Karena Waktu Tak Akan Kembali

Karena Waktu Tak Akan Kembali

Kotak bentou itu terlihat bersih. Secawan spaghetti, sepotong ika furai dan secawan salad brokoli, nampak tidak bersisa. Hanya cawan-cawan kertas dengan sedikit lumuran minyak nan tertinggal di sana.

Hari ini ialah obentou no hi, hari di mana setiap anak diharuskan membawa bekal makan siang dari rumah. Ada dua kali obentou no hi dalam seminggu. Di hari lainnya anak-anak akan mendapat jatah makan siang dari sekolah. Tapi jadwal itu tak berlaku bagi si Buyung. Karena baginya setiap hari ialah obentou no hi.

Setahun silam, saat saya dan suami mendaftarkan si Buyung ke youchien itu, urusan makan siang menjadi hal krusial nan harus dibicarakan dengan pihak sekolah. Mengingat hanya si Buyung satu-satunya anak muslim nan mendaftar di saat itu.

“Hhmm… kalau begitu, buat makan siang boleh membawa bekal sendiri dari rumah. Karena kebanyakan menu nan disajikan koki sekolah mengandung bahan nan tidak dapat dikonsumsi oleh orang muslim,” ujar Kepala Sekolah setelah mendengar klarifikasi kami tentang bahan makanan eksklusif nan tidak dapat kami konsumsi.

“Tapi tak menutup kemungkinan bila ingin memesan dari sekolah, dengan konsekuensi membawa makanan pengganti ketika menu nan disajikan mengandung bahan nan tidak dapat dimakan,” pria setengah baya nan rambutnya sudah memutih itu melanjutkan ucapannya dengan nada ramah.

Pilihan pun jatuh pada alternatif pertama. Dan itu berarti sederet menu serta setumpuk resep tambahan bagiku. Tak terlalu sulit sebenarnya, sebab setiap akhir bulan pihak sekolah akan memberikan daftar menu kepada semua siswa. Di sana tertulis kuliner apa saja nan akan dijadikan sajian makan siang di bulan berikutnya. Ini jelas membantuku dalam menyiapkan bekal buat si Buyung. Meski tidak selalu sama persis, tapi saya berusaha buat membuat kuliner seperti nan tercantum dalam daftar menu dari sekolah. Beruntung, bocah empat tahun itu tidak pernah protes atas ketidakmiripan hasil olahan Bunda dengan olahan koki sekolah. Meski belum sepenuhnya memahami, tapi setidaknya ia tahu ada bahan makanan eksklusif nan tidak boleh dinikmatinya.

“Ngapain sih Jeng, capek-capek bikin bentou tiap hari? Mendingan pesan dari sekolah. Selain praktis, kandungan gizinya pun terjamin,” komentar seorang teman.

Aku hanya tersenyum menanggapinya. Aku memang bukan pakar gizi nan mahir menghitung kadar gizi dari setiap porsi masakan. Tapi rasa-rasanya setiap orang dapat belajar buat menyajikan menu nan seimbang kandungan gizinya.

“Sudah begitu kita hanya membawa makanan pengganti bila dibutuhkan. Kalau memang keberatan, kan nggak harus bawa. Toh menu nan disajikan pihak sekolah sudah beraneka macam,” lanjutnya.

Aku tidak hendak bersilat lidah dengannya, cukup kukatakan bahwa saya tidak merasa direpotkan dengan urusan bentou si Buyung. Ya, saya menikmatinya. Karena saya tahu waktu tidak dapat berjalan mundur. Si Buyung akan tumbuh semakin besar seiring dengan bergulirnya waktu. Dan tidak akan ada pengulangan masa baginya, buat menjadi anak usia empat tahun dengan sekotak bentou protesis Bunda. Waktu tidak akan pernah kembali…

************

“Bunda, ashita no obentou wa nani?” Kulirik daftar menu nan terpampang di dinding dapur. Ada tertulis butaniku to moyashi no itamemono di deretan menu besok hari. “Mmm.. bagaimana kalau hoshigata onigiri, gyuuniku to moyashi no itamemono, kroket jagung dan yoghurt strawberry?” “Ung!” lelaki kecil itu mengangguk dengan lengkung pelangi terbalik menghias wajahnya.

Ah… Cinta, kuliner Bunda mungkin tidak selezat kuliner koki di sekolahmu. Tapi, tahukah engkau Nak, selalu ada butiran cinta nan Bunda taburkan di setiap porsi nan tersaji untukmu.

Bumi Sapporo, 05072006gilang_tresna@yahoo.com

Catatan:Bentou = bekal makanIka furai = cumi goreng dengan balutan tepung panirYouchien = TKAshita no obentou wa nani = bekal buat besok apaButaniku to moyashi no itamemono = homogen tumis berbahan daging babi dan taugeHoshigata onigiri = nasi kepal berbentuk bintangGyuuniku to moyashi no itamemono = homogen tumis berbahan daging sapi dan tauge

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy