Islam Anjurkan Perbanyak Keturunan, Bukan Ber”KB”

Islam Anjurkan Perbanyak Keturunan, Bukan Ber”KB”

Assalamu’alaikum ww pak ustadz,

Saya (40th) sedang menanti kelahiran anak ketiga. Karena pertimbangan medis, anak pertama (11th) dan anak kedua (4,5th) lahir lewat operasi caesar. Kelahiran anak ketiga diharuskan lewat operasi juga (insyaAllah dijadwalkan tanggal 5 Februari 2009). Saya mengidap hipertiroid.

Selama kehamilan, aku sempat berkonsultasi dengan 3 dokter kandungan. Karena sudah tiga kali melahirkan dengan operasi, ketiga dokter tersebut menganjurkan aku agar tak (boleh) hamil lagi dan berKB. Salah satu cara berKB nan jadi bahan pertimbangan ialah dengan cara tubektomi atau lebih dikenal dengan istilah steril.

Hanya aku ragu dengan cara KB ini, sebab pernah mendengar pendapat nan mengatakan tubektomi itu hukumnya haram tetapi ada juga pendapat nan mengatakan hukumnya boleh. Bagaimanakah sebenarnya pandangan agama dalam hal ini pak ustadz?

Terimakasih.

Waalaikumussalam Wr Wb

Syari’at nan hanif menganjurkan buat melahirkan anak-anak dan memperbanyak keturunan sehingga Nabi Syua’ib mengingatkan kaumnya akan nikmat ini, firman Allah swt

وَاذْكُرُواْ إِذْ كُنتُمْ قَلِيلاً فَكَثَّرَكُمْ

Artinya : “dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu.” (QS. Al A’raf : 86)

Didalam hadits nan diriwayatkan dari Ma’qol bin Yasar bahwasanya Nabi saw bersabda,”Nikahilah wanita-wanita nan pencinta dan dapat beranak banyak. Sesungguhnya saya akan membanggakan banyaknya umatku dihadapan umat-umat lain.” (HR. Abu Daud nan dishohihkan oleh al Bani)

Menghentikan kehamilan secara permanen itu mempunyai dua keadaan :

1. Apabila hal itu dikarenakan sesuatu nan darurat seperti telah dinyatakan oleh dokter nan dapat dipercaya bahwa kehamilannya akan bedampak pada kematian ibu dan pengobatan terhadapnya sudah tak mungkin lagi dan diputuskan bahwa penghentian kehamilan secara totral ialah solusi dari bahaya tersebut maka diperbolehkan saat itu buat menghentikan kelahiran secara total.

2. Apabila hal itu bukan dikarenakan sesuatu nan darurat maka tak disangsikan lagi bahwa perbuatan itu merupakan kejahatan dan dosa besar sebab dia dianggap sebagai penganiayaan terhadap makhluk Allah tanpa suatu sebab, menghentikan keturunan nan begitu dicintai Nabi saw serta tak bersyukur terhadap nikmat seorang anak nan dianugerahkan Allah kepada makhluknya.

Disebutkan didalam ‘al Inshof” ; dia berkata didalam “al Faiq”,”Tidak dibolehkan menghentikan kehamilan.” (1/383)

Lembaga Fiqih Islam dalam keputusannya no 39 (1/5) ialah sebagai berikut :
“Diharamkan memusnahkan kemampuan buat melahirkan baik pada laki-laki maupun perempuan, yaitu apa nan dikenal dengan vasektomi atau tubektomi selama tak ada sesuatu nan darurat menurut standar-standar islam…..

Dibolehkan pengaturan secara temporer dalam kelahiran dengan maksud menjarangkan kehamilan atau menghentikannya buat beberapa waktu eksklusif apabila kebutuhan nan dibenarkan syari’ah menuntut hal demikian sinkron dengan kesanggupan suami isteri melalui musyawarah dan keredhoan diantara keduanya dengan syarat tak membawa kepada kemudharatan serta dengan cara nan disyariatkan dan tak membahayakan bagi kehamilannya nanti.”

Kalau begitu, apabila penghentian kehamilan nan Anda lakukan sebab sesuatu nan darurat lagi mendesak maka tak ada dosa bagi Anda buat melakukannya. Adapun bukan buat sesuatu nan darurat maka Anda telah jatuh kedalam nan haram maka Anda harus bertaubat dengan taubat nashuha kepada Allah swt dan segera menghentikannya…
(sumber : www.islamqa.com)

-Ustadz Sigit Pranowo,Lc-

Ustadz menjawab

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy