Kuretase

Kuretase

Assalamu’alaikum wr. wb.

Langsung saja, kalau setelah mengalami/menjalani kuretase, berapa lama suami dan istri tak boleh berhubungan? mohon informasinya, terima kasih.

Wassalamualaikum wr. wb.

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Kuretase merupakan suatu tindakan membersihkan rahim setelah seorang wanita mengalami keguguran. Nifas ialah darah nan keluar dari seorang wanita setelah melahirkan. Apakah wanita nan keguguran juga tergolong dalam kondisi nifas sehingga tak boleh melakukan interaksi suami isteri atau darah nan keluar itu hanyalah merupakan darah istihadah (darah penyakit)?

Dalam Fiqh al-Sunnah, Sayyid Sabiq menyebutkan bahwa nifas ialah darah nan keluar dari seorang wanita setelah habis melahirkan, entah melahirkannya secara normal atau keguguran.

Hanya saja nan menjadi disparitas di antara para ulama ialah terkait dengan usia janin nan keguguran.

Kalangan Maliki dan Syafii memandang wanita nan keguguran sama seperti wanita nan mendapat nifas meski janin tadi baru berupa alaqah atau mudhgah (meski janinnya belum berbentuk).

Berdasarkan ini, maka hukum nifas berlaku bagi istri Anda, termasuk juga tak boleh berhubungan intim sebelum selesai nifasnya. Masa nifas tersebut paling lama ialah empat puluh hari. Namun, kalau darah sudah berhenti sebelum empat puluh hari, dan kemudian istri Anda mandi wajib, maka diperbolehkan buat berhubungan intim. Artinya, tak perlu menunggu empat puluh hari.

Sementara, kalangan Hanafi dan Hambali berpandangan bahwa jika wanita tersebut keguguran sebelum janinnya berbentuk (kira-kira sebelum 120 hari) maka kedudukannya tak seperti wanita nan sedang nifas. Artinya, darah nan keluar darinya tak terhitung sebagai darah nifas tetapi termasuk darah istihadah, sehingga hukum istihadah berlaku.

Oleh karenanya ia tetap wajib melaksanakan sholat dan shaum serta boleh digauli oleh suaminya (hanya saja dari sudut pandang medis sebaiknya interaksi intim menunggu sampai darah nan keluar habis/ bersih, buat menghindari kemungkinan infeksi). Kemudian dalam aplikasi sholat ia diharuskan melakukan wudhu setiap kali akan melaksanskannya serta diharuskan menjaga agar jangan sampai darhnya tersebut berceceran dan mengotori loka sholat. Dari Aisyah Ra. Ia berkata: "Fatimah binti Abi Hubaisy datang kepada Rasulullah SAW, lalu berkata: ‘Wahai Rasulullah saya ialah wanita nan mengalami istihadloh dan tak pernah kudus (berhenti) apakah saya harus meninggalkan sholat?’ Beliau menjawab: ‘Tidak, itu hanyalah penyakit dan bukan haidh. Maka jika masa haidhmu tiba tinggalkanlah sholat dan jika telah selesai maka bersihkanlah darh darimu kemudian berwudhulah setiap kali akan sholat sehingga datang waktu tersebut’" (HR. Bukhori dan Muslim)

Tetapi jika keguguran ini terjadi dan janin sudah berbentuk manusia maka darah nan keluar sesudahnya termasuk darah nifas, dan hukum nifas berlaku padanya.
Wallahu a’lam bish-shawab. (dikutip dari )

Wassalamu alaikum wr.wb.

Konsultasi

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy