Lupa Bersyukur

Lupa Bersyukur

Bersyukur ialah hal nan sering aku lupakan. Lebih sering aku mengeluh, lebih sering aku melihat dari sisi nan negative, dan lebih sering aku membandingkan satu hal nan aku peroleh dengan hal baik nan sedang tak aku peroleh.

Padahal Allah berfirman:
Bersyukurlah, maka akan Aku tambah nikmat-Ku

Ketika tangan tergores pisau, tergesa-gesa aku menilai betapa kurang beruntungnya aku pagi ini. Semestinya aku tak harus tergores sehingga tidak perlu ada darah dan luka. Seketika aku mengeluhkan tangan nan tidak dapat secekatan sebelumnya.
Saya lupa, bahwa dengan hal kecil itulah Allah mengingatkan saya.
Betapa selama ini aku melupakan syukur kepada-Nya atas karunia 10 jari tangan nan dapat berfungsi dengan baik, tapi tak difungsikan dengan benar. Masih sering aku tak banyak membantu disaat orang lain memerlukan donasi tangan saya. Masih sering aku malas-malasan melakukan kebaikan lewat tangan saya. Masih banyak daftar buruk nan dilakukan tangan aku daripada daftar baik nan dilakukannya.

Ketika mulut tidak sengaja tergigit dan meninggalkan luka, secepat itu pula aku mengeluh akan kemungkinan tak nikmatnya aku makan. Saya lupa bahwa Allah sungguh sayang kepada aku dan mengingatkan aku dengan cara-Nya nan indah. Betapa selama ini aku lupa mensyukuri nikmatnya. Lebih banyak kata-kata kosong nan aku ucapkan. Lebih banyak hati terluka sebab ucapan saya. Lebih banyak kata tidak bermanfaat nan terhambur dibandingkan mengumandangkan kalam-Nya.

Ketika kaki tersandung dan terluka, saat itu pula aku menyesalkan langkah aku nan tidak lagi sempurna. Tak aku tahu bahwa itulah cara Allah mengingatkan aku atas kurangnya kaki berbuat baik, jarangnya kaki melangkah menuju tempat-tempat nan baik, atau tidak seringnya kaki melangkah buat bersilaturahmi, . Juga masih seringnya kaki berjalan tidak bermanfaat dan melangkah ke tempat-tempat nan tidak ada gunanya.

Jadi apa nan akan aku jawab dihari penghisapan kelak jika Allah menanyakan kebaikan apa nan telah tangan aku lakukan? Kata-kata baik apa nan telah aku ucapkan? Atau ke loka baik manakah kaki telah aku langkahkan?

Saya tidak punya jawaban.

Semestinya aku harus menyiapkan cermin besar nan akan selalu memberi pantulan jernih terhadap nikmat apa nan sudah aku peroleh.
Cermin lapang nan darinya aku dapat melihat betapa Allah telah memberi aku sebanyak nan aku inginkan, bahkan lebih dari itu.
Cermin tidak retak nan akan memantulkan bahwa hal kurang baik nan aku terima ialah tidak sebanding dengan banyaknya hal latif nan aku dapat.
Cermin jernih nan aku dapat dengan lapang dada menerima kekurangan nan aku terima dan berharap akan pahala Allah atas kesabaran aku menerimanya.

Ternyata aku masih harus banyak belajar Tentang hayati dan kehidupan Tentang rasa syukur nan tidak pernah ada.
Tentang apa saja

Yang semoga akan menuntun aku kepada kebaikan di akhirat kelak.
Amin.

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy