Medex Ruhiyah

Medex Ruhiyah

MEDEX (MEDical EXamination) biasanya dilakukan buat mengetahui apa saja dari fisik (jasadiyah) kita mana nan sehat dan mana nan sakit. Setelah inspeksi berjalan maka kita akan mendapatkan hasil dari inspeksi tersebut nan berupa angka-angka buat setiap jenis penyakit. Yang dinyatakan sehat ialah angka-angka nan tertera di lembar hasil MEDEX jangan melebihi dari maksimal angka nan distandarkan buat suatu jenis penyakit. Kalau angka dari hasil MEDEX melebihi angka nan di standarkan berarti kita terindikasi memiliki penyakit itu. Yang dengan hasil itu kita bisa tindak lanjuti buat senantiasa menjaga kesehatan kita jangan sampai apa nan telah kita ketahui jenis penyakit nan terindikasi itu menjadi penyakit nan akut.

Kita harus menjaga makanan nan kita makan, tak boleh berlebih kadar kolesterolnya, tak boleh makan ini, tak boleh makan itu, harus mengkonsumsi vitamin ini, minum obat itu dan seterusnya plus harus berolahraga sinkron apa nan disarankan oleh dokter. Kita akan mematuhinya sebab memang kita ingin fisik (jasadiyah) kita sehat. Memang nikmat sehat itu mahal. Karena tak sedikit orang nan ketika terkena suatu penyakit dan perlu dirawat dirumah sakit serta perawatan dokter secara intensif, bisa menghabiskan biaya dengan jumlah nan tak sedikit. Oleh karenanya itu banyak orang nan tak ingin sebenarnya dirinya sakit, mereka ingin sehat sebab sehat itu mahal. Dan kita nan diberi nikmat kesehatan, senantiasalah kita bersyukur kepada Allah SWT nan telah meberikan nikmat sehat itu kepada kita, Alhamdulillahirabbil’alamin – segala puji hanya milik Allah tuhan semesta alam. Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita buat senantiasa bersyukur atas segala nikmat nan diberikan-Nya.

Kalau MEDEX nan buat fisik (jasadiyah) saja kita lakukan pernahkah kita coba buat MEDEX RUHIYAH, sebab manusia memiliki dua unsur yaitu jasad dan ruh. Medex Ruhiyah ialah inspeksi buat mengetahui apakah ruhiyah kita dalam keadaan sehat atau sebaliknya ruhiyah kita sedang mengalami sakit. Lakukan Medex Ruhiyah ini dengan Muhasabah, obati dengan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT, menuntut ilmu dan bergaul dengan orang-orang nan shalih.

Muhasabah

Apa nan dapat kita lakukan buat MEDEX RUHIYAH ini, sederhana sekali seperti nan aku sebutkan di atas, lakukan dengan muhasabah. Muhasabah berasal dari kata hasiba-yashabu nan artinya menghisab atau menghitung. Dengan kata lain kita mencoba interopeksi atau penilaian diri kita. Khalifah Umar bin Khatab ra. pernah memberikan tausyiahnya kepada sahabat nan lainnya “Hisablah diri kalian sebelum kalian di hisab”, maksudnya hitunglah amal apa nan sudah Anda lakukan sebelum kalian di hitung di akhirat kelak yaitu di yaumul hisab. Dan Allah SWT juga memerintahkan kepada orang nan beriman buat bertakwa kepada-Nya dan memperhatikan apa nan telah diperbuatnya buat hari esok, apakah sudah cukup kita berbekal buat akherat kelak, firman-Nya di dalam Al-Qur’an “Hai orang-orang nan beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa nan telah diperbuatnya buat hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa nan kamu kerjakan”. (QS. Al Hasyr:18)

Dan Rasulullah SAW dalam satu hadistnya menyebutkan orang-orang nan senantiasa mengevaluasi dirinya dalam orientasi akhirat ialah mereka orang-orang nan cerdas, “Orang nan cerdas (Al-Kayyis) ialah mereka nan selalu mengevaluasi (aktifitas) dirinya dan beraktivitas demi orientasi akhirat, (sedang) orang nan bodoh ialah orang nan selalu menuruti hawa nafsunya dan berkhayal mendapatkan ridho Alloh (tanpa beramal sholih)” (HR. At Tirmidzi)

Dengan muhasabah kita akan mengetahui sejauh mana selama ini diri kita, sudahkah kita senantiasa beribadah kepada-Nya, atau selama ini kita dalam kemaksiatan dan selalu memperturutkan hawa nafsu. Ya, dengan muhasabah kita akan mengetahui jawabannya. Kalau kita dapati hasil dari muhasabah itu kita sudah dalam keta’atan kepada-Nya istiqamahlah, tingkatkan lagi amal ibadah kita dan jangan merasa cukup dengan amal nan sudah kita kerjakan. Seandainya kita mendapati diri kita jauh dari perintah Allah dan sering melakukan sesuatu nan dilarang-Nya berarti kita sedang mengalami sakit, sakit nan perlu segera diobati, tak boleh tunggu nanti atau esok, harus segera detik ini juga. Istighfar kepada Allah dan bertaubat dan mulailah berbenah buat mengobati ruhiyah kita nan sedang sakit itu. Tidak ada kata terlambat dalam mengobati ruhiyah kita nan sedang sakit, sebab Allah SWT maha pengasih dan maha penyayang, maha pengampun dosa dan maha penerima taubat. Seperti nan difirmankan-Nya dalam Qs. At Taubah:118 nan artinya: “…Sesungguhnya Allah-lah Yang maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”

Meningkatkan kualitas iman dan taqwa

Tingkatkan keimanan kita dengan senantiasa mencoba melakukan ibadah-ibadah nan kita sanggup buat mengerjakannya. Karena iman akan bertambah ketika kita dalam keta’atan kepada-Nya nan berarti juga ruhiyah sedang dalam keadaan sehat dan sebaliknya iman kita akan berkurang ketika kita berada dalam kemaksiatan kepada Allah nan dengan itu berarti ruhiyah kita sedang mengalami sakit. Oleh sebab itu taqwa dalam diri juga harus kita tingkatkan yaitu dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhkan larangan-Nya. Definisi taqwa lainnya ialah mencegah diri dari adzab Allah dengan berbuat amal sholeh dan takut kepada-Nya dikala sepi atau terang-terangan. Ada lagi definisi taqwa menurut sahabat, dalam satu riwayat disebutkan bahwa Umar bin Khattab ra. pernah bertanya kepada Ubay bin Ka’ab tentang taqwa. Ubay ra. menjawab, ”Bukankah Anda pernah melewati jalan nan penuh dengan duri?”, “Ya” jawab Umar, Ubay kembali bertanya “Apa nan Anda lakukan saat itu?”, “Saya bersiap-siap dan berjalan dengan sangat hati-hati” jawab Umar, “Itulah taqwa” Ubay menegaskan. Itulah definisi taqwa menurut Ubay bin Ka’ab berdasar dari jawaban Umar ra, kehati-hatian kita ketika kita melewati jalanan nan penuh dengan duri, jangan sampai kita menginjaknya. Dan orang nan bertaqwa akan dimuliakan oleh Allah SWT di sisi-Nya. QS. Al Hujurat:13 “… Sesungguhnya orang nan paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah orang nan paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Menuntut ilmu

Menuntut ilmu ialah kewajiban. Kewajiban menuntut ilmu pernah di sampaikan Rasulullah SAW dalam salah satu hadistnya nan terkenal, Rasulullah bersabda: “Menuntut ilmu ialah kewajiban atas setiap muslim.” (HR. Thabrani). Ayat pertama nan turun kepada Nabi Muhammad SAW ialah “Iqra” nan berarti bacalah (Qs. Al Alaq:1). Dengan menuntut ilmu nan tadinya kita bodoh akan menjadi berilmu. Yang dengan ilmu itulah kapital kita buat beribadah kepada Allah SWT. Dengan menuntut ilmu kita mengetahui bagaimana cara kita berwudhu, bagaiman cara kita shalat, shalat itu lebih baik berjamaah dari pada sendiri dan seterusnya. Dan Allah akan meninggikan derajat orang-orang nan berilmu pengetahuan, itu janji-Nya di dalam Al-Qur’an “… pasti Allah akan meninggikan orang-orang nan beriman di antaramu dan orang-orang nan diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…” (QS. Al Mujadilah:11). Banyak cara buat kita menuntut ilmu, dengan menghadiri majelis-majelis ilmu baik dilingkungan rumah kita atau di kantor loka kita bekerja, dengan cara membaca buku keislaman, melalui ceramah-ceramah agama di radio dan di televisi dan ditempat sarana-sarana menuntut ilmu lainnya.

Berteman dengan orang shalih

Orang-orang shalih nan ada di sekitar kita bertemanlah kepada mereka. Kenapa kita harus bergaul kepada mereka, nan pertama sebab orang nan shalih senantiasa dalam hidupnya selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT, nan kedua orang nan shalih senantiasa nasihat-menasihati dan senantiasa mengajak buat berbuat amal shalih dan nan ketiga supaya ke shalihannya juga inheren pada diri kita.

Orang-orang shalih senantiasa dalam hidupnya selalu mendekatkan dirinya kepada Allah SWT, senantiasa tercurahkan rahmat-Nya dan terlihat ketenangan pada paras mereka. Yang dengan itu ketika kita bergaul dengan mereka maka kita akan juga merasakan ketenangan. Rasulullah bersabda “Tidaklah suatu kaum duduk mengingat Allah Ta’ala kecuali para Malaikat akan mengelilingi mereka dan mereka akan diliputi oleh rahmat Allah serta akan diturunkan kepada mereka ketenangan dan Allah akan memuji mereka di hadapan makhluk nan ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim)

Orang-orang shalih selalu nasihat-menasihati dan senantiasa mengajak buat bersama berbuat amal shalih, nan ketika kita bergaul dengan mereka kita akan mendapatkan nasihat-nasihat nan baik dan mengajak kita buat berbuat kebaikan.

“Siapakah nan lebih baik perkataannya daripada orang nan menyeru kepada Allah, mengerjakan amal nan saleh, dan berkata: "Sesungguhnya saya termasuk orang-orang nan menyerah diri?" (QS. Fushshilat : 33)

“Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang nan beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS. Al-Ashr : 1-3)

Keshalihan orang-orang nan shalih ketika kita bergaul dengan mereka, lambat laun akan inheren juga keshalihan pada diri kita. Oleh karenanya lingkungan memang sangat berperan terhadap perubahan diri seseorang. Ketika lingkungan kita shalih maka kita juga akan menjadi shalih. Rasulullah bersabda "Sesungguhnya perumpamaan teman nan shalih dan teman nan jelek seperti pembawa minyak wangi dan tukang pandai besi. Si pembawa minyak wangi mungkin ia akan menghadiahkannya kepadamu atau kamu membeli darinya atau paling tak kamu bisa mencium aroma semerbak wangi darinya. Adapun si pandai besi mungkin barah akan membakar bajumu atau paling tak kamu akan mencium bau tak sedap darinya”. (HR. Bukhari Muslim)

Sedikit ilmu dalam tulisan ini spesifik ditujukan kepada aku pribadi hamba nan dhaif, segala apa nan tersampaikan sahih dalam tulisan ini datangnya dari Allah SWT. Semoga Allah SWT memberikan hidayah-Nya kepada kita semua dan selalu menuntun kita tetap berada di Jalan-Nya. Amin.

Wallahu a’lam bishshawab.

addy.1397@gmail.com

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy