Mawaddah “Unlimit Love”

Mawaddah “Unlimit Love”

Terinspirasi ketika belajar ushul fiqh bersama guru saya, pada waktu itu pembahasannya tentang qarinah, tapi kemudian guru aku sekilas bertanya, kecintaan seorang ibu kepada anaknya apakah al hubb atau mawaddah?

Kecintaan seorang suami kepada istrinya nan tetap setia bertahun-tahun hayati bersama, tanpa melihat fisik apakah al hubb atau mawaddah?

Kecintaan Rasulullah saw ketika mendakwahi umatnya nan susah diajak berpikir apakah al hubb atau mawaddah? Awalnya, aku fikir maknanya sama saja yaitu cinta, diantara dua kata nan berasal dari bahasa ‘arab tadi.

Ternyata salah, itulah kedalaman bahasa ‘arab memiliki makna luas dan bermakna. Al hubb dan mawaddah ternyata sangat jauh berbeda.

Al hubb adalah cinta nan memiliki batas waktu buat mencintai sesuatu, apakah itu cinta kepada manusia atau benda. Dan mudah berpindah jika menemukan nan lebih besar khasiatnya bagi dia.

Al hubb dapat kita lihat faktanya saat ini, mencintai tanpa ada rasa tanggung jawab dan kotmitmen terhadap nan ia cintai.

Perceraian marak sekali terjadi, durhaka anak kepada ibunya, putusnya tali silahturahmi antara keluarga, saling bermusuhan antara tetangga satu dengan nan lain dll. Karena standarnya ialah cinta atas dasar maslahat sehingga berdampak akan mudah sekali hilang cintanya jika dia tak menemukan mashlahat terhadap nan ia cintai.

Mawaddah ialah cinta nan unlimit atau tak terbatas sampai kapanpun. Inilah kecintaan nan dimiliki oleh seorang ibu terhadap anaknya.

Cintanya seorang ibu akan hayati sampai kapanpun tak terbatas tempat, waktu, dan usia anak.

Begitu juga cintanya sepasang suami istri nan sudah hayati berpuluh-puluh tahun namun masih tetap cinta, masih tetap sayang, masih tetap akan merasa senang jika bersama, ada kerinduan nan besar ketika tak berjumpa walaupun usia sudah tua tapi rasa cinta seperti itu masih ada, walaupun dari fisik pasangannya mungkin sudah tak enak dilihat lagi .

Pernah melihat? kakek nenek nan datang kepengajian, mereka sambil berpegangan tangan dan terlihat sangat senang padahal usia mereka sudah sangat tua dan mereka sudah hayati berpuluh-puluh tahun lamanya tapi seakan-akan mereka baru menikah kemarin-kemarin. Itulah cinta nan tak ada batasnya.

Menarik kisah pada genarasi sahabat, kisah ini terjadi pada saat pemerintahan ‘Umar Amirul mukminin r.a. ada seorang arab badui nan akan mengadukan istrinya kepada ‘Umar sebab istrinya telah mengeluarkan suara keras melebihi suaranya.

Iapun kemudian pergi ke rumah Amirul Mukminin ‘Umar bin Khatab r.a. dan ketika dia sampai di depan pintu rumah Amirul Mukminin dia mendengar langkah kaki ‘Umar nan hendak keluar dari rumahnya. Dia mendengar istri Amirul Mukminin berkata kepadanya dengan suara nan keras mengatakan: “bertaqwalah kepada Allah, wahai ‘Umar atas apa nan engkau pimpin!”

‘Umar hanya diam dan tak berbicara sedikitpun, orang badui tersebut berbicara dalam hatinya seraya berpaling pergi: “Jika keadaan Amirul Mukminin saja seperti ini, maka bagaimana dengan diriku?” Ketika ia hendak berpaling pergi, ternyata ‘Umar bin khatab telah keluar dan melihatnya. ‘Umar bertanya apa keperluanmu?, wahai saudaraku orang Arab?”

Orang arab badui itupun menjawab: “Wahai Amirul Mukminin sebenarnya saya ingin menemuimu buat mengadukan sikap istriku. Dia telah berani bersuara keras terhadap diriku. Namun seketika saya melihat keadaan rumahmu, saya menjadi merasa kerdil, sebab apa nan engkau hadapi lebih sulit daripada apa nan saya hadapi. Oleh sebab itu, saya hendak pulang dan berkata pada diriku sendiri: “Jika Amirul Mukminin saja mendapat perlakuan seperti itu dari istrinya, maka bagaimana dengan diriku?”

‘Umar pun terseyum dan berkata: “Wahai saudaraku semuslim, saya menahan diri dari sikapnya (istriku) itu, sebab dia memiliki hak-hak atas diriku. Aku berusaha buat menahan diri meski sebenarnya saya dapat saja menyakitinya (bersikap keras) dan memarahinya. Akan tetapi, saya sadar bahwa tak ada nan bisa memuliakan wanita selain orang nan mulia dan tak ada orang nan merendahkan selain orang nan suka menyakiti. Mereka bisa mengalahkan setiap orang nan mulia namun mereka bisa dikalahkan oleh setiap orang nan suka menyakiti. Akan tetapi, saya angat ingin menjadi orang nan mulia meski saya kalah (dari istriku), dan saya tak ingin menjadi orang nan suka menyakiti meski saya termasuk orang nan menang.”

‘Umar melanjutkan : “Wahai saudaraku orang Arab, saya berusaha menahan diri sebab dia istriku memiliki hak-hak atas diriku. Dialah nan memasak makanan untukku, membuatkan roti untukku, menyusui anak-anakku, dan mencuci baju-bajuku. Sebesar apa kesabaranku terhadap sikapnya, maka sebanyak itulah pahala nan saya terima.”
Saya membaca kisah nan penuh makna ini berkali-kalipun sangat terasa latif dan sejuk (halah..), bagaimana tidak?

Saya tak tepikirkan, bagaimana perhatian negara Islam nan begitu besar buat mengurusi umatnya termasuk masalah rumah tangga, luar biasa. Disisi lain, sikap seorang pemimpin besar semisal ‘Umar nan kalau kita ketahui sifat ‘Umar ialah keras dan kasar, tapi dapat menahan diri dari bersikap kasar dan lebih memilih bersikap lembut kepada istrinya nan beliau cintai. Itulah cinta mawaddah ‘Umar kepada istrinya.

Kalau aku melihat sekarang, seperti pekejaan rumah tangga pastinya istri manapun ada saatnya buat berkeluh kesah, setiap hari kerjaan utamanya ialah masak, mengusrus anak, cuci pakaian suami dan anak-anaknya, beres-beres rumah, mendidik anak, memantau anak, ini itu setiap hari dan memang seperti itu kerjaan primer seorang istri.

Kalau ukurannya hanya sekedar cinta (al hubb) aku konfiden istri tersebut akan setiap hari ngomel kepada suaminya buat minta pembantu, atau mungkin dapat kabur (terlalu mendramatisir..) ,tapi isrti nan cinta kepada keluarga atas landasan iman dan kecintaannya ialah mawaddah semuanya akan ditangkis dengan kalimat, “Itulah jihad aku dan Allah ‘azza wa jalla akan memberikan surga kepada seorang istri nan baik dalam pengurusan rumah tangganya”

Saya jadi teringat kisah fathimah binti muhammad r.a. nan mengadu kepada ayahnya sebagai pemimpin negara islam agar diberikan seorang pembantu buat membantu pekerjaan rumah tangganya, kemudian salah satu nasehat nan Rasulullah saw berikan kepada fathimah ialah :

Nabi berkata kepada puterinya, Fathimah:

“Kalau Allah menghendaki wahai Fathimah, tentu lumpang itu akan menggilingkan gandum untukmu. Akan tetapi Allah menghendaki agar ditulis beberapa kebaikan untukmu, menghapuskan keburukan-keburukan serta hendak mengangkat derajatmu
wahai Fathimah, barangsiapa perempuan nan menumbukkan (gandum) buat suami dan anak-anaknya, niscaya Allah akan menuliskan untuknya setiap satu biji, satu kebaikan serta menghapuskan darinya setiap satu biji satu keburukan. Dan bahkan Allah akan mengangkat derajatnya.

Wahai Fathimah, barang siapa perempuan berkeringat manakala menumbuk (gandum) buat suamiya. Tentu Allah akan menjadikan antara dia dan neraka tujuh khonadiq (lubang nan panjang).

Wahai Fathimah, manakala seorang perempuan mau meminyaki kemudian menyisir anak-anaknya serta memandikan mereka, maka Allah akan menuliskan pahala untuknya dari memberi makan seribu orang lapar dan memberi baju seribu orang nan telanjang.

Wahai Fathimah, bilamana seorang perempuan menghalangi (tidak mau membantu) hajat tetangganya, maka Allah akan menghalanginya minum dari telaga “Kautsar” kelak di hari Kiamat.

Wahai Fathimah, lebih primer dari itu ialah kerelaan suami terhadap istrinya. Kalau saja suamimu tak rela terhadap engkau, maka saya tak mau berdo’a untukmu. Apakah engkau belum mengerti wahai Fathimah, sesungguhnya kerelaan suami ialah perlambang kerelaan Allah sedang kemarahannya pertanda kemurkaan-Nya.

Wahai Fathimah, manakala seorang perempuan mengandung janin dalam perutnya, maka sesungguhnya malaikat-malaikat telah memohonkan ampun untuknya, dan Allah menuliskan untuknya setiap hari seribu kebaikan serta menghapuskan darinya seribu keburukan. Manakala dia menyambutnya dengan senyum, maka Allah akan menuliskan untuknya pahala para pejuang. Dan ketika dia telah melahirkan kandungannya, maka berarti dia ke luar dari dosanya bagaikan di hari dia lahir dari perut ibunya.

Wahai Fathimah, manakala seorang perempuan berbakti kepada suaminya dengan niat nan tulus murni, maka dia telah keluar dari dosa-dosanya bagaikan di hari ketika dia lahir dari perut ibunya, tak akan keluar dari global dengan membawa dosa, serta dia dapati kuburnya sebagai taman diantara taman-taman surga. Bahkan dia hendak diberi pahala seribu orang haji dan seribu orang umrah dan seribu malaikat memohonkan ampun untuknya sampai hari kiamat. Dan barangsiapa orang perempuan berbakti kepada suaminya sehari semalam dengan hati lega dan penuh ikhlas serta niat lurus, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya serta memakaikan kepadanya baju hijau (dari surga) kelak di hari Kiamat, serta menuliskan untuknya setiap sehelai rambut pada badannya seribu kebaikan, dan Allah akan memberinya (pahala) seratus haji dan umrah.
Wahai Fathimah, manakala seorang perempuan bermuka manis di depan suaminya, tentu Allah akan memandanginya dengan pandangan’rahmat’.

Wahai Fathimah, bilamana seorang perempuan menyelimuti suaminya dengan hati nan lega, maka ada Pemanggil dari langit memanggilnya”mohonlah agar diterima amalmu. Sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosamu nan lalu maupun nan belum lewat”.

Wahai Fathimah, setiap perempuan nan mau meminyaki rambut dan jenggot suaminya, mencukur kumis dan memotongi kukunya, maka Allah akan meminuminya dari ‘rahiqil makhtum dan sungai surga, memudahkannya ketika mengalami sakaratil maut, juga dia hendak mendapati kuburnya bagaikan taman dari landskap surga, serta Allah menulisnya bebas dari neraka serta lulus melewati shirat”.

Semoga kecintaan kita selalu dilandasi keimanan kepada Allah ‘azza wa jalla.[]
Wallahua’lam bi ash shawab

Shinta mardhiah alhimjarry
Guru HSG el Dina Bandung

Akhwat

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy