Kunci Kemenangan: Sabar Menghadapi Ujian Dan Tawakkal Kepada Allah Semata (1)

Kunci Kemenangan: Sabar Menghadapi Ujian Dan Tawakkal Kepada Allah Semata (1)

Di dalam surah Al-Baqarah Allah سبحانه و تعالى menyatakan bahwa buat berhak memasuki surga orang-orang beriman mesti melalui berbagai ujian terlebih dahulu. Sebagaimana umat beriman di masa lalu juga mengalami berbagai ujian. Allah سبحانه و تعالى berfirman:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang nan beriman bersamanya, ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (QS. Al-Baqarah [2] : 214)

Orang-orang beriman terdahulu telah ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan). Menghadapi malapetaka, kesengsaraan serta digoncangkan dengan aneka cobaan merupakan sebuah sunnatullah nan niscaya harus dialami oleh mereka nan ingin beriman dengan sebenar-benarnya iman. Sebab semua bentuk rekaan (ujian) tersebut merupakan cara Allah سبحانه و تعالى buat menseleksi dan mendeteksi siapa nan sahih dalam pengakuan keimanannya dan siapa nan berdusta.

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedang mereka tak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang nan sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang nan sahih dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang nan dusta." (QS. Al-Ankabut [29] : 2-3)

Bahkan setiap orang beriman harus senantiasa waspada bila ia hayati dalam sebuah kondisi dimana bercampur-baur antara orang-orang nan sahih imannya dengan orang-orang nan palsu keimanannya. Sebab Allah سبحانه و تعالى tak akan biarkan mereka dalam keadaan bercampur-baur terus menerus seperti itu. Allah سبحانه و تعالى suatu ketika akan memilah dan mendatangkan berbagai ujian buat menyingkap hakikat sebenarnya dari masing-masing golongan tersebut.

مَا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتَّى يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ

"Allah sekali-kali tak akan membiarkan orang-orang nan beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan nan jelek (munafik) dari nan baik (mukmin)." (QS. Ali Imran [3] : 179)

Berakhirnya kondisi bercampur-baur antara mukmin dan munafik ditandai dengan datangnya aneka ujian dan cobaan kepada orang-orang nan mengaku beriman tersebut. Ada nan diuji dengan kesulitan hayati dan ada pula nan diuji dengan kesenangan hidup. Ada nan lulus atau gagal menghadapi kedua-duanya. Ada nan lulus atau gagal menghadapi salah satunya. Ada nan gagal menghadapi ujian kesenangan hayati tapi sukses menghadapi ujian kesulitan hidup, ada pula nan gagal menghadapi ujian kesulitan hayati namun sukses menghadapi ujian kesenangan hidup. Tetapi dalam suatu kesempatan Rasulullah صلى الله عليه و سلم pernah mengabarkan bahwa sebagian besar ummatnya cenderung sanggup menghadapi ujian kesulitan hayati namun gagal menghadapi ujian kesenangan hidup.

Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda:

لَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنْ أَخَشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمْ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ

”Demi Allah, bukanlah kefakiran(kemiskinan) nan saya khawatirkan dari kalian. Akan tetapi yg saya khawatirkan atas kalian ialah bila kalian telah dibukakan (harta) global sebagaimana telah dibukakan kepada orang-orang sebelum kalian lalu kalian berlomba-lomba buat memperebutkannya sebagaimana mereka berlomba-lomba memperebutkannya sehingga harta global itu membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan mereka." (HR. Bukhari, No. 2924)

Itulah sebabnya kita dengan mudah bisa menemukan orang nan tadinya sholeh dan rajin beribadah sewaktu hidupnya masih sederhana, bukan orang nan memiliki jabatan atau kekuasaan apapun serta tak dihinggapi popularitas. Namun begitu ia mengalami kelapangan rezeki, memperoleh jabatan dan kekuasaan serta menjadi orang terkenal, tiba-tiba kita dikejutkan dengan ucapan, sikap dan perilakunya nan seolah tak mencerminkan kesholehan masa lalunya. Kitapun menjadi asing dengannya dan diapun menjadi asing melihat kita.

Tapi jangan salah, ada juga ujian kesulitan hayati nan telah diperingatkan oleh Rasulullah صلى الله عليه و سلم agar setiap mukmin bersiap diri menghadapinya. Sebab di masa awal da’wah Nabi صلى الله عليه و سلم dan para sahabat menghadapi kondisi nan sungguh sulit. Para sahabat waktu itu ialah golongan minoritas, tertindas dan terbatas ruang mobilitas beribadahnya. Mereka mengalami aneka bentuk kezaliman dari kaum musyrikin Mekkah nan benci melihat perkembangan da’wah ajaran Tauhid nan kian merebak sehingga mengancam eksistensi para pembesar musyrikin Mekkah. Ada nan diusir dari rumahnya, ada nan disiksa di bawah terik matahari di tengah padang pasir bahkan ada nan dibunuh. Sudah sedemikian beratnya kondisi para sahabat sehingga pada suatu ketika Khabab ibnul Arat mendatangi Nabi صلى الله عليه و سلم meminta beliau buat berdoa kepada Allah سبحانه و تعالى demi keselamatan para sahabat nan teraniaya.

Khabab berkata, "Aku menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau sedang duduk beralaskan selendang di bawah naungan Ka’bah, saat itu kami sedang mengalami siksaan nan sangat keras dari orang-orang Musyrikin. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, tidakkah tuan memohon pertolongan?’ Seketika itu pula beliau bangun dengan muka merah lalu bersabda, ‘Sungguh diantara orang-orang sebelum kalian ada nan disisir dengan sisir besi lalu dagingnya terkupas dari tulangnya atau uratnya namun hal itu tak memalingkannya dari agamanya, dan ada juga nan diletakkan gergaji di tengah kepalanya lalu kepalanya itu digergaji hingga terbelah menjadi dua bagian, namun siksaan itu tak menyurutkan dia dari agamanya. Sungguh, Allah akan menyempurnakan urusan (Islam) ini hingga ada seorang nan mengendarai tunggangannya berjalan dari Shan’a menuju Hadlramaut tak ada nan ditakutinya melainkan Allah atau (tidak ada) kekhawatiran kepada serigala atas kambingnya’." (HR. Bukhari, No. 3563)

Subhaanallah…! Coba bayangkan. Sudahlah para sahabat memang sedang menjalani masa sulit dengan aneka ujian dan cobaan di masa itu. Tetapi lihatlah bagaimana Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم mendidik para sahabat buat bersabar dan melipat-gandakan kesabaran. Justeru mendengar apa nan dikatakan oleh Khabab malah Rasulullah صلى الله عليه و سلم memberikan bayangan ujian kesulitan hayati nan jauh lebih dahsyat nan telah menimpa generasi terdahulu sebelum para sahabat. Ujian generasi terdahulu lebih berat lagi daripada ujian para sahabat. Padahal apa nan dialami oleh para sahabat-pun bukanlah ujian dan cobaan nan ringan…! Bahkan Nabi صلى الله عليه و سلم mengakhiri pesannya kepada Khabab dengan menegurnya secara keras dan menilainya sebagai bagian dari golongan nan tak sabar…!

وَلَيُتِمَّنَّ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى هَذَا الْأَمْرَ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مَا بَيْنَ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ لَا يَخْشَى إِلَّا اللَّهَ تَعَالَى وَالذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ وَلَكِنَّكُمْ تَعْجَلُونَ

"Dan sungguh, benar-benar Allah Tabaaraka Wa Ta’ala akan menyempunakan urusan (agama) ini hingga ada seorang pengendara berjalan dari Shan’a menuju Hadarmaut dalam keadaan tak takut kepada siapa pun kecuali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, atau risi kambingnya akan dimakan serigala. Akan tetapi kalian terburu-buru." (HR. Ahmad, No. 20148)

Suara langit

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy