Jangan Sedih, Sayang

Jangan Sedih, Sayang

Raut wajahnya kembali meredup. Dan hal ini selalu terjadi di saat dia dan saudara-saudara sepupunya sedang berkumpul. Salsa, anakku, dia baru berumur 3 tahun 4 bulan. Memang sedikit terpaut jauh dengan saudara-saudara sepupunya nan berumur 12 tahun, 10 tahun, 9 tahun, dan 8 tahun. Ketika mereka berkumpul, secara otomatis mereka berempat membuat kelompok bermain sinkron dengan umur mereka. Kelompok Sang Kakak dan Kelompok Sang Adik, nan tak memasukkan Salsa ke dalamnya. Secara umur berbeda, macam permainan pun berbeda. Sehingga, merasa tersisihkan itu ada dalam dirinya. Ketika sang kakak-kakaknya pun tak ingin diganggu olehnya, khususnya Kelompok Sang Adik.

Aku bukan tak merasakan redupnya. Mungkin saya ialah orang nan paling merasakan apa nan dia rasakan. Aku sering berkata sendiri, membisikkan kata-kata untuknya, dari jauh. Tak tahu dia mendengar bisik itu atau tak tapi saya sangat konfiden hati kami berbicara.

“Sabar Ya, Sayang”

Meski, akupun tidak dapat berharap banyak padanya sejauh mana dia dapat bersabar. Karena tangis itu akhirnya hadir menghiasi redupnya. Seakan mengeluarkan isi hatinya. Dan sudah menjadi tugasku buat menenangkan dan membesarkan hatinya.

“Sa, apa nan Salsa rasain ketika Kak Isma dan Kak Ida bermain bersama.” Tanyaku ketika kami sedang bersama di lain waktu

“Sedih, Mi.” Jawabnya singkat. Dan itu menggambarkan isi hatinya.

Dan saya hanya dapat berkata,

“Sabar Ya, Sayang”

Bukannya saya tidak ingin menolongmu dalam situasi ini. Bukan juga saya tidak ingin membelamu. Bagiku dapat saja, mengingatkan sang kakak buat bersikap baik padamu atau mengharuskan mereka mengikutsertakan dirimu dalam setiap permainan mereka.

Namun, kelak kau akan mengerti. Aku sedang mengajarkan dirimu arti berbagi dan senantiasa peduli pada orang lain, arti ketegaran dan kekuatan diri nan berujung sabar. Meski saya tahu, dirimu masih kecil. Tapi bagiku hal ini harus kuajarkan padamu sedari kecil. Hingga kelak, kau akan mengerti. Dan tidak akan kau biarkan dirimu melakukan hal nan sama seperti mereka memperlakukan dirimu. Karena kelak, kau akan besar dan ada sosok-sosok kecil nan menggantikan dirimu kini.

Jangan sedih lagi, sayang. Karena hayati ini terlalu singkat buat kau lewati dengan kesedihan nan tidak berarti. Gembiralah, dan buatlah kelompok baru dengan penuh kasih dan cinta.

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy