Idul Fitri nan Indah

Idul Fitri nan Indah

 Terasa berat meninggalkan bulan Ramadhan. Bulan nan dimuliakan. Bulan nan selalu dinantikan orang-orang mu’min. Bulan nan didalamnya penuh dengan berkah. Bulan nan penuh maghfirah. Bulan kemenangan Islam, ketika Baginda Rasulullah Saw bersama para sahabat menaklukan Makkah. Bulan nan menjanjjikan orang-orang mu’min mendapat derajat muttaqien, sesudah melaksanakannya dengan penuh mujahaddah. Bulan nan Allah Azza Wa Jalla menurunkan kitabNya, nan menjadi panduan hayati orang-orang mu’min.

Usai shaum sebulan di bulan Ramadhan. Orang-orang mu’min memasuki episode kehidupan baru. Kehidupan nan penuh dengan makna. Penuh dengan arti. Nilai-nilai luhur mendasari kehidupannya nan tertanam dalam hati. Nilai-nilai nan bersumber dari Islam. Menjadi orang muttaqien. Kehidupan nan higienis dari segala bentuk kotoran dunia. Kehidupan nan tak lagi mau berkolaborasi dengan hal-hal nan bisa menjerumuskan manusia ke dalam bentuk kekejian. Kehidupan nan tak lagi dilurumi dengan dosa. Inilah ma’na kembali kepada fitrah. Citra orang-orang nan sudah dipisahkan dengan kehidupan jahiliyah. Citra orang-orang nan sukses melaksanakan shaum, dan niscaya terefleksi dalam kehidupan berikutnya secara esensi. Memutuskan warna kehidupan jahilihyah. Lalu, melanjutkan kehidupan baru, dan senantiasa mengingat Kemaha Esaan Allah Rabbul Aziz.

Hakekatnya di dalam diri manusia senantiasa terjadi pertarungan antara hawa nafsu nan mengajak manusia kearah kesesatan dengan keinginan manusia berbuat baik. Kadang-kadang manusia kalah dengan hawa nafsunya. Kadang-kadang manusia menang melawan hawa nafsunya. Kadang-kadang manusia nan menonjol kebaikannya. Kadang-kadang manusia menonjol keburukannya. Manusia nan bisa mengalahkan hawa nafsunya ialah manusia nan akan selamat di global dan akhirat. Sebaliknya, manusia nan kalah, dan menjadi budak hawa nafsunya, maka akan rugi di global akhirat. Betapa banyak manusia nan menjadi budak hawa nafsunya. Membiarkan hawa nafsu menguasai dirinya. Mengikuti insting binatang. Karena, manusia nan hanya mengikuti hawa nafsunya, tidak ubahnya seperti binatang. Puasa tujuannya mendidik manusia. Mendidik agar manusia tak hanya memikirkan kebutuhan nafsu hewaninya. Manusia menuju kearah nan mulia. Manusia hidupnya menjadi lebih selaras. Manusia menjadi lebih seimbang. Manusia bisa mengalahkan nafsu nan merusak kehidupan. Kemudian, manusia bisa lulus, mengarungi kehidupannya. Manusia mendapat kehormatan dari Allah Azza Wa Jalla, sesudah menang melawan hawa nafsunya, dan menjadi hambaNya nan muttaqien. Tidak banyak. Hanya sedikit. Manusia nan bisa mengakhiri shaumnya di bulan Ramadhan, dan mendapatkan derajat muttaqien. Semoga. Diantara kita termasuk orang-orang nan muttaqien.

Betapa indahnya Ramadhan dan Idul Fitrie. Jutaan orang kembali berjumpa dengan sanak keluarganya. Mungkin mereka sudah tak berjumpa dalam kurun waktu tertentu. Mungkin berbilang satu, dua, tiga tahun. Dan, mungkin sudah lebih lama lagi, tak berjumpa dan bertemu dengan sanak family. Tak ada momentum(waktu/kesempatan) nan lebih dahsyat dalam kehidupan ini, nan bisa menyatukan dan mempertemukan antara sanak fimili, keluarga, handai taulan dalam satu memontum, kecuali Idul Fitri. Mereka nan ada di luar negeri pulang. Mereka nan ada di kota-kota besar pulang. Mereka nan ada di pulau-pulau nan berbeda berjumpa kembali. Tak ada kegembiraan nan bisa melebihi saat Idul Fitri. Tak ada kesempatan nan lebih latif dalam kehidupan ini kecuali saat Idul Fitri ini. Di mana bisa berkumpulnya keluarga.

Rangkaian perjalanan kehidupan nan gersang, tersirami lagi dengan rendezvous keluarga. Nilai-nilai nan amat krusial dalam kehidupan, ialah berhasilnya seorang mu’min menjalani ‘tarbiyah’ Rabbaniyah, selama satu bulan, melalui shaum, nan kemudian menjadikan diri mereka kembali kepada fitrahnya, nan bersih. Idul Fitri bermakna hari kemenangan. Kemenangan seorang hamba melawan hawa nafsunya. Jutaan orang merayakannya. Dengan syukur dan kegembiraan. Mereka ingin menandai kehidupannya dengan penuh kemenangan.

Jutaan orang-orang dengan perjuangan nan amat luar biasa, menempuh jeda nan jauh, tujuannya -adalah ingin melakukan silaturrahmi dengan seluruh keluarganya. Ini ialah nilai-nilai Islam nan sudah terealisasikan dalam kehidupan. Dua hal nan paling pokok dalam kehidupan seorang mu’min ialah ‘birrul walidain’ dan ‘silaturrahmi’. Maknanya, berbuat baik kepada dua orang tua, dan menguatkan kembali interaksi kekeluargaan. Nilai-nilai ini semakin mengintregasikan kehidupan social. Betapa mulianya Islam. Menyambungkan kembali berbagai ikatan manusia. Melalui Islam. Menguatkan kembali interaksi kekerabatan, nan dilandasi saling memuliakan. Tidak ada doktrin nan bisa mengantarkan manusia bersatu, kecuali ajaran dan nilai-nilai Islam. Hanya dengan dua prinsip dalam Islam, ‘birrul walidaini’, dan ‘silaturrahmi’, mempunyai pengaruh nan sanga luar biasa. Sangat berarti dalam kehidupan social.

Betapa latif makna Islam. Di saat Idul Fitri ini berapa trilyun rupiah, uang nan terdistribusi ke kampung halaman? Mereka nan datang dari luar negeri. Mereka nan datang dari berbagai kota-kota besar di Indonesia, dan mereka kembali kekampung halamannya, dan memberikann uang kepada sanak familinya, niscaya mempunyai arti krusial dalam kehidupan. Berjuta-juta orang nan ‘mudik’ atau ‘pulang kampung’, secara langsung terjadi distribusi kekayaan, nan hanya sebab motivasi Islam. Mereka ikut memperbaiki kehidupan. Banyak orang-orang nan tinggal di kota-kota nan membantu sanak familinya, dan banyak orang-orang kota nan membantu pembangunan sekolah, membantu pembangunan masjid, memberikan bekal usaha, dan lainnya, semuanya membawa perubhan bagi kehidupan. Islam bisa menjadi factor stimulus atau pendorong bagi perubahan kehidupan, dan terciptanya pola kehidupan baru, nan lebih kokoh dan erat, khususnya menciptakan integrasi social, nan sangat luar biasa nilainya.

Pola de-santralisasi nan menjadi kebijakan pemerintah belum tentu efektif. Belum efektif membangun integrasi social dan melakukan distribusi asset dan kekayaan nan bisa memperbaiki kehidupan rakyat. Karena, de-sentralisasi justru hanya menciptakan orang kaya baru, nan jauh dari kehidupan. Hanya menciptakan sekelompok orang kaya, nan hayati di tengah-tengah pulau kemiskinan. Mungkin proses de-sentralisasi ini, jika ditambah dengan spirit Islam, nan mengharuskan seseorang memiliki komitment kepada fakir dan miskin, bisa menciptakan perubahan nan lebih luas,khususnya dalam memperbaiki kehidupan. Tidak hanya mengalihkan ‘korupsi’ nan sekarang di pusat ke daerah-daerah.

Ramadhan usai. Idul Fitri menjelang. Kehidupan terus berjalan. Rendezvous nan indah. Diantara keluarga-keluarga. Dengan kebahagiaan. Rendezvous nan tidak bisa dilukiskan oleh apapun. Orang-orang nan sudah lama berpisah, berjumpa kembali. Bertemu dengan penuh arti dan kemenangan. Semoga Idul Fitri tahun ini, setiap warga bisa menikmati kehidupan. Kehidupan nan lebih bahagia. Tak ada kepedihan. Orang-orang miskin, orang-orang papa, orang-orang nan tanpa keluarga, tetap bisa menikmati kehidupan ini. Tidak ada nan tersia-sia. Mereka nan tersisih dalam kehidupan ini, harus mendapatkan ikut merasakan dan dimuliakan. Mari kita sambut Idul Fitri ini dengan penuh kebahagiaan. Bagi kita semua. Sesudah sebulan melaksanakan shaum di bulan Ramadhan. Semoga. Wallahu ‘alam.

Editorial

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy