Hukum Najis Bekas Kaki Anjing

Hukum Najis Bekas Kaki Anjing

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ustadz nan dirahmati Allah.

Langsung aja ya Ustadz,kami mau menanyakan hukum najis bekas tapak kaki anjing apakah hukumnya juga najis Mugholadhoh, nan cara mensucikannya harus 7X bilasan, nan salah satunya pakai tanah? ataukah cukup dibersihkan saja?

Soalnya kami dan keluarga tinggal di bali nan banyak anjingnya, kadang kalau pagi ada bekas kaki anjing di teras.

Kasian istri aku hampir tiap pagi harus ngepel berulang kali. (kami tinggal di kosan nan tak ada pintu pagarnya).

Soalnya kami masih ragu, bekas kaki anjing itu hukum najisnya apa? Mugholadhoh, atau apa?

Kami sangat berharap semoga ustadz berkenan buat memberi klarifikasi kepada kami. Terima kasih, Wassalamu’alaikum Wr. wb.

Waalaikumussalam Wr Wb

Saudara Abu Akbar nan dimuliakan Allah swt

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa telah terjadi disparitas pendapat dikalangan para ulama tentang kesucian dan najisnya seekor anjing menjadi tiga pedapat :

  1. Ia ialah kudus termasuk air liurnya, demikian pendapat para ulama Maliki.
  2. Ia ialah najis hingga bulunya, demikian menurut Syafi’i dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad bin Hambal.
  3. Bulunya kudus namun air liurnya najis, demikian pendapat para ulama Hanafi dan riwayat kedua dari Imam Ahmad bin Hambal.

Beliau melihat bahwa pendapat nan ketiga ialah nan paling tepat. Sehingga apabila bulunya nan basah mengenai baju atau badan maka ia tidaklah najis akan tetapi apabila anjing itu menjilat-jilati sebuah cawan maka air didalamnya haruslah ditumpahkan. (Majmu’ al Fatawa juz XXI hal 530)

Dari pendapat ketiga nan dipilih oleh Ibnu Taimiyah berarti bahwa apabila seseorang memegang badan atau bulu anjing maka hal itu tidaklah najis begitu pula dengan perabotan-perabotan nan disentuh oleh anjing atau lantai nan telah diinjak oleh anjing maka ia tidaklah najis dan tak perlu di pel atau dicuci tujuh kali salah satunya dengan tanah. Para ulama mengatakan bahwa dalam hal ini sabun dapat menempati posisi tanah.

Apabila terdapat bekas-bekas air liurnya nan masih basah di lantai maka lantai tersebut harus dicuci (di pel) dengan air tujuh kali salah satunya dengan tanah (sabun), sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairoh berkata, Rasulullah saw bersabda,”Mensucikan cawan salah seorang dari kalian jika dijilati oleh anjing ialah dengan mencucinya tujuh kali nan permulaannya dengan tanah.” Didalam riwayat Muslim nan lainnya dari Abu Hurairoh bersabda,”Apabila seekor anjing menjilati cawan maka cucilah tujuh kali dan kali ke delapan dengan tanah.”

Akan tetapi apabila bekas air liur (najis) anjing nan ada di lantai tersebut sudah mengering maka hal itu tidaklah mengapa (tidak perlu dicuci tujuh kali) apabila ia sudah mengering atau sudah hilang bekas-bekas air liur (najis) anjing itu, seperti : sudah hilang warna, bau atau rasanya maka lantai tersebut dapat digunakan buat shalat diatasnya. Tidak masalah apakah keringnya dikarenakan cahaya matahari, barah atau angin nan berhembus.

Wallahu A’lam

Ustadz menjawab

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy