Larangan Sewaktu Junub

Larangan Sewaktu Junub

Assalamualaikum wr. Wb.

Ustadz, aku mau tanya apakah boleh sholat dalam keadaan junub. Saya pernah dengar hal itu diperbolehkan, asalkan mencuci kemaluannya terlebih dahulu, dan sebab air mani bukan najis. Saya juga pernah dengar bahwa makan dan minum dalam keadaan najis diharamkan, benarkah hal tersebut?

Mohon klarifikasi dari pak Ustadz.

Wassalamualaikum wr. Wb.

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Shalat ialah ibadah ritual nan mensyaratkan kesucian. Dan kesucian itu ada dua macam, yaitu kesucian secara hakiki dan kesucian secarahukmi.

Kesucian secara hakiki artinya seseorang harus kudus dari najis, atau benda-benda nan mengandung najis. Sedangkan kesucian secara hukmi ialah keadaan seseorang kudus dari hadats, baik kecil maupun besar.

Kedua jenis kesucian ini harus dipenuhi oleh orang nan akan melakukan shalat. Karena kesucian hakiki dan hukmi ialah syarat dari sahnya sebuah shalat. Di mana tanpa kedua jenis kesucian itu, shalat kita tak memenuhi syarat.

Janabah

Janabah ialah keadaan seorang nan sedang berada pada keadaan tak kudus secara hukmi, khususnya hadats besar. Adapun hal-hal nan menyebabkan seseorang berhadats besar atau dalam kondisi janabah antara lain:

  1. Karena melakukan interaksi suami isteri
  2. Karena keluarnya mani meski di luar interaksi suami isteri
  3. Karena meninggal dunia
  4. Karena mendapat haidh (khusus bagi wanita)
  5. Karena mendapat nifas (khusus bagi wanita)
  6. Karena melahirkan meski tanpa nifas (khusus bagi wanita)

Para ulama umumnya sepakat mengatakan bahwa keenam karena di atas ialah termasuk hal-hal nan mengakibatkan hadats besar.

Hal Yang Terlarang Buat Orang Yang Berhadats Besar

A. Shalat

B. Tawaf

C. Memegang/ Menyentuh Mushaf

لا يمسه إلا المطهرون

`Dan tak menyentuhnya kecuali orang nan suci.`. (Al-Qariah ayat 79)

Jumhur Ulama sepakat bahwa orang nan berhadats besar termasuk juga orang nan haidh dilarang menyentuh mushaf Al-Quran

D. Melafazkan Ayat-ayat Al-Quran kecuali dalam hati atau doa/ zikir nan lafznya diambil dari ayat Al-Quran secara tak langsung.

`Rasulullah SAW tak terhalang dari membaca AL-Quran kecuali dalam keadaan junub`.

Namun ada pula pendapat nan membolehkan wanita haidh membaca Al-Quran dengan catatan tak menyentuh mushaf dan takut lupa akan hafalannya bila masa haidhnya terlalu lama. Juga dalam membacanya tak terlalu banyak.

Pendapat ini ialah pendapat Malik. Demikian disebutkan dalam Bidayatul Mujtahid jilid 1 hal 133.

E. Berihram

F. Masuk ke Masjid

Dari Aisyah RA. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, `Tidak ku halalkan masjid bagi orang nan junub dan haidh`. (HR Bukhari, Abu Daud dan Ibnu Khuzaemah.

Apabila haidh tiba, tingalkan shalat, apabila telah selesai (dari haidh), maka mandilah dan shalatlah. (HR Bukhari dan Muslim)

Larangan Makan Saat Najis?

Dahi kami agak berkerut 10 lipatan ketika membaca pertanyaan ini. Apa maksud haram makan dalam keadaan najis. Apakah maksudnya seorang haram memakan makananan najis? Atau haram makan sesuatu kalau pada tubuhnya ada najis? Atau mungkin maksudnya haram makan sesuatu dalam keadaan janabah?

Kami jawab saja ketiganya. Pertama, haram hukumnya memakan benda nan najis, seperti bangkai, darah, nanah, babi, anjing dan seterusnya. Kedua, seorang nan terkena najis, tak haram makan sesuatu asalkan bukan pada tanggannya. Sebab kalau nan kena najis itu tanganya, tentu najis itu akan ikut termakan aku menyuap. Ketiga, sebagian ulama memakruhkan seorang nan sedang janabah memakan makanan. Tetapi tak sampai diharamkan. Itu pun hanya sebagian ulama nan memakruhkannya.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Thaharah

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy