Kiyai di Republik Maling

Kiyai di Republik Maling

Julukan kiyai di kampung maling diberikan kepada Jaksa Agung Abdurrahman Saleh. Saat awal menjabat menjadi Jaksa Agung.

Dua kata nan paradok antara kiyai dengan maling. Kiyai umumnya dilekatkan dengan masalah agama dan moral serta kebajikan. Sedangkan maling selalu dikaitkan dengan kejahatan. Jadi keduanya tidak mungkin bertemu. Kecuali kalau salah satu berubah. Kiyai berubah menjadi maling, sebaliknya maling berubah menjadi kiyai.

Satire tentang kiayi di kampung maling itu hanyalah menggambarkan, betapa seorang nan moralis, hayati di sebuah kampung (negara), nan sangat korup. Negara kleptokrasi. Negara maling. Negara para koruptor. Negara para bandit.  Negara nan sudah dimangsa dan dikangkangi para koruptor. Jadi bagaimana kiyai akan dapat hidup, dan eksis mendakwahkan ajaran moral, dan menegakkan nilai-nilai moral, di mana lingkungannya ialah para penjahat?

Ibaratnya, hanya seorang kiyai nan meneriakkan nilai-nilai moral, kebenaran, keadilan, dan kejujuran, sementara lingkungannya para maling. Para kleptokrat. Bagaimana bila dia hanya seorang diri, dan tak memiliki kekuatan, menghadapi kekuatan para ‘kleptokrat’? Kleptokrat nan sudah menjadi sistem, dan didukung manusia nan tamak, rakus, dan selalu haus dengan kekuasaan, menghalalkan segala cara, alias machiavelis?

Tetapi, biasanya kiyai nan sudah tak lagi berorientasi pada nilai-nilai agama, dan hanya berorientai kepada kehidupan duniawi, dapat saja akhirnya mengabdi kepada para kleptokrat. Mengabdi kepada koruptor. Mengabdi kepada para machiavelis. Kiayi itu akan mengabdi kepada kehidupan duniawi, dan jati dirinya berubah ikut menjadi maling. Inilah nan sangat mengkawatirkan. Di mana banyak orang nan mula-mula memiliki hati nurani, kejujuran, dan moral, tetapi akhirnya menyerah dan tunduk kepada para koruptor dan penjahat. Karena sudah tak lagi mampu menghadapi kekuatan kaum kleptokrat nan sudah sangat hegemonik, dan menguasai negara.

Tarikan kepentingan kehidupan nan sangat kuat, tak sporadis bisa mengubah watak, karakter, kebiasaan, serta sifat seseorang. Orang baik dapat berubah menjad jahat. Kebaikan terkikis oleh lingkungan nan sudah rusak. Tatanan atau sistem sudah rusak menggerogoti nilai-nilai kebaikan nan dimiliki oleh seseorang. Inilah kekawatiran nan dimiliki banyak orang, khususnya rakyat Indonesia. Di mana sekarang akan ditentukan dua tokoh nan akan menduduki jabatan nan paling menentukan dalam pemberantasan korupsi di Idonesia. Busyro Muqoddas dan Bambang Widjojanto.

Keduanya memiliki integritas. Keduanya memiliki latar belakang hukum. Keduanya mempunyai pengalaman bidang hukum. Tetapi, batas pencerahan orang menentukan sikapnya menghadapi masalah nan sekarang ini sangat akut, yaitu korupsi. Apakah keduanya orang nan berani, konsisten, dan memiliki kesungguhan (istiqomah), khususnya dalam menegakkan hukum dan keadilan di negeri ini?. Sebaliknya, apakah keduanya akan bisa ditekuk para bandit koruptor, nan sekarang ini sudah sangat sistemik, dan ibaratnya seperti binatang predator?

Sekarang dua orang nan masing-masing memiliki integritas itu telah menjalani ‘test and propers’ di DPR. Busyro Muqoddas dan Bambang Widjoyanto. Busyro dan Bambang telah memaparkan visinya, bila diantara keduanya terpilih menjadi Ketua KPK. Busyro menyatakan niatnya dalam pemberantasan korupsi sebagai ibadah. Sementara itu, Bambang akan melakukan langkah-langkah konkrit memberantas korupsi, termasuk melakukan pemetaan terhadap para koruptor.

DPR akan menentukan dan memilih salah satu diantara keduanya. Apakah Busyro atau Bambang? Namun, tak mungkin memberantas korupsi di Indonesia nan sudah bersifat sistemik, dan sudah menjadi ‘aqidah’ para pejabat ini, berlangsung, tanpa adanya ‘good will’ dari penyelenggara negara.

Pengalaman nan ada menunjukkan perlahan-lahan peranan KPK menjad mandul. Ditekuk oleh para koruptor nan sudah sangat berpengaruh ke dalam semua sektor kehidupan di Indonesia. Seperti kasus kriminalisasi nan dialami KPK sebelumnya. Di mana sesudah Antasari, dua pimpinan KPK, Bibit dan Chandra Hamzah juga dikriminalisasi. Sehingga, langkah-langkah pemberantasan korupsi mandeg.

Sebuah citra nan sangat buram. Bagaimana seorang kiayai nan hayati di tengah-tengah kampung (negara) maling? Bagaimana seorang kiyai dapat menegakkan nilai kebenaran, keadilan, dan moral, bila kekuatan kaum maling sudah menjadi sebuah sistem dan hegemonik, nan sifatnya menyeluruh?

Mudah-mudahan kiyai itu tak berubah menjadi maling, dan tetap dapat eksis menghadapi lingkungan nan korup. Wallahu’alam.

Editorial

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy