Hukum Pendapatan Syubhat Kolektif

Hukum Pendapatan Syubhat Kolektif

Assalamualaikum
Pak Ustadz,

Alhamdulillah per akhir desember 2009 aku diangkat sebagai kepala unit toko di sebuah kantor koperasi milik pemerintah daerah. Ada beberapa hal yg aku rasa ganjil/ragu dan bertentangan dgn hati nurani saya, seperti:

1. Jika ada sales datang menitipkan barang di display kami seringkali ada tips dari brg yg dititipkan tsb, bagaimana hukumnya?bagaimanapun tips tsb tak utk pribadi akan tetapi dikumpulkan di kas hitam yg nantinya dibagi rata di hari idul fitri tentunya sinkron dgn kinerja masing2 karyawan.
2. Jika kulakan, kami selalu mencari sumber yg termurah.akan tetapi pas pembayaran akan ada mark up dari nota yg akan dibayarkan dgn begitu selisih uang akan masuk kas hitam yg tujuannya sama point satu.

Saya sempet bertanya kenapa sine qua non kas hitam segala?
Jawab rekan2 senior aku dikarenakan gaji mereka jauh dari UMK/UMR sehingga perlu hal2 tsb utk mendapatkan penghasilan lebih di hari raya.

Bagaimana Pak Ustadz???
Saya ingin merubah semua, karma aku ragu dgn cara seperti itu?
Juga aku ingin pendapatan aku berkah dan barokah utk keluarga aku
Mohon petunjuknya??

Terimakasih
Wassalam

Waalaikumussalam Wr Wb

Saudara dafiq nan dimuliakan Allah swt

Tips Barang Titipan

Jika nan dimaksud “titipan” diatas ialah pemilik barang itu (sales) meninggalkan barangnya itu kepada Anda buat menjaganya dalam jangka waktu eksklusif maka didalam istilah fiqih disebut dengan wadi’ah (barang titipan). Untuk kemudian barang itu menjadi amanah bagi Anda nan harus tunaikan kepada orang nan memberikan amanah tersebut, berdasarkan firman Allah swt :

إِنَّ اللّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤدُّواْ الأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا

Artinya : “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada nan berhak menerimanya.” (QS. An Nisa : 58)

Sabda Rasulullah saw,’Tunaikanlah amanah orang nan memberikan amanah kepadamu dan janganlah engkau mengkhianati orang nan mengkhianatimu.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Tentang bayaran sejumlah uang atau tips nan dikeluarkan sales itu kepada Anda terhadap barang titipannya itu maka apabila hal itu dikarenakan adanya kesepakatan sebelumnya antara Anda dengannya berupa upah penjagaan maka dibolehkan bagi Anda buat mengambilnya. Akan tetapi apabila tak ada kesepakatan sebelumnya diantara Anda berdua maka tak diperbolehkan bagi Anda mengambil uang tips tersebut sedikit pun sebab ia ialah amanah dan memelihara amanah ini termasuk didalam perbuatan ihsan (baik) dan bekerja sama didalam kebaikan dan ketakwaan.

فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُم بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ الَّذِي اؤْتُمِنَ أَمَانَتَهُ وَلْيَتَّقِ اللّهَ رَبَّهُ

Artinya : “Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian nan lain, maka hendaklah nan dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya.” (QS. Al Baqoroh : 283)

Mark Up Harga Pembelian

Dalam permasalahan nan kedua ini maka Anda berposisi sebagai wakil dari perusahaan Anda buat membeli barang-barang nan dibutuhkan. Dan pembelian nan dilakukan oleh Anda sebagai wakil diikat oleh syarat-syarat nan diberikan oleh nan mewakilkannya (perusahaan) dan Anda berkewajiban menaati kesepakatan tersebut baik nan berkenaan dengan harga maupun jenis barangnya.

Tidak diperbolehkan bagi Anda menyalahi kesepakatan itu, misalnya : membeli barang nan tak sinkron dengan barang nan diinginkan pihak nan mewakilkan, membeli barang tiruannya padahal dia menginginkan nan asli atau melebihkan harga pembelian dari harga nan telah ditetapkan.
Dengan demikian apa nan dilakukan Anda dengan melakukan mark up harga barang pada nota pembelian ialah perbuatan nan tak dibenarkan menurut syariat meskipun selisih harga tersebut kelak ditabung dan akan dibagi-bagikan kepada para karyawan pada saat hari raya sebab hal demikian termasuk dalam perbuatan memakan harta manusia dengan cara nan batil, sebagaimana firman Allah swt :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ

Artinya : “Hai orang-orang nan beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan nan batil.” (QS. An Nisaa : 29)

Sabda Rasulullah.”Barangsiapa nan berlaku curang bukanlah dari golonganku.” (HR. Muslim)

Jika memang permasalahannya ialah kecilnya gaji para karyawan nan jauh dari batas UMR maka cobalah cari jalan keluar dengan cara-cara nan dihalalkan agama, seperti mengkomunikasikannya kepara para pemimpin perusahaan. Jauhilah mencari solusi dengan cara-cara nan diharamkan agama dan bersabarlah terhadap cobaan nan Allah berikan dengan tetap berusaha mencari nan lebih baik sinkron dengan cara-cara nan diperintahkan Allah swt lalu bertwakallah kepada-Nya.

Wallahu A’lam

Ustadz menjawab

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy