Keluarnya Mazi dan Wadi, Apakah Hadats Besar dan Harus Mandi Janabah?

Keluarnya Mazi dan Wadi, Apakah Hadats Besar dan Harus Mandi Janabah?

Assalamu’alaikum wr. wb.

Ustadz, apakah mazi dan wadi termasuk hadats besar, sehingga seorang laki-laki nan mengeluarkan mazi atau wadi diharuskan mandi janabah, seperti halnya kalau mengeluarkan mani (sperma)?

Demikian, atas jawabannya diucapkan terima kasih.

Jazakumullah khairan khasiran.

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Mazi ialah cairan bening nan keluar dari kemaluan laki-laki biasa, dampak percumbuan atau hayalan. Warnanya bening dan biasa keluar sesaat sebelum mani keluar. Namun tak seperti mani, keluarnya mazi tak deras dan tak memancar. Mazi berbeda dengan mani, yaitu bahwa keluarnya mani diiringi dengan lazzah atau kenikmatan (ejakulasi/orgasme) sedangkan mazi tidak.

Sedangkan Wadi ialah cairan nan kental berwarna putih nan keluar dampak imbas dari air kencing.

Baik mazi maupun wadi, keduanya tak mewajibkan mandi janabah. Yang mewajibkan mandi janabah ialah keluarnya air mani (sperma), baik dengan cara sengaja seperti onani dan interaksi seksual atau tak sengaja seperti mimpi. Dasarnya ialah sabda Rasulullah SAW berikut ini:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رضي الله تعالى عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم الْمَاءُ مِنْ الْمَاءِ رَوَاهُ مُسْلِمٌ, وَأَصْلُهُ فِي الْبُخَارِيِّ

Dari Abi Said Al-Khudhri ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya air itu (kewajiban mandi) dari karena air (keluarnya sperma). (HR Bukhari dan Muslim)

Sedangkan mazi dan wadi, keduanya tak mewajibkan seseorang buat mandi janabah. Lantaran tak menyebabkan hadats besar. Namun keduanya termasuk ke dalam kategori benda najis.

Dasarnya ialah ketetapan para ulama nan mengatakan bahwa semua benda nan keluar lewat kemaluan depan atau belakang ialah najis. Baik berbentuk cair, padat atau pun gas. Kecuali air mani nan justru tak najis. Tetapi menyebabkan hadats besar dan mewajibkan mandi.

Bila keluar mazi atau wadi, maka harus istinja’ seperti keluarnya air kencing. Demikian juga baju nan terkena keduanya, harus disucikan dari najis buat boleh dipakai shalat.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ahmad Sarwat, Lc.

Thaharah

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy