Isteri Pertama Menuntut Suami Menceraikan Isteri Kedua

Isteri Pertama Menuntut Suami Menceraikan Isteri Kedua

Assalamualaikum Wr. Wb.

Saya menikah sebagai isteri kedua tanpa sepengetahuan isteri pertama. Ketika akhirnya isteri pertama mengetahui pernikahan kami, beliau menuntut suami buat menceraikan saya. Suami meminta aku buat bersabar dan mengikuti tuntutan beliau sebagai tebusan kesalahan kami sebab telah menutupi (berbohong) pernikahan kami. Suami merencanakan buat menikahi aku kembali setelah kami bercerai tetap secara diam-diam. Hal tersebut dikarenakan isteri pertama telah memantapkan buat tak ingin dimadu.

Saya mengkhawatirkan suami sebab selalu ditekan oleh isteri pertama, sedangkan dia tak mau berpisah dengan isteri pertama (mengingat ada anak-anak) maupun dengan saya.

Demi Allah aku ridho dengan keputusan suami saya, aku menghormati dia sebagai imam saya. Kami saling mencintai dan aku juga mengetahui suami juga mencintai isteri pertamanya.

Apa nan dapat kami lakukan buat meyakinkan isteri pertama buat mengizinkan pernikahan kami? Apakan pernikahan kami sah, mengingat tak adanya izin dari isteri pertama?

Mohon jawabannya ibu, saat ini aku dan suami merasa galau sebab dipaksa buat bercerai.

Wassalam,

Assalammu’alaikum wr. wb.

Ibu NS nan dirahmati Allah,

Nampaknya Anda merasa bingung dan mungkin juga tertekan dengan drama pernikahan nan Anda jalani saat ini. Rasanya tentu tak tenang menjalani pernikahan dengan sembunyi-sembunyi sebab takut dengan isteri pertama nan tak ridho dengan pernikahan ibu dengan suaminya.

Dalam Islam seorang lelaki memang diperbolehkan buat berpoligami, menikah lebih dari satu orang wanita dan tak ada syarat buat meminta izin isteri buat menentukan sahnya sebuah pernikahan. Jadi pernikahan nan Anda lakukan dengan suami dalam pandangan hukum Islam sah-sah saja.

Namun Inti dari sebuah pernikahan tentu bukan sekedar hanya mengikat seseorang secara hukum saja tapi memiliki makna nan lebih dalam dari itu. Sebagaimana Allah sebutkan dalam salah satu firmannya bahwa dijadikannya manusia berpasang-pasangan agar tentram satu sama lainnya. Artinya salah satu fungsi pernikahan ialah memberikan perasaan tentram dan tenang dalam menjalani kehidupan. Sebuah keluarga nan tentram atau nan kita sering sebutkan sakinah mawaddah warrahmahlah nan kemudian akan mampu melahirkan pribadi-pribadi nan kuat dan sholeh.

Ketika pernikahan nan dijalani oleh ibu harus selalui dihantui kekhawatiran buat bercerai sebab dituntut oleh isteri nan pertama maka apakah ketenangan tersebut bisa diwujudkan? Ketika pernikahan dilakukan dengan pemaksaan sehingga menimbulkan kegoncangan dalam rumah tangga sebelumnya, akankah dijamin perkembangan jiwa anak-anak nan tumbuh didalamnya?

Saya memahami perasaan cinta nan ibu rasakan kepada suami saat ini dan kerelaan ibu buat mau dinikahkan dan diceraikan secara diam-diam demi memenuhi permintaan isteri pertama. Cinta mungkin buta tapi nurani kita sebaiknya tetap dipertahankan kejernihannya buat dapat memandang sesuatu dengan obyektif dan rasa ikut merasakan kepada orang lain.

Dalam hal ini tidak banyak nan dapat aku sarankan kepada ibu selain melakukan instropeksi lagi terhadap pernikahan nan ibu jalani saat ini. Menikah, bercerai kemudian menikah lagi diam-diam jelas tak sinkron dengan ajaran Islam nan mengangap pernikahan sebagai sesuatu nan sangat sakral dan agung. Jika memang hendak berpoligami maka lakukanlah dengan baik dan terang-terangan dan terimalah konsekuensinya sinkron cara nan diambil sebagai bentuk tanggung jawab dari keputusan nan diambil. Wallahu’alambishawab.

Wassalammu’alaikum wr. wb.

Rr. Anita W.

Konsultasi

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy