendapatkan jamaah tengah melaksanakan shalat maka hendaklah dia melaksanakan shalat bersama mereka, shalat apapun diantara shalat wajib nan lima, inilah pendapat Syafi’i, Ahmad dan Ishaq demikian pula al Hasan dan Zuhri. (Aunul Ma’bud juz II hal 100)

Dengan demikian jika seorang telah melaksanakan shalat zhuhur berjamaah lalu datang seorang lainnya nan tertinggal jamaah pertama dan dirinya—yang telah shalat tadi—ingin menemaninya berjamaah shalat zhuhur maka hendaklah dia tetap berniat shalat wajib zhuhur.

Adapun niat saat mengulangi shalat tersebut maka Ibnu Abidin mengatakan bahwa dia berniat dengan perbuatan nan keduanya itu dengan niat wajib—walaupun perbuatan nan diulanginya itu ialah fardhu (wajib) sebab perbuatan pertama nan telah dilakukannya itu ialah fardhu maka pengulangannya, yaitu perbuatan kedua ialah persis seperti nan pertama.

Adapun pendapat nan mengatakan bahwa kewajiban telah gugur dengan perbuatan nan kedua maka telah jelas. Sedangkan pendapat nan mengatakan bahwa kewajiban gugur dengan perbuatan pertama maksudnya pengulangan perbuatan kedua ialah keharusan dikarenakan adanya kekurangan didalam perbuatan pertama maka perbuatan pertama ialah kewajiban nan terdapat kekurangan sedangkan perbuatan kedua ialah kewajiban nan sempurna. (al Mausu’ah al Fiqhiyah juz II hal 159)

Sedangkan nan paling berhak menjadi imam dalam keadaan diatas ialah nan paling baik bacaan al Qur’annya atau nan paling banyak hafalannya diantara mereka berdua walaupun ia ialah orang nan telah melaksanakan shalat zhuhur bersama jamaah pertama.

Dalil dibolehkannya seorang nan telah melaksanakan shalat berjamaah sebelumnya menjadi imam dalam shalat jamaah nan kedua ialah apa nan diriwayatkan oleh Muslim dari Muadz bin Jabal bahwa dia telah melaksanakan shalat isya akhir bersama Rasulullah saw kemudian kembali pulang kepada kaumnya, lalu shalat mengimami mereka dengan shalat tersebut.

Wallahu A’lam

Ustadz menjawab

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy