Lebaran Tidak Lewat Sini

Lebaran Tidak Lewat Sini

Lebaran Tidak Lewat Sini

Menghitung sapta hari Raya Idul Fitri memanglah gampang buat diucapkan. Bak selaksa membuang air liur tanpa lebih dahulu diproses. Dibuang lantas tidak perlu dipikirkan lagi. Namun hal ini beda bila bulan Ramadhan sudah dipenghujung hari. Sehingga tidak terasa puasa sudah memasuki dua pekan dari hari pertama berpuasa. Tinggal 14 hari lagi seluruh umat muslimin di global akan menuju hari Kemenangan. Menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri dengan suka cita nantinya.

Sayangnya hal itu tak dirasakan oleh orang nan sangat familiar buat saya. Dialah kakak perempuan saya. Ia merasa dibuat pusing tujuh keliling bila memikirkan hari Raya Idul Fitri. Atau, lebih dikenal dengan Hari Raya Lebaran. Dimana kakak aku itulah nan merasakan akibat dan efeknya bila hari raya itu tinggalah menjadi sapta waktu nan akan segera tiba. Apalagi kalau bukan meluluskan permintaan pakaian Lebaran buat anak perempuanya. Bertentangan dengan harapan memang!

“Memang puasa tinggal berapa hari lagi, Yan?” tanya kakak aku itu saat ia sedang membuat bumbu masak buat lauk pauk berbuka puasa di tengah hari teriknya matahari nan sangat membakar kulit.

“Lha, memangnya nggak tahu kalau puasa tinggal berapa hari lagi,” jawab aku memastikan bahwa kakak aku itu memang benar-benar tak tahu. Atau, memang ia lagi sibuk membuat bumbu masak jadi tak tahu-menahu sudah berapa hari puasa terlewati.

“Iya nih habisnya mikirin dagangan lagi sepi dan si Pritha minta pakaian lebaran lagi. Pusing nih Mpok, Yan!” seru kakak aku sambil mengoseng bumbu masak di dapur nan aroma baunya tercium sampai ke indera penciuman aku hingga…hatcihhh dan aku pun jadi terbersin-bersin. Itu semua sebab kenakalan aroma bau bumbu masak nan di oseng kakak aku itu. Terus menggelitiki bulu hidung aku agar merasa ikut menikmati aroma itu. Hmm…untungnya iman aku kuat jadi segala aroma tercium tak membuat keteguhan aku buat menjalani ibadah puasa merasa terganggu sedikit pun. Apalagi sampai jebol. Ih, nggak kali,,,Malu sekali kalau hal itu sampai terjadi. Malu sama keponakan aku nan sekarang ini lagi belajar puasa sampai penuh. Pol! Puasa sebulan penuh. Jikalau hal itu dapat terjadi malu dong aku sebagai pamannya. Kok begitu aja tak kuat tahan iman. Cape deh!

Saya nan melihat kegelisahan kakak aku nan memikirkan anak perempuannya yang—masih duduk dibangku kelas 6 SD itu merasa cukup prihatin selaku aku sebagai adiknya. Dikarenakan anak perempuannya itu tidak mengerti juga buat segera dibelikan pakaian Lebaran tanpa melihat kondisi orangtuanya (Ibunya) itu nan notabene kakak aku itu. Tidak mengerti kalau kondisi keuangan kakak aku itu lagi tidak menentu hingga membuat ia semakin jadi tidak konsentrasi menjalankan ibadahnya. Hmm…ternyata susah juga ya jadi orang tua?

Jika aku melihat rasa kegelisahan saat-saat menjelang hari Raya Idul Fitri nan dialami kakak aku itu jadi teringat mitra aku nan belum lama ini curhat dengan saya. Lagi-lagi tentang Hari Raya Idul Fitri nan sebentar lagi tiba. Ya, walau lain kasus tapi tujuannya sama. Yakni, sama-sama gelisah buat menghadapi hari raya nanti itu.

“Gue belum ada persiapan apa-apa ini, Yan,” ucap mitra aku saat ia membuka topik pembicaraan tentang menjelang Hari Raya Kemenangan itu ketika sedang silturahim ke rumah saya. Mitra aku itu terasa tak afdhal bila hari raya itu nanti tak mempersiapkan apa-apa.

“Memangnya ente belum nyiapin apa,” jawab aku memastikan persiapan apa nan belum mitra aku siapi saat itu.

“Gue belum nyiapan THR untuk para keponakan gue. Apalagi gue sudah married berarti bukan keponakan gue aja nan perlu di kasih tetapi keponakan bini gue juga, Yan,” terucap sudah apa nan menjadi kegelisahaan mitra aku itu ketika hari-hari puasa hanya tinggal hitungan jari saja.
“Dikira apa! Ya, santai aja lagi. Nggak usah dipikirin kayak begitu. Gue juga banyak keponakan tapi gue santai aja. Kalau ada ya kasih, lha kalau memang nggak ada mau dikata apa,” jawab aku apa adanya.

Kawan aku hanya geleng-geleng kepala saat aku berkata demikian. Ia tidak menyangka kalau aku menjawab seperti itu. Seperti aku tidak ada beban saat-saat orang lain memikirkan akan datangnya Hari Raya Lebaran nanti tetapi ini aku santai saja. Hingga membuat mitra aku tambah pusing lagi melihat respon aku seperti itu. Ada-ada saja!

Lagi-lagi aku nan melihat keadaan kakak aku dan mitra aku itu aku jadi risi jika hari raya sealu didentikan selalu pakaian baru Lebaran, kue Lebaran, salam tempel serta THR. Wah, bisa-bisa kesakralan hari Raya Idul Fitri sendiri itu akan ternoda dengan hal-hal semacam itu. Hanya sebab pakaian baru Lebaram, kue Lebaran, salam tempel serta THR terus menggelayuti pikiran kakak aku dan mitra aku itu. Kalau sudah begitu bagaimana (mungkin) dapat menjalani ibadah puasa dengan tenang dan khusyu. Bila soal pakaian baru Lebaran untuk anak, salam tempel untuk para keponakan, kue Lebaran buat penyambutan tamu jika bertandang disaat Lebaran hingga THR tak tepat waktu diberikan oleh perusahaan menjadi hantu disaat hari Raya Idul Fitri sebentar lagi tiba.

Entahlah. Itu membuat aku mengernyitkan kening jika aku melihat apa nan sudah aku alami dari kejadian dua orang nan aku jadikan contoh. Agar aku selalu terus menguatkan ibadah aku agar tak terusik dengan datang hari Raya Idul Fitri nanti. Toh, lagi pula memangnya Lebaran jadinya juga lewat sini. Begitulah ketika aku melempari joke-joke ketika kalau aku sedang berkumpul dengan kawan-kawan aku nan lainnya jika topiknya selalu membicarakan tentang hari Raya Idul Fitri nan sebentar lagi tiba. Alias, Lebaran nan identik mempersiapkan keperluan ini-itu. Alah, pusing euy…Padahal belum tentu Lebaran lewat sini! Dan mereka nan mendengar guyonon aku seperti itu tentunya akan sejenak melupakan kegelisahannya saat itu. Hmm…aneh bin ajaib menjadi manusia itu ya? Diberi kenikmatan kadang lupa bersyukur. Bukannya berpikir tahun depan dapat berjumpa Ramadhan lagi atau tidak. Lha ini malah memikirkan besok Lebaran pakai apa ya? Padahal belum tentu Lebaran tahun depan lewat sini!(fy)

Penulis ialah anggota dan pengurus FLP Jakarta dan penulis buku Bela Diri for Muslimah. Jika ingin bersilaturahim tinggal klik:sebuahrisalah.multiply.com/Fb:bujangkumbang@yahoo.co.id.

Ulujami—Pesanggrahan, 14 Ramadhan 1430 H

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy