Ironis…!

Ironis…!

Ketika membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia, kutemukan sebuah kata nan memiliki arti “kejadian atau situasi nan bertentangan dengan nan diharapkan atau nan seharusnya terjadi, tetapi sudah menjadi suratan takdir”. Kata itu ialah ironi.

Lantas apa hubungannya dengan Indonesia. Aku pun berpikir sejenak. Kemudian bergumam, tak seharusnya saya membuat judul seperti di atas. Tapi batin ini tak dapat hanya diam ketika saya merasakan kesepian di tengah-tengah hiruk-pikuknya orang lalu-lalang. Seolah-olah merasakan kegerahan nan sangat, sementara nan lainnya dicekam kedinginan. Tenggelam dalam lumpur kenistaan di tengah-tengah manusia bersorban. Apakah saya ironis?

Mengawali awal pekan nan selalu tak menyengkan, pagi-pagi saya sudah disuguhi sebuah empiris hayati melalui layar kaca 14 inchi di ruang tengah rumahku. Seorang wanita nan sudah tak muda lagi bahkan terbilang renta, nenek nan hanya tinggal sebatang kara masih menunjukkan paras optimis.

Setelah pulang dari usahanya buat bertahan hidup, dia membuka pintu rumahnya nan mengeluarkan bunyi berderit sebab kayu dan engselnya sudah berusia sama dengan si pemiliki. Diturunkannya gendongan nan menggelayut di punggung. Nenek itu pun bergegas ke kamar mandi.

Segarnya air wudhu membasuh kulit wajah, tangan serta kaki nan sudah tak semulus ketika nenek ini masih muda. Pendar-pendar keriput kulitnya tak membuat pasrah begitu saja pada takdir nan telah digariskan Ilahi Robbi. Bermukena lusuh dan tikar sederhana sebagai alasnya, kewajibannya sebagai hamba ia tunaikan. Setelah selesai, bait-bait doa dilantunkan dalam hatinya. Ya, doa menjadi obat penenang paling mujarab dalam kesulitan maupun kelapangan.

Nenek itu bukan tak punya anak, tapi anak-anak nan keluar dari rahim perempuan nan sudah tua itu seperti sudah tak lagi memiliki seorang ibu. Menurut tetangga dekatnya, anak-anaknya tak pernah berkunjung ke rumahnya nan hanya sepetak dan terletak di gang sempit itu. Meski sang ibu sedang sakit pun, anak-anaknya tak pernah memperlihatkan bola mata dan batang hidungnya kehadapan sang ibu.

Sejenak kumenarik napas dalam-dalam. “Tega benar, tuh, anaknya, ” gumamku dalam hati. Ingatanku seketika melayang pada nenekku nan telah tiada. Aku sangat merindukannya….! Dulu ketika masih ada, beliau ialah sosok nan kuat menghadapi pelbagai tantangan hidup. Ada persamaan antara nenek nan saya lihat di acara pagi ini dengan nenekku, yaitu meski miskin harta tapi tak pernah menghujat Robb-nya. Siang malam nenekku selalu berdiri dengan dua kakinya nan terkadang tak sanggup menahan berat beban tubuhnya. Bacaan Qur’annya nan tak lebih baik dari murid TPA-ku, tak membuatnya malu buat membacanya keras-keras. Teguran dari sang guru semakin membuatnya rajin buat mengulang hafalan Al-Waqia’ah, Ar-Rahmaan, dan Al-Mulk di rumahnya nan tergolong rumah tua di wilayahnya.

Allohummagfirlahum warhamhum…. Kini jasad nenekku mungkin sudah tak lagi berbentuk utuh. Ya, tahun ini sudah memasuki tahun ketiga kepergian nenekku menghadap sang Kholiq. Satu hal nan sangat saya sesali, saya tak pernah punya waktu nan cukup membimbingnya buat bisa membaca dan menghafal surat-surat dari firman-Nya nan menjadi favoritnya. “Maafkan aku, Nek!”

Kembali ke nenek nan diliput salah satu stasiun televis partikelir di Indonesia. Klimaksnya ialah ketika sang nenek memperlihatkan kemampuan survivalnya. Beliau ternyata “bekerja” memungut butiran-butiran beras nan terjatuh dari puluhan karung nan berisi beras nan dipindahkan dari atas truk ke dalam toko di pasar induk. Butir demi butir beliau kumpulkan dan dimasukkan ke dalam karung. Ketika dirasa sudah cukup banyak, sang nenek memanggulnya dan membawanya pulang ke rumah. Sampai di rumah, beras nan terkumpul disortir dari kotoran-kotoran nan menyertainya.

Kalau dilihat sekilas, kotoran-kotoran itu lebih banyak dari jumlah berasnya. Dan setiap harinya sang nenek kira-kira mendapat 2 – 3 liter beras. Setengahnya buat konsumsi sendiri dan setengahnya lagi dijual dan uangnya digunakan buat membeli lauk-pauknya.

Aku merasakan seperti ada genangan air di mataku. Dan saya hanya dapat menitikkan air mata. Nasi dan sejumlah lauk pauk nan tersedia di meja makan, tak cukup buat menggugah selera makan pagiku. Aku masih teringat dengan dua tangan keriput nan terampil memungut butiran beras di jalanan pasar. Aku belum lupa dengan kotoran nan tersaring dari beras. Dan hatiku berkata, mungkin bukan dia saja nan “berprofesi” seperti itu. Masih banyak lagi rekan-rekan kerja sang nenek nan berjibaku dengan kerasnya hidup. Ironiskah?
Masyarakat Indondesia nan dari dulu terkenal ramah, pemurah dan ringan tangan, berbalik 180 derajat.

Banyak dari mereka nan memiliki harta nan berlimpah, tapi sangat miskin hati. Kesenjangan nan amat sangat kentara mewarnai anjung sandiwara kehidupan di Indonesia nan selalu berakhir menyedihkan. Merasakan kesulitan di tengah orang nan dapat membuat segalanya menjadi mudah. Kelaparan di tengah mereka nan kekenyangan. Menggelandang di sepanjang jalan nan memamerkan kemegahan loka tinggal, sementara maupun permanen. Dan akhirnya, wafat membusuk di antara orang-orang nan hayati semerbak wewangian. Ironis…!

Hutan, gunung, sawah, lautan…
Simpanan kekayaan…
Kini ibu sedang sedih…
Merintih dan berdoa…

Satu bait lagu semasa kecil nan mendeskripsikan paras Indonesia nan sedih.
Hutan Indonesia nan begitu luas menyebabkan kita dijuluki zamrud khatulistiwa. Namun julukan itu tinggal hanya julukan. Tiada pernah luasnya hutan memberikan kegunaan nan sebesar-besarnya bagi masyarakat luas. Tapi mereka nan segelintir, mampu memanfaatkan luasnya hutan. Meski legalitas pemanfaatan hutan menjadi pertanyaan besar. Hijaunya hutan tak membuat kesejukan bagi masyarakatnya. Hijuanya hutan membuat mata mereka nan serakah menjadi hijau. Alhasil, kita kekurangan papan di tengah membelukarnya pepohonan di negeri latif ini. Ironis…!

Bentangan sawah sejauh mata memandang terasa fata morgana di padang pasir. Dari jauh begitu menjanjikan, ketika dekat merasa tertipu. Menguningnya padi tak cukup buat membuat paras kita kuning. Pucat pasi nampak di paras para petani nan sedang memanen. Jatuhnya harga gabah dampak tak adanya regulasinya nan jelas., mahalnya harga pupuk menyebabkan masa tanam menjadi terlambat, dan kesulitan lainnya nan membuat para petani wafat berdiri di tumpukan padi nan menggunung. Dan bangsa Indonesia menderita kelaparan di tengah-tengah sawah nan luas tidak berujung. Ironis…!

Birunya bahari nan menghampar bak permadani, dengan penghuninya nan menjanjikan kemakmuran bagi manusia. Ikan-ikan nan beraneka ragam bentuk dan rasanya. Plankton-plankton nan mengambang menyeimbangkan ekosistem kolam raksasa dan bermanfaat pula bagi manusia. Tapi penghuni pesisir kurus kering, sementara minyak ikan berlimpah ruah. Para nelayan hayati miskin di hamparan kaya rayanya lautan. Estetika tiba-tiba menjadi sebuah neraka nan menakutkan menyambut kemarahan sang penciptanya. Mereka semakin bertambah haus ketika meminum airnya. Ironis…!

Wajah ibu pertiwi memang benar-benar sedang bersedih di percaturan bangsa-bangsa lain nan tertawa bahagia. Air matanya meluap membanjiri kota metropolitan sampai desa-desa terpencil sekali pun. Di belahan bumi nan lain, air matanya keruh menghitam dan panas menggenang, membuat tenggelam beberapa pemukiman penduduk. Mereka nan menyebabkan saling melempar tanggung jawab. Tidak ada nan dapat menghentikan tangisnya.

Tangisnya nan deras menyisakan guncangan hebat di tubuhnya. Terbelahlah bumi nan menjadi pijakan para manusia nan menjerit, berdoa, dan putus asa. Luluh lantak bangunan nan kokoh berdiri menantang. Teringat akan sebuah pesan dari manusia mulia, “Kemarahan sang ibu ialah kemarahan sang mahakuasa, keridhoan sang ibu merupakan keridhoan-Nya”.

Manusia bersorban nan dipenuhi jenggot tidak mampu menahan lajunya kemaksiatan. Bahkan menyeret mereka kepada kemungkaran itu sendiri. Maling menjamur di kampung para kyai dan priyayi. Sang Raja tak lagi dipatuhi rakyatnya. Kesenangan di atas penderitaan orang lain menjadi pemandangan memuakkan. Gema adzan hanya menjadi penghias udara, tidak ada nan peduli. Mereka mengaku beriman tapi lalai dalam segala hal. Mereka mengaku isyhadi bi anna muslimun, tapi lupa akan eksistensi-Nya. Tapi tangan-Nya tidak pernah berhenti mengulur, menolong para manusia kembali menata kehidupannya menuju lebih baik.

Selangkah kita mendekat kepada-Nya, seribu langkah Dia mendekat kepada kita. Kita berjalan menghampirinya, Dia berlari menyambut kita. Sejengkal kita mencoba merengkuhnya, sehasta Dia maju ke kita. Dia tak pernah menutup pintu taubat selama matahari masih terbit di sebelah timur. Dia masih akan terus menunda hari akhir, ketika masih ada orang-orang soleh nan mengagungkan-Nya. Tiada kata terlambat sebelum segalanya menjadi terlambat.

Aku bergidik tersadar dari lamunan seraya bergumam, “nikmat Tuhanmu nan mana lagi nan kau ingkari”. Sudah cukup kondisi bertentangan dengan harapan nan mampir di negeri nan gemah ripah loh jinawi ini. Sudah saatnya membangun negeri nan baldatun thoyyibatun wa robbun gofur. Semuanya bermuara pada kita. Siapkah kita, mulai dari pucuk pimpinan sampai ke akar rakyat jelata menerima cahaya kebesaran-Nya?

Wallohu’alam

Theking_po@yahoo. Com

Oase iman

advertisements

Abu Haidar 2018 - Contact - Privacy Policy