Kembalikan Peran Ibu !

Kembalikan Peran Ibu !

Peran wanita sebagai ibu tidak dapat dianggap sebelah mata. Ibu memerankan peran nan luar biasa dalam mengurusi urusan suaminya, anak-anaknya dan berbagai macam kebutuhan rumah serta keluarganya. Namun sayang, tak semua wanita nan berperan sebagai ibu dapat menjalankan perannya secara utuh. Di sekitar kita saat ini, banyak para ibu nan ‘dipaksa’ terjun membanting tulang di luar rumah buat membantu perekonomian keluarga.

Di tengah himpitan ekonomi dan tingginya biaya hidup, para ibu harus rela berdesakkan berebut ladang pekerjaan dengan kaum lelaki. Era kapitalisme inilah nan memaksa perempuan buat bersaing ketat dengan kaum lelaki buat mendapatkan lembaran-lembaran penyambung nyawa. Apapun dilakukan buat turut serta mengerakkan perekonomian keluarga. Mulai dari menjadi penyapu jalanan, pembantu rumah tangga, buruh pabrik, pedagang, bahkan ada nan menjadi TKI di luar negeri.

Namun, tak semua upaya para ibu ini berjalan mulus. Para ibu nan menjadi TKW di luar negeri harus berjuang lebih keras menghadapi perbudakan nan dilakukan majikan mereka di sana. Tak sporadis hak-hak mereka tak dipenuhi, diperkosa, nasib mereka tak jelas terlunta-lunta menanti dipulangkan, atau bahkan pulang tinggal nama.

Penggiringan perempuan ke sektor publik khususnya ekonomi tak lepas dari program-program nan dibuat oleh pemerintah. Sebut saja program pemberdayaan ekonomi perempuan nan dilakukan oleh Kemenkokesra dan Kemeneg PP dan PA. Dengan dalih menaikkan kualitas hayati perempuan, program-program ini dibuat buat menggerakkan roda perekonomian lewat tangan para perempuan.

Namun, sebab baku hayati nan dipakai ialah sistem kapitalisme nan lebih menyasar pendayagunaan finansial sehingga perempuan menjadi objek kapitalisasi melalui pola hayati konsumtif. Perhatian dan konservasi terhadap mereka hanyalah kamuflase buat mengamankan tujuan keberlangsungan pendayagunaan ekonomi terhadap perempuan.

Rasulullah saw pernah bersabda:

“Ingatlah, setiap kalian ialah pemimpin nan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang amir (kepala Negara ialah pemimpin bagi rakyatnya, nan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya; seorang laki-laki ialah pemimpin rumah tangga, nan akan dimintai pertanggung jawabannya atas kepemimpinannya; seorang perempuan ialah pemimpin atas rumah tangga suaminya dan anak-anaknya, nan akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya..”

(HR. Bukhori-Muslim)

Mengingatkan kembali pada peran primer seorang wanita sebagai ibu dan pengatur urusan rumah tangga / ummu wa robbatul bait, seyogyanya buat mengembalikan peran wanita ke posisi semula. Posisi mulia nan hanya akan didapatkan oleh para ibu dalam Islam. Islam mendudukkan posisi ibu sebagai pengatur urusan rumah tangga bukan dalam rangka mengekang langkah dan mengebiri prestasi perempuan di dalam rumah. Islam memberikan label ibu sebagai pengatur urusan rumah tangga, bukan sebagai tukang cuci dan tukang masak bagi suami dan anak-anaknya. Namun lewat peran ibu lah lewat pendidikan berdasarkan aqidah Islam serta keterikatan dan kepatuhan terhadap hukum syara nan dapat mencetak generasi mulia. Sebagai istri, wanita menjalankan kewajiban-kewajibannya menjadi rekan seperjuangan suaminya dalam mengurusi rumah tangga. Hanya dengan Islam ibu mulia dan sejahtera, berbeda dengan kapitalisme nan hanya memeras perempuan buat dijadikan budak-budaknya. Mari para ibu, kita kembali meraih kemuliaan hayati di global dan akhirat kelak dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban kita sebagai hamba dari dzat nan Maha Segalanya.

Hanifah

Ibu Rumah tangga

Tinggal di Sukajadi Bandung

Akhwat

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy