Jejak-jejak Di Hati

Jejak-jejak Di Hati

Masa nan telah lalu niscaya tak akan pernah berulang. Ia akan pergi selamanya dan percuma buat menantinya kembali. Namun, kebersamaan kita kepada orang-orang nan pernah singgah di masa lalu sepertinya tidak akan hilang. Mereka akan meninggalkan jejak-jejak kenangan di hati. Dan hanya kenangan-kenangan indahlah nan senantiasa ingin dimunculkan kembali bersama senyum nan terukir meski sedang sendiri. Sementara kenangan-kenangan nan getir sebisa mungkin buat membuangnya jauh-jauh meski kadang kala ia kembali datang bersama luka lama nan tidak kunjung sembuh.

Fuad. Pertemanan aku dengannya bermula ketika kami sama-sama duduk di kelas satu sekolah dasar. Sejak saat itu, aku dan Fuad bergaul akrab. Meski pernah terjadi sebuah perkelahian antara aku dengan dia dan menyebabkan kami berdua ‘marahan’, tapi itu hanya berlangsung beberapa hari dan tidak pernah terjadi lagi.

Mengenangnya, memori aku langsung tertuju pada masa-masa di mana dia selalu membonceng aku dengan sepedanya setiap kali kami berdua akan bermain ke rumah teman nan lain nan jaraknya lebih dari satu kilometer. Dia tak pernah mengeluh kepada aku nan hanya enak-enakan duduk sementara dia harus mengayuh sepeda pergi dan pulang. Padahal, mungkin buat mengayuh sepeda tanpa membonceng aku juga lumayan berat mengingat badannya nan besar. Tapi sekali lagi, dia tak pernah protes atau meminta aku buat gantian. Mungkin dia memaklumi keadaan aku saat itu nan memang belum dapat naik sepeda.

Fahri dan Zia. Keduanya ialah kakak-adik, teman sekelas dan juga saudara sepupu saya. Rumah merekalah nan menjadi tujuan main aku bersama Fuad.

Kedua orang tuanya boleh dibilang terpandang dan kaya. Setiap kali kami main ke sana, buah jambu biji nan masih berada di atas pohon di depan rumah merekalah nan menjadi target kami. Kami memanjat pohonnya, kami petik buahnya, dan kami makan bersama-sama di atas pohon.

Selain itu, ada sebuah mainan nan kerap kali kami pinjam dari Fahri secara bergantian. Mainan tersebut berupa gamewatch atau gameboy. Dengan memainkannya secara bergantian, kami berlomba-lomba buat meraih nilai tertinggi.

Ikbal. Teman SD nan satu ini, ialah orang nan pertama kali memperkenalkan aku dengan video game. Kala itu masa-masanya nintendo. Jika aku bermain ke rumahnya aku akan diajak ke rumah tetangganya nan menyewakan nintendo. Untuk satu kali permainan kami harus membayar uang sebesar seratus rupiah. Permainan nan sering kami mainkan ialah Super Mario, Space Contra, Kungfu, dan Galaga. Tapi sebab aku tak mahir, aku hanya membantu memencet tombol buat menendang, memukul, atau menembaj saja, sedangkan nan memegang kedali ialah Ikbal.

Syahrul, Fudhoil, dan Sanusi. Ketiganya ialah tetangga sekaligus teman sepermainan dan sekolah, baik di SD maupun SMP. Bersama mereka biasanya aku bermain kelereng. Bersama ketiganya juga, aku biasa berangkat sekolah bersama-sama dengan berjalan kaki, menempuh jeda nan lumayan jauh. Tapi sebab ditempuh bersama-sama dan mengambil jalan pintas, kadang melewati sekolah lain, kadang melewati loka pembuangan sampah, perjalanan tersebut tak membuat kami lelah dan kami tak pernah terlambat tiba di sekolah.

Syahid, Muhiddin, Subhan, dan Hanafi. Kami duduk bersama di kelas tiga SMP. Dari mereka aku merasakan artinya berbagi. Khusunya ilmu. Di masa-masa persiapan menghadapi ujian kelulusan kami melakukan belajar kelompok, berpindah dari satu rumah ke rumah nan lain.

Anuri. Teman aku ketika di SMA ini ialah orang nan pertama kali memperkenalkan aku dengan komputer. Darinya aku belajar bagaimana menjalankan program-program komputer. Atas bantuannya pula aku dapat memiliki sebuah komputer nan pada saat itu lebih bagus daripada miliknya. Namun tidak lama kemudian, dia mengganti komputer lamanya dengan nan baru dengan sepesifikasi nan lebih canggih, sementara aku merasa cukup menikmati apa nan ada.

Rizki. Dia ialah teman kuliah. Pengalaman nan paling berkesan dengannya ialah ketika bersama-sama mempersiapkan persyaratan dan dokumen untu membuat lamaran kerja. Dia membantu aku buat membuat kartu kuning. Salah satu keluarganya nan bekerja di sebuah rumah sakit, memudahkan kami berdua buat mendapatkan hasil rontgen dan referensi bebas narkoba dengan mudah dan murah.

Teguh. Setelah aku bekerja, aku melanjutkan kembali kuliah lagi. Teguh ialah salah satu teman seperjuangan di kampus buat mendapatkan ijazah S1. Kantor kami terletak di loka nan berbeda, namun rumah kami cukup dekat. Dia nan berjasa memberikan tumpangan motor vespanya setiap kai aku pulang dari kampus di malam hari.

Mengenang mereka semua, memunculkan sebuah pertanyaan, jika begitu banyak orang-orang nan telah berbuat baik kepada diri ini, bagaimana dengan diri ini? Apa nan telah diri ini perbuat buat orang-orang di sekitar sehingga dapat meninggalkan jejak-jejak kenangan latif di memori mereka?

dari jiwa nan masih belajar buat ikhlas.

Oase iman

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy