Ibu Tidak Merestui

Ibu Tidak Merestui

Assalamualaikum wr wb

Ibu, aku ingin menanyakan apakah hukumnya dalam Islam seorang anak lelaki nan menikah tanpa persetujuan ibunya? Alasan sang ibu tak kuat dan bukan berkaitan dengan syar’i. Ibu tak menyetujui calon anak nya sebab sang calon bukan dari suku nan sama dan mempunyai budaya nan berbeda.

Berbagai cara sudah dilakukan sang anak dan calonnya buat melunakkan hati sang ibu, namun tampaknya sia-sia. Sementara usia anak terus merayap.

Apa nan sebaiknya dilakukan?

C R

Wa’alaikumussalam wr. wb.

Saya bisa memahami bahwa tak selalu mudah melobi orang tua. Jenjang pernikahan memang termin nan perlu dipersiapkan jauh-jauh hari, kadang banyak tantangan, meskipun kadang mulus dan begitu mudah. Diperlukan persiapan internal maupun eksternal bagi individu nan akan memasuki jenjang ini.

Persiapan internal antara lain menyangkut ruhiyah-tsaqofiyah, (mental dan ilmu), sejauhmana individu memahami tentang hakikat pernikahan, sejauhmana mental menghadapi segala persoalan nan akan dihadapi, juga menghadapi karakter pasangan, persiapan ekonomi bagi laki-laki sebab ia akan berkewajiban memberi nafkah keluarga, pengetahuan tentang pendidikan anak, bagaimana menjadi anggota masyarakat, dan sebagainya. Adapun persiapan eksternal antara lain ialah penyiapan keluarga besar, dalam hal ini sebab pernikahan juga menyatukan dua keluarga dengan latar belakang nan niscaya tak sama.

Di sinilah seninya, sebab tak setiap kasus cocok dengan pendekatan nan sama, setiap orang tua (ayah maupun ibu) mempunyai ciri nan khas. Ada keluarga nan pengambil keputusan primer pada Ayah, sehingga loby primer ialah pada Ayah. Tetapi tidak sporadis suara kedua orang tua sangat menentukan. Islam bahkan mengatur dengan sangat indahnya bahwa hak anak buat memilih pun perlu diperhatikan.

Alangkah indahnya jika keluarga-keluarga muslim mengedepankan musyawarah dalam setiap pengambilan keputusan. Untuk ini diperlukan tarbiyah (pendidikan) kepada masyarakat antara lain menyangkut pemilihan jodoh dan menantu.

Cobalah dekati orang tua lagi (Ibu); Mungkin kepahaman orang tua harus ditingkatkan dan anak perlu meyakinkan bahwa disparitas suku tak akan menghambat komunikasi maupun keserasian antar pasangan. Mintalah donasi keluarga besar atau pihak ketiga nan sekiranya bisa memahamkan Ibu. Bermusyawarahlah dengan keluarga besar, barangkali ada hal-hal nan bisa mereka bantu dan usulan solusi.

Meski dalam kasus ini bisa digunakan wali hakim, tetapi pertimbangan da’wah keluarga juga perlu dipikirkan, misalnya menikah tanpa persetujuan orang tua, nan pada masyarakat kita akan menyimpan potensi masalah di kemudian hari; Saya sarankan sabarlah sementara waktu, perbanyak metode pendekatan ke Ibu. Jika ternyata dia ialah sudah jodoh insya Allah akan dipermudah prosesnya oleh Allah swt. Tingkatkan ikhtiar dan do’a nan tulus sehingga lebih jernih memandang persoalan ini.

Selain itu pelajaran nan krusial adalah, bahwa pernikahan ini menjadi luhur jika tak terkotori oleh kepentingan-kepentingan duniawi. Jika orang tua harus meninggalkan kepentingan duniawi (seperti masalah kesukuan) maka anakpun harus menikah sebab alasan dan tujuan nan tak duniawi. Sekalil agi, luruskan niat ketika memilih calon dan dekatkan diri terus pada-Nya. Jika akhirnya harus dipilih menikah dengan wali hakim maka ini dilakukan atas pertimbangan nan matang dan Anda hasus siap dengan segala resikonya. Kami do’akan semoga Allah swt.memberi jalan keluar nan terbaik. Amin. Wallahu a’lam.

Wassalamu’alaikum wr. wb.
Ibu Urba

Konsultasi

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy