Hukumnya Membuat WC di Bumi Masjid?

Hukumnya Membuat WC di Bumi Masjid?

Assalaamu’alaikum Warochmatulloh

Ustadz Yang dimulyakan Alloh SWT,Saya akan mengibaratkan, seandainya aku punya tanah 100 m2, aku akan tak merelakan orang lain tanpa seizin aku menggunakan tanah aku tersebut seluas 100 m2 ke atas dan ke bawah (batas wajar). Begitu juga dengan tanah (bumi) masjid.

Saya pernah mendengar, bahwa definisi masjid ialah "Tempat nan absah buat melakukan I’itikaf." Pertanyaan saya:

1. Betulkah definisi tersebut? Adakah definisi tambahan?2. Bagaimana hukumnya membuat WC dan atau menggunakannya di bumi Masjid?

Misal luas masjid 300 m2, lantai 1 (basement) dijadikan kamar mandi, WC dan loka wudhlu. Lantai 2 dan 3 dijadikan masjid loka sholat.

Sebab, kalau dikias, wanita haidh dan orang junub saja dilarang duduk lama-lama dimasjid, apalagi sampai (ma’af) kencing dan menajisi bumi masjid?

3. Adakah batas bawah dan batas atas diperbolehknnya bumi masjid dibuat WC?4. Seandainya dilarang, adakah solusi nan dapat kita lakukan jika memang kita ada hajat, namun keadaan WC berada di bumi masjid?

Mengingat aku sangat ragu-ragu menggunakan WC nan atasnya dijadikan masjid. Seandainya hanya musholla, maka aku tak ragu, namun buat masjid, aku paling tak hanya mengira ngira, "WC ini masuk bumi masjid tidak?"

Saya mohon jawabannya beserta dalilnya, Ustadz. Terima kasih. Barokalloohu lanaa wa lakum.

Wassalaamu’alaikum Warohmatulloh.

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Tidak mungkin sebuah masjid itu terdiri dari 100% bagiannya sebagai areal kudus dan sakral. Di mana semua nan masuk ke areal itu wajib kudus dari hadats besar. Sebuah majid pastilah membutuhkan areal nan menjadi penunjang.

Batas areal kudus dan sakral dari sebuah masjid bukan semata-mata pagar nan memisahkan halaman masjid dengan tanah sekitarnya. Akan tetapi lebih ditentukan berdasarkan ikrar oleh para takmir masjid tersebut. Dan sangat boleh jadi nan merupakan wilayah kudus dari masjid itu hanya sebagian saja dari tanah nan diwakafkan buat masjid. Meskipun tak mengurangi kegunaan dan pahala untuk pewakafnya.

Sebab kalau seluruh tanah itu digunakan buat wilayah kudus buat ibadah saja, maka masjid itu tak akan punya fasilitas penunjang. Padahal setiap masjid masjid butuh ruang wudhu’ berikut kamar mandi dan loka buang airnya (WC). Bahkan lebih dari itu, tiap masjid butuh ruang khsusus buat gudang, dapur, kantor takmir, perpustakaan, bahkan loka buat menyimpan sendal dan sebagainya.

Pembagian wilayah ini tentu harus berdasarkan musyarawarah dari para takmir masjid. Merekalah nantinya nan akan mengikrarkan bahwa suatu area dari tanah masjid akan dijadikan wilayah kudus dan tak suci.

Boleh jadi diikrarkan bahwa ruangan kudus dan sakral itu hanya pada satu lantai saja. Misalnya lantai dua. Sedangkan lantai satu seluruhnya ialah area penunjang nan tak termasuk sakral. Di situlah terdapat area buat WC, loka wudhu’, gudang, loka sampah dan sebagainya.

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ahmad Sarwat, Lc.

Thaharah

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy