Manajemen Ramadhan Rasulullah (1)

Manajemen Ramadhan Rasulullah (1)

Agar Ramadhan menjadi bulan rahmat, ampunan dan keselamatan dari neraka maka momentum nan penuh berkah ini perlu dijadikan sebagai momentum Training Manajemen Syahwat, dan sekaligus menjadi Training Manajemen Ibadah. Inilah nan dilakukan Rasul Saw. Sebab itu, kita perlu menelusuri bagaimana Rasulullah Saw dan generasi Islam pertama, generasi terbaik umat ini, menjalankan manajemen Ramadhan.

Untuk mendapatkan citra utuh dari manajamen Ramadhan Rasul Saw. ada empat situasi nan perlu kita perhatikan. Pertama, sebelum memasuki Ramadhan. Kedua, saat memasuki Ramadhan. Ketiga, setelah memasuki Ramadhan. Keempat, ketika memasuki 10 hari terakhir.

Pertama, sebelum memasuki Ramadhan
Para Sahabat dan generasi setelah mereka (Tabi’in) selalu merindukan kedatangan Ramadhan. Mereka selalu berdoa agar diberi Allah kesempatan menemui Ramdhan sejak enam bulan sebelum Ramdhan tiba. Imam Malik, misalanya, sering minta izin pada sahabatnya setelah pengajian buat mempelajari bagaimana Sahabat memenej kehidupan ini, termasuk hal-hal nan terkait dengan Ramadhan mereka. Kendati Beliah tak hayati bersama para Sahabat, namun Beliau mampu menteladani merka melalu sejarah hayati mereka.

Ma’la Bin Fadhal berkata : Dulu Sahabat Rsul Saw. berdoa kepada Allah sejak enam bulan sebelum masuk Ramadhan agar Allah sampaikan umur mereka ke bulan nan penuh berkah itu. Kemudian selama enam bulan sejak Ramadhan berlalu, mereka berdoa agar Allah terima semua amal ibadah merkea di bulan itu. Di anatar doa merkea adalah : Yaa Allah, samapaikan saya ke Ramdhan dalam keadaan selamat. Yaa Allah, selamatkan saya saat Ramadhan dan selamatkan amal ibadahku di dalamnya sehingga menjadi amal nan diterima.

Dari sikap dan doa nan mereka lakukan, jelas bagi kita bahwa para Sahabat dan generasi setelahnya sangat merindukan kedatanagan Ramadhan. Mereka sangat berharap bisa menjumpai Ramdhan agar mereka meraih semua janji dan tawaran Allah dan Rasul-Nya dengan berbagia keistimewaan nan tak terdapat di bulan-bulan lain. Hal tersebut menunjukkan bahwa para Sahabat dan generasi setelahnya memahami dan konfiden betul akan keistimewaan dan janji Allah dan Rasul-Nya nan amat luar biasa seperti rahmah (kasih saying), maghfirah (ampunan) dan keselamatan dari barah neraka. Inilah nan diungkapkan Imam Nawawi : Celakalah kamu Ramadhaniyyin. Mereka tak mengenal Allah kecuali di bulan Ramadhan. Sungguh Rasulullah, Sahabat dan generasi setelahnya mengenal Allah sejak jauh-jauh hari sebelum Ramadhan dan di bulan Ramadhan sosialisasi kepada Allah lebih mereka tingkatkan.

Kedua, saat memasuki Ramadhan
Saat hilal muncul di ufuk pertanda Ramadhan tiba, Rasul dan para Sahabat melihat dan menyambutnya dengan suka cita sambil membacakan doa seperti nan diceritakan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu dalam hadits berikut :

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا رَأَى الْهِلاَلَ قَالَ :« اللَّهُ أَكْبَرُ ، اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالأَمْنِ وَالإِيمَانِ وَالسَّلاَمَةِ وَالإِسْلاَمِ وَالتَّوْفِيقِ لِمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى ، رَبُّنَا وَرَبُّكَ اللَّهُ

Dari Ibnu Umar dia berkata : Bila Rasul Saw. melihat hilal (anak bulan) dia berkata : Allah Maha Besar. Ya Allah, jadikanlah hilal ini bagi kami membawa keamanan, keimanan, keselamatan, keislaman dan taufik kepada nan dicintaii Rob kami dan diridhai-Nya. Rob kami dan Robmu (hilal) ialah Allah. (HR. Addaromi).

Itulah contoh konkret dari Rasul Saw. dan para Sahabat ketika meyambut kedatangan Ramadhan. Bukan dengan hiruk pikuk pawai di jalanan sambil keliling kota memukul beduk dan sebagainya. Tidak pula dengan pesta petasan nan jelas-jelas menimbukkan keributan dan mubazir. Bukan pula dengan ajang promosi produk dan dan iklan diri agar dikenal dan dipilih masyarakat buat jadi pejabat. Namun, keyakinan, pikiran, perasaan, kerinduan dan hati mereka tertuju hanya pada kebesaran Ramadhan nan dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Dengan harapan, jika amal ibdah Ramdhan dijalankan dengan ikhlas dan khusyu’, mereka akan meraih rahmat, ampunan dan terbebas dari barah neraka. Ketiga nikmat itu tak akan ternilai harganya bagi mereka kendati dengan global dan seisinya.

Ketiga, setelah memasuki Ramadhan
Apa nan dilakukan Rasul dan para Sahabat setelah memasuki Ramadhan? Setelah memasuki bulan Ramadhan, sejak hari pertama dan sampai hari terakhir, Rsulullah dan para Sahabat meningkatkan kemampuan menahan diri dari berbagai syahwat, seperti syahwat telinga, syahwat mata, syahwat lidah, syahwat perut (makan dan minum), syahwat kemaluan, syahwat cinta dunia, syahwat kesomobngan dan berbagai syahwat nan memalingkan mereka dari mengingat dan cinta pada Allah serta akhirat. Latihan mengendalikan dan menundukkan berbagai syahwat ini dilakukan sejak terbit fajar sampai tenggelam matahari. Inilah inti shaum (puasa) Ramadhan nan diwajibkan Allah.

Apakah seteleh sepanjang hari bergulat dengan dorongan-dorongan berbagai syahwat tersebut di malamnya digunakan buat istirahat, makan, minum dan sebagainya? Ternyata tidak. Di malam harinya Rasulullah dan para Sahabat memanfaatkannya buat qiyam (berdiri beramal ibadah) seperti shalat taraweh, berzikir, membaca dan tadabbur Al-Qur’an dan berbagai ibadah lainnya. Artinya, selama Ramadhan, Rasul dan para Sahabat benar-benar menfokuskan diri bertaqorrub dengan Allah melalu traininag manajemen syahwat dan sekaligus training manajemen ibadah. Dua hal inilah nan harus dimiliki oleh setiap hamba nan ingin mendapat ridha Allah di global dan berjumpa dengan-Nya di syurga.

Aisyah meriwayatkan : Rasulullah ialah orang nan paling dermawan. Di bulan Ramadhan Beliah lebih dermawan lagi ketika berjumpa Jibril. Jibril menemui Beliau setiap malam Ramadhan buat mengajarkan (mudarosah) Al-Qur’an. Sebab itu, kederwawanan Rasul Saw. di bulan Ramadhan lebih kencang dan lebih merata dari angin. (HR. Bukhari).

Inilah contoh konkret dari Rasul Saw. dan para Sahabat ketika mereka memasuki bulan Ramadha. Hampir tidak satupun syahwat nan tak bisa mereka tundukkkan dan kendalikan dan tidak satupun kebaikan dan amal sholeh nan mereka tinggalkan. Ramadhan benar-benar menajdi sistem penyemimbang dalam hayati ini sehingga mereka sukses terbebas dari pengaruh syahwat sebab merekalah nan mengendalikannya. Pada waktu nan sama, merke sukses meningkatkan kualitas diri dengan berbagai amal ibadah nan mereka lakukan dalam rangka taqorrub ialallah. Dengan demikian tercapai janji Rasul Saw. Siapa nan shaum (puasa) di bulan Ramadhan dan dia mengetahui anggaran mainnya (batas-batasnya), dia menjaga apa nan seharusnya dijaga maka akan dihapus dosa-dosa sebelumnya. (HR. Ahmad dan Baihaqi).

Keempat, ketika memasuki 10 hari terakhir Ramadhan
Jika kita teliti prilaku hayati Rasul Saw. dan para Sahabat di bulan Ramadhan, kita menemukan berbagai keajaiban. Di antaranya ialah, saat memasuki 10 hari terakhir Ramadhan. Apa nan mereka lakukan sangat paradoksal dengan apa nan terjadi di negeri ini. 10 Hari terakhir Ramdhan mereka habiskan di masjid, bukan di pasar, loka kerja, di pabrik, kunjungan daerah dan sebagainya.

Menurut presepsi dan prilaku kebanyakan masyarakat Msulim Indonesia, 10 terakhir Ramdhan itu ialah kesempatan berbelanja buat mempersiapkan keperluan lebaran dan pulang kampung, kendati mengakibatkan harga-harag semua barang naik dan membubung. Anhenyam, mereka ikhlas dan tetap semangat berbelanja. Sebab itu, mereka meninggalkan masjid-masjid di malam hari dan tumpah ruah ke tempat-tempat perbelanjaan sejak dari nan tradisional sampai ke mal-mal moderen.

Lalu apa nan terjadi? Berbagai syahwat cinta global tak sukses dikendalikan, dan bahkan cenderung dimanjakan di bulan nan seharusnya dikendalikan. Pada waktu nan sama, semangat beramal ibadahpun tak terbangun dengan baik sehingga kehilangan banyak momentum dan keistimewaan nan dijanjikan Allah dan Rasulnya. Coba bayangkan, terhadap janji Allah nan bernama Lailatul Qadr yyang nilainya lebih baik dari 1.000 bulan saja belum tertarik? Jika tertarik, tentu mereka mengejarnya di masjid pada 10 hari terakhir Ramdhan dengan cara beri’tikaf di dalamnya secara penuh seperti nan dicontohkan Rasul Saw. Ini nan terjadi pada salah seorang teman ketiak ditanya kenapa gak jadi i’tikaf? Dia katakan : aku sedang sibuk-sibuknya pengenalan ke daerah. Lalu aku katakana : Mana nan lebih mahal menurut Rasulullah, in’tikaf di masjid 10 hari terakhir Ramdhan atau sosialiasi pencalegan Anda? Kemudian Anda dapat jamin umur Anda akan sampai pada 10 terakhir Ramadhan nan akan datang? Sungguh terkadang kita berlagak seakan lebih pintar, lebih hebat dan lebih sibuk berjuang dari Rasul Saw.

Dalam sebuah hadits nan diriwayatkan Bukhari, Abu Daud dan Ibnu Majah bahwa Rasul Saw. beri’tikaf 10 hari terakhir Ramdhan. Pada tahun terakhir bertemu Ramadhan, Beliau i’tikaf selama 20 hari. Kebiasaan I’tikaf ini diteruskan oleh para Sahabat dan istri-istrinya setelah peninggalan Beliau.

Inilah prilaku nan dibangun Rasul Saw. saat memasuki 10 hari terakhri Ramadhan dan diteruskan oleh para Sahabat dan istri-istrinya sepeningggalan Beliau.

Pertanyaannya ialah : Bukankah Rasulullah orang nan paling sibuk mengurusi umatanya? Buakankah para Sahabat orang nan paling giat berdakwah dan berjihad di jalan Allah? Lalu, kenapa mereka dapat melaksanakan i’tikaf di 10 terakhir Ramadhan? Jawabanya adalah : itulah jalan nan harus ditempuh sebagai bagian dari sistem Allah nan menyampaikan hamba-Nya ke taraf taqwa, tidak terkecuali Rasulullah dan para Sahabatnya. Lalu bagaimana dengan kita? Sudah niscaya jalannya sama jika menginginkan sampai ke pringkat nan sama (taqwa).  (bersambung)

Peradaban

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy