Makna Sebuah Kelulusan

Makna Sebuah Kelulusan

“Selamat Saudari Dinyatakan Lulus!” Subhanallah walhamdulillah, yaa mungkin hanya kata itu nan dapat menggambarkan betapa mengesankannya kelulusanku kali ini. Lulus? Biasa aja kale, toh banyak mahasiswa nan lulus. Wow ada nan membuat ujianku berbeda dengan mahasiswa nan lain sebab ujianku bukan sekedar ujian akademik tapi juga ujian memaknai kehidupan, yaa dapat juga dikatakan uji nyali.

Bagaimana tak mengesankan sebab sebelumnya saya terancam tak dapat lulus. Bukan sebab masalah IPK atau masalah nilai tapi sebab sebuah kesalahpahaman antara saya dan ketua program, katanya sih sebab ada sebuah mekanisme nan saya langkahi dan peraturan nan saya langgar.

Semua berawal dari kepergianku selama 3 hari menjadi relawan ke Yogya pada saat saya melaksanakan PKL dan hanya meminta izin ke loka PKL. Terbilang nekat tapi kenekatanku ini pun ada pertimbangannya sebab diperjanjian internship dikatakan diperbolehkan izin selama 3 hari. Ternyata Wow, dahsyat efeknya dan melibatkan banyak pihak bahkan organisasi profesi pun terlibat.

“Kamu ini bagaimana sih, ya aku konfiden kamu ini punya kepedulian dan bagi aku itu baik tapi ada saatnya kan, enggak mesti sekarang di mana kamu ada diakhir dari awal hayati kamu dan sikap semau kamu malah menghancurkan hayati kamu. Bagi aku lebih baik aku menghadapi pertanyaan para dosen, kok dapat seorang seperti kamu tak dapat lulus, daripada aku melemahkan anggaran itu, biar jadi pelajaran untuk nan lain. Bagi aku tak ada kata maaf dan kamu aku anggap tak menghadap saya,” kurang lebih itulah perkataan ketua program nan membuatku Innalillahi, semuanya terkembali pada-Mu ya Rabb.

Keluar dari ruang ketua program, sambil menarik nafas pppffh kukatakan pada temanku nan ikut juga ke yogya bahwa “bapak marah banget dan tidak ada kata maaf, dia mengancam tak lulus, tapi ini salahpaham niscaya ada jalan keluarnya.” Sebenarnya saya sudah ada pada posisi paling siap menerima apapun keputusannya. Allah tujuanku, kalau ketika kuberangkat ke yogya tak ada satu pun nan saya temukan kecuali kemudahan maka sepulang dari sana pun saya konfiden Dia Al-Hafiiz tak akan menyia-nyiakanku, niscaya Dia punya planning besar dibalik ini semua, bukankah hanya hamba terpilih nan akan diuji dan hamba terpilih itu ialah kami. Tapi ketegaran itu tergoyahkan ketika ku melihat paras kedua temanku, sedih sendu, kulihat airmata nan tertahan pada mata sahabatku bahkan salahsatunya tidak kuasa menahan airmatanya. Ya Allah ini semua membuatku merasa bersalah, akulah nan mengajak mereka, saya harus bertanggungjawab atas mereka, seandainya tak lulus ialah hukumannya maka biar saya saja nan tak lulus sebab akulah playmaker nya.

Kuputar otakku, ku coba berfikir mencari jalan dan pendekatan apa nan dapat kulakukan. Sebenarnya banyak dosen nan dapat kumintai pembelaan tapi ini ialah masalahku, ku tidak ingin memperluas permasalahan. Hanya 5 hari waktu nan kupunya buat menyelesaikan masalah ini sebab segera akan diadakan ujian tertulis. Ketika ku sedang berfikir buat mencari solusi, tiba-tiba teman-teman kepanitian menghampiriku “Ya ampyun, dari tadi dicariin ternyata di sini, kenapa lo sakit, diem aja tumben amat, ini nih ada masalah masa bla bla bla, gimana dong?” dan banyak dari mereka nan mengeluh. Pfffh ya Allah tarbiyah apa nan hendak Kau ajarkan kepadaku, ketika ku bermasalah dan ku berdoa mohon kekuatan, Kau malah memberikanku masalah lain.

Emosiku mulai rancu pada hari itu, syaitan mulai mengagresiku dan ketidakikhlasan menghampiriku. Aah udahlah ngapain sih mikirin tentang seminar, toh bapak mengancam saya gak dapat lulus, dan bapak tak mempertimbangkan terhadap apa nan telah saya perbuat buat jurusan selama ini dan hanya sebab sebuah kesalahpahaman saya divonis dengan sanksi nan tak adil. Sepertinya saya mau menyerah saja, Ya Rabb rasanya hamba tidak sanggup, apalagi ketika mendengar teman panitia berkata “Ya udah lo aja ya nan menghadap bapak sekarang dan jelasin semua masalah seminar kita”. Hah!! Bagaimana mungkin saya harus menghadap seorang nan tadi pagi marah besar denganku dan saya harus memberitahunya tentang masalah nan dihadapi kepanitian, kemarahan kayak gimana lagi nan akan dia tunjukkan. Ingin rasanya kutunjukkan ketidaksanggupanku, tapi saya bukanlah pengecut sebab saya punya Engkau ya Muhaimin dan kuserahkan semuanya kepadaMu, ibarat orang nan telah tercebur hanya ada dua pilihan berenang atau tenggelam.

Akhirnya kuberanikan diri buat menghadap, melihat wajahku lagi, sudah jelas aktualisasi diri apa nan bapak tunjukkan, yups marah, bete, kesal, tak bahagia dan sejenisnya. Apalagi ketika kuceritakan tentang masalah seminar. “Kalian gimana sih, jangan main-main ya, ini tingkatnya nasional loh bla bla,” begitulah bentak bapak dengan nada tinggi. “Jadi begini pak bla bla bla,” entah darimana kudapatkan kekuatan buat dapat menjelaskan, niscaya dari Engkau duhai Al-Latiif. Tak terasa lebih dari 3 jam saya berada diruangannya dan terakhir ku sadar bahwa perbincangan tak lagi seputar seminar tapi berbagi kisah bagaimana menjalani hayati buat dapat menjadi orang hebat nan bijak.

Subhanallah seiring waktu kesalahpahaman ini pun dapat terselesaikan dan tidak pernah terfikir olehku bahwa masalah nan menambah masalahku itu ternyata ialah jalan keluarnya. Teringat sebuah syair ‘History of a Prayer’, nan berbunyi “Ketika Kumohon pada ALLAH Kekuatan, ALLAH memberiku kondisi bahaya buat kuatasi!”

Kini sangat manis kelulusan itu terasa olehku dan nan lebih manis lagi ialah tarbiyah nan kudapat dari hikmah permasalahan ini. Dan inilah nan Allah hendak ajarkan kepadaku:

In Times of difficulties don’t ever say “God, I have a big problem”
But instead, “Hi Problem, I have a big God and everything will be alright”

Aah tidak sabar rasanya segera mengenakan pakaian toga, mendapat penghargaan rektor sebagai wisudawan cumlaude termuda. Aku sangat bersyukur disaat sebagian besar teman-temanku sibuk mencari pekerjaan, disaat saya belum diwisuda, sebuah perusahaan asing sudah menerimaku sebagai karyawan dengan gaji dan fasilitas jauh di atas baku teman-temanku. Ya Allah terimakasih ini ialah hadiah nan sangat latif untukku, dibalik semua masalah ini tersimpan rapi sebuah planning dahsyat, dan membuat semua nikmat ini menjadi lebih manis dan indah. Teringat sebuah nasehat tentang resep kehidupan: Jika Kamu Bersyukur Maka ALLAH Tambahkan, Jika Kamu Berserah Maka ALLAH Lapangkan. Dan Subhanallah resep itu terbukti manjur untukku. Thanks Rabb for My Beautiful Life.

Oase iman

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy