La Tahzan Ukhti !

La Tahzan Ukhti !

Oleh : Ummu Ghiyas Faris

Bunyi suara WhatsApp memecah keheningan malam, baru saja saya hendak tidur setelah beraktivitas seharian dengan berbagai agenda dakwah. Kuraih handphone nan tergeletak di atas meja, kubuka dengan mata nan sudah lima watt.. pelan-pelan saya membacanya..

“ Mbak, afwan besok saya ndak ikut kajian ya ..”

Belum sempat saya bertanya alasannya, masuk lagi pesan berikutnya..

“ Mbak, saya pendarahan !’’

“ Ko dapat Ukhti ? Apa nan terjadi ?”

“Selepas maghrib saya pendarahan mbak!” Jawabnya dengan tanda emoticon sedih

“Masya Allah, sudah telepon suamimu ?” tanyaku penuh kecemasan

“Sudah mbak, tapi beliau belum dapat pulang.” Jawabnya dengan emoticon nan tidak kalah sedihnya

“Astagfirullah..!’’hanya itu nan dapat saya jawab dengan nada bercampur sedih, bingung, dan entah bayangan-bayangan nan ada dalam benak ini.

Secepat kilat saya mencari kontak saudariku nan dekat dengan rumahnya buat memberi pertolongan pertama membawanya ke rumah sakit terdekat. Ingin rasanya saya terbang membawa adikku ini, tapi saya sendiri bingung di rumah sendiri, anggota keluargaku belum pulang sebab ada urusan pekerjaan nan memaksanya harus pulang larut.

Segera saya hubungi saudariku buat memintanya datang ke rumah adik kajianku ini. Alhamdulilah segera direspon dan akan membawanya ke rumah sakit. Hatiku sedikit lega, minimal ada pertolongan pertama buat segera mendapatkan solusi medis.

Paginya saya menerima kabar dari saudariku bahwa akhirnya adikku ini harus rawat inap, sebab kondisi nan drop. Alhamdulillah kandungannya dapat diselamatkan walaupun dengan kondisi nan harus super extra menjaganya.

Siangnya saya langsung menjenguknya ke rumah sakit, dengan berbaring seulas senyum menyambut kedatanganku. Ah hati ini bergetar melihatnya, gurat lelah dan mata nan sembab terlihat begitu nampak. Aku dekati dan kupegang tangannya..dia berkata lirih , “Mbak.. saya kehilangan kantung janinku, hanya tinggal satu kantong lagi. Andai saja kantung itu tak pecah mungkin calon bayiku ialah kembar“, ujarnya menahan tangis..

“Dokter mengatakan bahwa kantung nan tinggal satu ini kecil kemungkinan buat dipertahankan”

Pecahlah tangisnya..

“Ukhti…bersabarlah, jangan menangis! Apapun nan terjadi sudah atas kehendak-Nya. Apa nan disampaikan dokter agar kita lebih banyak berdoa, sebab dokter hanyalah wasilah buat menolong, tapi nan menentukan ialah Allah SWT.”

Keesokan harinya ba’da kajian bersama teman-teman nan lain menengok teman seperjuangan dalam dakwah ke rumah sakit. Sahabat seperjuangan ini ialah seorang dokter generik dan sudah lama terbaring lemah di rumah sakit. Bahkan sudah 3 kali dirawat di rumah sakit nan berbeda. Beliau sakit dikarenakan zat antibodi nan menyerang badannya, lebih parahnya nan pertama kali diserang ialah syarafnya, saya sendiri kurang paham nama penyakitnya dalam global kedokteran.

Tak terasa bulir-bulir air mata ini menetes melihat saudariku ini, beliau sudah tidak dapat berbicara hanya tatapan mata nan menjadi penanda bahwa Ukhti ini memahami apa nan kami bicarakan. Aku lihat sekeliling ruang ICU, tidak kuasa melihat saudari-saudari nan lain sedang merasakan ujian sakit. Entah apa sakit nan mereka derita, nan jelas ruang ICU ialah penanda bahwa sakit nan mereka derita cukup parah.

“Ya Allah ..kuatkanlah saudariku, teman seperjuanganku buat tetap sabar dan kuat menghadapi dan menjalani ujianmu” hanya itu doa nan mampu saya katakan.

Kedua Ibrah ini menjadikan kita lebih memahami perjuangan seorang ibu dan betapa bersyukurnya kita diberikan kesehatan. Adapun dalam perjalanannya kuasa Allah nan lebih berperan. Allah sang pemilik jiwa hambanya. Melepas orang-orang nan kita sayang amatlah terasa berat, terlebih itu ialah buah hati kita. Hanya ikhlas dan berserah diri nan dapat kita lakukan menerima kehendakNya.

Setiap kejadian akan ada hikmah nan berharga, insya Allah hikmah itu menjadikan kita sebagai hambaNya nan tetap berjalan di jalanNya walaupun ujian dan cobaan datang silih berganti menghampiri kita.

La Tahzan ukhti…, kami di loka ini berdoa buat kesembuhan kalian agar kita dapat bersama-sama lagi dalam dakwah…

——–

Oase iman

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy