Mari Lupakan Kasus Primer Gayus Tambunan

Mari Lupakan Kasus Primer Gayus Tambunan

Selasa kemarin, Kejaksaan Agung melalui Kepala Pusat Penerangan Hukum atau Kapuspenkum mengeluarkan pernyataan P21 atau lengkapnya hasil penyidikan terhadap Gayus Tambunan. Dan tidak lama lagi, Gayus kembali ‘manggung’ di pengadilan. Sayangnya, kasus nan di-P21 itu masih belum nan utama, melainkan kasus susulan berupa pemalsuan paspor.

Inilah kelanjutan drama penanganan kasus mafia pajak Gayus Tambunan nan awalnya diangkat Komjen Pol Susno Duadji. Pernyataan P21 ini menandakan kalau Gayus akan mengalami persidangan kedua setelah usainya sidang pertama nan melibatkan salah satu wajib pajak nan ditangani Gayus, PT Surya Alam Tunggal.

Menariknya, seperti nan sudah disuarakan oleh pemerhati hukum seperti Todung Mulya Lubis, Teten Masduki, Febridiansyah dan lain-lain, sidang kasus Gayus pertama hanya menyangkut satu dari empat puluhan wajib pajak nan ditangani Gayus. Nilainya hanya 570 juta rupiah, atau tak sampai satu persen dari total kocek nan disita polisi atas nama Gayus nan mencapai lebih dari 100 milyar rupiah.

Bahkan, pengacara senior nan juga pengacara Gayus sendiri, Adnan Buyung Nasution, jelas-jelas menyatakan kepada media bahwa persidangan ini hanya sandiwara buat menutupi kasus Gayus nan sebenarnya.

Di antaranya, dalam persidangan, Gayus menyebut beberapa perusahaan milik Abu Rizal Bakri nan sudah ‘menyumbang’ milyaran rupiah. Dan saat itu, polisi menyatakan bahwa tak semua pengakuan di persidangan dapat menjadi bukti buat menyeret seseorang menjadi tersangka.

Inilah kasus mafia pajak taraf ‘teri’ seperti diucapkan Gayus sendiri, nan begitu menghebohkan dan membelit seperti gurita ke banyak pihak, tapi kemudian menjadi bonsai. Tekanan publik buat mengungkap kasus Gayus lanjutan nan melibatkan empat puluhan wajib pajak lambat laun ditelan badai isu terorisme dan ‘hantu’ NII.

Dan kini, Gayus akan memasuki persidangan berikutnya setelah pernyataan P21 Kejagung. Sayangnya, tuntutan publik buat mengungkap kasus Gayus dengan empat puluhan wajib pajak dengan nilai kocek seratus milyar rupiah seolah menjadi hal nan tidak perlu diprioritaskan. Karena Gayus masih harus ‘manggung’ di persidangan dengan lakon paspor palsu. Itu pun masih menyisakan seorang tersangka nan hingga kini masih gelap, John Jerome.

Dari drama kasus mafia pajak ini, publik seolah diajak oleh sebuah keadaan nan begitu melelahkan: mari lupakan kasus primer Gayus Tambunan.

Editorial

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy