Kuburan Ditembok Seperti Makam Abu Ayyub Al-Anshari, Bolehkah?

Kuburan Ditembok Seperti Makam Abu Ayyub Al-Anshari, Bolehkah?

Assalamualaikum wr wb

Pak Ustadz, kembali aku melayangkan pertanyaan seputar kuburan, sebab pertanyaan beberapa pekan nan lalu juga belum di jawab, yaitu bagaimana hukum menembok kuburan sebagaimana foto dalam laporan Pak Ustadz ke Istambul, yaitu makam salah satu sahabat Rasulullah, SAW?

Bukankah Rasulullah melarang buat melakukan hal tersebut. Juga kaitannya dengan jamaah haji nan senantiasa menziarahi makam Rasulullah SAW, tidakkah makam Beliau dibeton? Dan tak pulakah makam Beliau itu di dalam Masjid Nabawi?

Kali ini kalau Pak Ustadz punya waktu dan ilmunya, mohon diberi pencerahan?

Wassalamu ‘alaikum wr wb

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabaraktuh,

Kalau kita perhatikan, memang kebanyakan makam para tokoh memang ditembok tinggi. Masjid Al-Imam Asy-Syafi’i di Mesir pun demikian juga.

Yang kami lihat sebenarnya bukan makamnya nan ditembok atau didirikan bangunan. Tetapi nan ditembok ialah pagarnya. Makamnya sendiri malah tak kelihatan, meski kami berusaha mengintipnya.

Lagian, kan cuma makam, sama sekali tak ada nilai ibadah ritualnya. Kalau pun ada nilainya, lebih kepada nilai sejarah dari perjuangan beliau.

Dan rasanya, kami tak melihat saat itu orang-orang datang ke kuburan Abu Ayyub Al-Anshari seperti nan umumnya kita lihat di makam-makam di negeri kita. Tidak ada orang datang minta barakah, atau bawa air buat dibaca-baca, tak ada orang minta jodoh, minta naik pangkat dan jabatan, minta anak atau minta jadi bupati.

Entah kalau di lain waktu ada nan berpraktek seperti itu, tapi nan kami lihat saat menjelang shalat Maghrib hari itu, tak ada satu pun nan melakukannya.

Orang-orang hanya datang dan melihat-lihat saja, selebihnya mereka shalat di masjid di sebelah makam itu.

Kalau kita kembalikan kepada bentuk idealnya, sebenarnya nan paling ideal ialah seperti kubur para shahabat nabi di Makkah atau di Madinah. Semua makam jadi satu, tanpa nisan, tanpa tanda apapun. Yang ada cuma gundukan pasir dan tanah saja. Kita tak tahu, makam siapa saja nan ada di pekuburan Baqi’ Madinah dan pekuburan Ma’la di Makkah.

Itu nan paling ideal, sebagai bentuk implementasi dari hadits-hadits nan tak membolehkan adanya bangunan di atas kuburan.

Namun agak berbeda dengan makam Rasulullah SAW, Abu Bakar dan Umar. Ketiganya dimakamkan di satu tempat, yaitu di rumah nabi Muhammad SAW, tepatnya di dalam kamar.

Dan kamar itu kini posisinya sudah berada di dalam masjid Nabawi Madinah. Padahal, dahulu rumah Nabi bukan di dalam masjid, tetapi di luar masjid.

Namun seiring dengan perkembangan masjid dari waktu ke waktu, masjid semakin melebar ke samping kanan, belakang dan samping kiri, yaitu tepat di posisi rumah nabi SAW.

Maka jadilah rumah nabi nan di dalamnya ada kuburan beliau dan kedua shahabatnya menjadi bagian dari masjid Nabawi. Untuk itu, maka kuburan mereka diberi pagar pembatas, sehingga orang tak shalat menghadap ke kuburan. Dengan adanya pembatas itu, maka orang-orang nan shalat tepat di belakang makam tak lagi dianggap sebagai orang nan shalat menghadap kuburan.

Jadi sebenarnya tak sahih kalau dikatakan bahwa makam nabi Muhammad SAW dibangun di atasnya bangunan. Yang sahih ialah makam itu diberi pagar pembatas nan jelas fungsinya.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabaraktuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Aqidah

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy