Kambing "Kematian" Disembelih Di Antara Surga Dan Neraka

Kambing "Kematian" Disembelih Di Antara Surga Dan Neraka

Lukmanul Hakim merupakan lelaki sholeh nan banyak menyampaikan nasehat bijak kepada putranya. Ia bukan seorang Nabi atau Rasul Allah ta’aala. Sedemikian mulianya beliau sehingga namanya diabadikan menjadi nama salah satu surah di dalam Al-Qur’an. Di antara nasehatnya nan tak termaktub di dalam Al-Qur’an adalah ucapannya kepada putranya sebagai berikut:

إِعْمَلْ لِدُنْيَاكَ بِقَدْرِ بَقَاعَةَ فِيهَا وَاعْمَلْ لِآخِرَتَكَ بِقَدْرِ بَقَاعَةَ فِيهَا

“Berbaktilah buat duniamu sinkron jatah waktu engkau tinggal di dalamnya. Dan berbaktilah buat akhiratmu sinkron jatah waktu engkau tinggal di dalamnya.”

Subhanallah…! Sebuah nasihat nan sungguh mencerminkan kedalaman perenungan Lukmanul Hakim akan hakekat perbandingan kehidupan di global dengan akhirat. Ia sangat memahami betapa jauh lebih bermaknanya kehidupan di akhirat daripada kehidupan di dunia. Dan betapa fananya global ini dibandingkan kekalnya alam akhirat kelak..!

Coba kita renungkan. Berapa lama jatah waktu hayati kita di dunia? Paling-paling hanya 60-an atau 70-an tahun. Kalau dapat lebih daripada itu tentu sudah sangat istimewa. Seorang nan mencapai usia 100 tahun sungguh sudah sangat luar biasa..! Sehingga Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam mengisyaratkan sebagai berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ

“Umur ummatku antara enampuluh hingga tujuhpuluh tahun, dan sedikit di antara mereka nan mencapai (tujuhpuluh tahun) itu.” (HR Tirmidzi 3473)

Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam mati pada usia 63 tahun hijriyah. Demikian pula dengan kedua sahabat utamanya Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab. Keduanya mati pada usia 63 tahun hijriyah. Ini semata taqdir Allah ta’aala, bukan suatu kebetulan, nan tentunya mengandung misteri dan hikmah ilahi.

Dan berapa lama jatah hayati seseorang di akhirat? Menurut Al-Qur’an manusia bakal hayati kekal selamanya di akhirat. Dalam Al-Qur’an disebut dengan istilah:

خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا

“Kekal selamanya di dalamnya.”

Bahkan di dalam hadits kita jumpai keterangan mengenai hal ini dengan ungkapan nan lebih membangkitkan bulu roma. Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjelaskan bahwa ketika nanti seluruh penghuni surga telah dimasukkan ke dalam surga sementara penghuni neraka telah masuk neraka semuanya, maka Allah ta’aala akan tampilkan kematian dalam wujud seekor kambing nan ditempatkan di antara surga dan neraka. Selanjutnya Allah ta’aala perintahkan malaikat buat menyembelih ”kematian” sambil ditonton oleh segenap pakar neraka dan pakar surga. Sesudah itu Allah ta’aala akan berfirman kepada pakar surga: “Hai penghuni surga kekallah tak ada lagi kematian…” Selanjutnya Allah ta’aala berfirman kepada para pakar neraka: ”Hai penghuni neraka kekallah tak ada lagi kematian…”

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُجَاءُ بِالْمَوْتِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُ كَبْشٌ أَمْلَحُ

Bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam: “Kematian didatangkan pada hari kiamat berupa seekor kambing hitam…” (HR Muslim 5087)

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَارَ أَهْلُ الْجَنَّةِ فِي الْجَنَّةِ وَأَهْلُ النَّارِ فِي النَّارِ جِيءَ بِالْمَوْتِ حَتَّى يُوقَفَ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ ثُمَّ يُذْبَحُ ثُمَّ يُنَادِي مُنَادٍ يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ خُلُودٌ لَا مَوْتَ يَا أَهْلَ النَّارِ خُلُودٌ لَا مَوْتَ فَازْدَادَ أَهْلُ الْجَنَّةِ فَرَحًا إِلَى فَرَحِهِمْ وَازْدَادَ أَهْلُ النَّارِ حُزْنًا إِلَى حُزْنِهِمْ (أحمد)

“Bila penghuni surga sudah masuk surga dan penghuni neraka masuk neraka, datanglah kematian berdiri di antara surga dan neraka, kemudian disembelih. Lalu terdengar seruan “Hai penghuni surga kekallah tak ada lagi kematian… Hai penghuni neraka kekallah tak ada lagi kematian”, maka bertambahlah kegembiraan penghuni surga dan bertambahlah kesedihan penghuni neraka.” (HR Ahmad 5721)

Saudaraku, bila Allah ta’aala taqdirkan kita hayati di akhirat dalam kesenangan abadi di dalam surga tentulah ini suatu kenikmatan nan tiada tara dan bandingan. Sebaliknya, barangsiapa nan ditaqdirkan Allah ta’aala hayati di akhirat di dalam penderitaan abadi siksaan neraka tentulah ini suatu kerugian nan sungguh konkret dan mengerikan…! Na’udzubillahi min dzaalika…!

Pantas bilamana Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menggambarkan betapa tiada berartinya kesenangan global nan penuh kepalsuan jika dibandingkan dengan kesenangan surga nan hakiki, bukan imajinasi atau virtual atau sekedar dongeng orang-orang terdahulu. Begitu pula tiada berartinya kesulitan di global nan penuh tipuan jika dibandingkan dengan kesulitan dan penderitaan sejati neraka nan berkepanjangan tiada ujung akhir, bukan imajinasi atau virtual atau sekedar dongeng orang-orang terdahulu…. Na’udzubillahi min dzaalika…!

يُؤْتَى بِأَنْعَمِ أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُصْبَغُ فِي النَّارِ صَبْغَةً
ثُمَّ يُقَالُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيمٌ قَطُّ
فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ وَيُؤْتَى بِأَشَدِّ النَّاسِ بُؤْسًا فِي الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ
فَيُصْبَغُ صَبْغَةً فِي الْجَنَّةِ فَيُقَالُ لَهُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطُّ هَلْ مَرَّ
بِكَ شِدَّةٌ قَطُّ فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا مَرَّ بِي بُؤْسٌ قَطُّ وَلَا رَأَيْتُ شِدَّةً قَطُّ

"Pada hari berbangkit didatangkan orang nan paling ni’mat hidupnya sewaktu di global dari pakar neraka. Maka ia dicelupkan ke dalam neraka sejenak. Kemudian ditanya:"Hai anak Adam, apakah kamu pernah melihat kesenangan? Apakah kamu pernah merasakan kenikmatan?" Ia menjawab: "Tidak, demi Allah wahai Rabb.”
Lalu didatangkanlah orang nan paling sengsara hidupnya sewaktu di global dari pakar surga. Maka ia dicelupkan ke dalam surga sejenak. Kemudian ditanya:"Hai anak Adam, apakah kamu pernah melihat kesengsaraan? Apakah kamu pernah merasakan penderitaan?" Ia menjawab: "Tidak, demi Allah wahai Rabb. Aku tdk pernah mengalami kesengsaraan dan tak pula melihat penderitaan" (HR Muslim 5018)

Maka saudaraku, pantaskah kita mempertaruhkan kehidupan kita nan hakiki dan abadi di akhirat nanti demi meraih kesenangan global nan fana dan sesungguhnya penuh dengan tipuan nan sangat memperdayakan….? Saudaraku, jadilah orang nan ”cerdas” versi Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Bukan orang nan cerdas berdasarkan pandangan para pencinta global nan sejatinya sangat bodoh dan tak sabar…!

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ

“Orang nan paling cerdas adalah barangsiapa nan menghitung-hitung/evaluasi/introspeksi (‘amal-perbuatan) dirinya dan ber’amal buat kehidupan setelah kematian.” (At-Tirmidzi 8/499)

Suara langit

advertisements

Abu Haidar 2018 - Contact - Privacy Policy