Meluaskan Rezeki

Meluaskan Rezeki

Kek Ngoh, 96, demikian orang biasa memanggil namanya. Kata ‘Ngoh’ diambil dari kata ‘Tengoh’ (bahasa Aceh) nan berarti tengah. Maksudnya ia memiliki satu kakak dan satu adik, sedang ia berada di tengah-tengah mereka, maka ia disebut kakek nan berada di tengah atau Kek Ngoh. Dia memiliki 24 cucu dari 5 orang anak perempuannya nan sudah berumah tangga.

Yang luar biasa dari Kek Ngoh, meski usianya mendekati satu abad, dia tak pikun. Dia masih dapat membaca tulisan tanpa kaca mata, mampu mendengar dan berucap dengan baik, dan sanggup berjalan bolak-balik dari rumahnya ke masjid nan berjarak sekitar 500 meter. Fisiknya cukup sehat dan bugar. Dia kadang suka bercanda denganku, mengajak adu cepat berjalan kaki. Sporadis sekali kutemui seorang tua berusia lanjut nan sehat dan memiliki sense of humor tinggi layaknya dia.

Kemampuan menjelajahnya, buat ukuran orang nan berusia demikian sepuh tersebut, ialah luar biasa. Dia pernah cerita bahwa semua masjid-masjid di Kota Banda Aceh pernah disinggahinya. Biasanya setiap Jum’at ia melaksanakan sholat jum’at secara bergilir dari masjid satu ke masjid nan lain. Untuk menuju masjid-masjid itu, ia tak menggunakan wahana transportasi umum, melainkan berjalan kaki! Bahkan ia mengaku sering berjalan kaki di pagi hari menuju dari rumahnya ke Lambaro nan berjarak cukup jauh, lebih dari 5 km.

Dia termasuk orang nan dihormati di Desa Tanjung, boleh jadi sebab usianya nan paling tua dari semua penduduk kampung, sementara ia masih mampu berpikir dan berkomunikasi dengan baik. Menceritakan perjalanan dirinya saat ia muda pun ia masih bisa. Juga ketika diajak ngobrol berandai-andai ke masa depan, ia pun masih mampu menyimpan asa nan ingin diwujudkan.

Ketika berjumpa aku, biasanya saat saya ke masjid, kadang ia terlebih dahulu mengucapkan salam keras-keras sambil melambai tangan. Aku merasa itu ialah penghargaan ia atas diriku nan masih muda. Dan biasanya setelah bersalaman terjadi dialog-dialog nan hangat. Kadang saya menggunakan bahasa aceh sebisaku dan terkadang membuatnya tertawa sebab ada kata atau logat nan kugunakan terasa lucu baginya. Kemudian ia mengucap bahasa aceh nan disengaja dan ia yakini bahwa saya tak akan mampu memahaminya. Kalau saya diam sebab tak tahu, ia bertanya kenapa diam. Ketika saya bilang, “Hana Teupue (tidak tahu)”. Barulah dia tertawa terkekeh-kekeh kemudian menjelaskan artinya. Tetapi dari situlah keakraban sering terjadi.

Kami nan tinggal di komplek di Desa Tanjung menyadari bahwa Kek Ngoh ialah orang nan perlu disantuni mengingat kondisinya nan tua tersebut walau dia sendiri tak pernah meminta. Terlebih mengingat Kek Ngoh ialah orang nan rajin datang ke masjid dan masih kuat menjalankan ibadah puasa.

Banyak dari kami warga pendatang berpikiran seperti itu. Terlebih lagi, Kek Ngoh ialah simbol dari sesepuh desa. Jika kami dekat dengan Kek Ngoh, maka kami merasa kondusif dalam berinteraksi dengan warga di desa tersebut.
***
Masa tua, apalagi pada usia 96 tahun nan teramat lanjut, ialah masa hilangnya keberdayaan manusia secara fisik. Pada masa itu, teramat susah bagi seorang tua buat mencari nafkah menghidupi diri sendiri. Daya hayati dari Kek Ngoh di usia tua tersebut menyakinkan diriku bahwa benarlah apa nan sering dikemukan dalam ayat-ayat Al-Qur’an, Allah menjamin rezeki setiap makhluk, termasuk terhadap terhadap seorang kakek tua seperti Kek Ngoh.

Ya, banyak orang nan risi dengan agunan rezeki saat dirinya tua kelak. Syukur, jika orang berupaya pada batas-batas nan dihalalkan Allah. Yang menyedihkan ialah dengan dalih mempersiapkan agunan hari tua dan kesejahteraan keturunan, maka banyak orang melampaui rambu-rambu syariat dalam mencari rezeki nan halal. Maka nan terjadi ialah alih-alih membekali diri dan keturunan dengan agunan kehidupan, justru mereka membangun fondasi agunan nan ringkih bagi kelangsungan hidup. Ringkih sebab agunan nan terkumpul dari barang haram, akan mudah lenyap sebagaimana mudah dalam memperolehnya.

Kek Ngoh tak memiliki harta nan berarti selain tanah dan rumah nan sudah habis dibagikan kepada semua anaknya. Beberapa anaknya bekerja dengan membuka toko kelontong dan jual bensin di pinggir jalan, menjadi buruh cuci dan setrika pada beberapa rumah, dan menjadi petani atau pekebun. Meski demikian, ia merasa bahwa hidupnya tentram. Dia sangat menyadari bahwa usianya tak lama lagi akan berakhir, maka tiada upaya nan bisa dilakukannya selain berbuat kebajikan pada akhir-akhir hidupnya dan memakan dari rezeki nan halal.

Banyaknya warga nan mengenal Kek Ngoh, kurasa bukan sekedar dari usianya nan teramat tua, tetapi dari sikapnya nan senantiasa bersahabat dengan siapa saja, termasuk dengan diriku. Beberapa kali ia menawarkan diriku buat makan bersama di rumahnya. Baik pada kesempatan Maulid, kenduri, atau kesempatan lainnya. Dia akan marah jika saya tak memiliki alasan nan tepat buat menurutinya. Sikapnya nan bersahabat itu, menjadikan orang suka dan menjadikan Kek Ngoh sebagai daftar prioritas buat menerima uang zakat, infaq, atau sodaqoh dari beberapa warga nan mengenalnya.

Andaikan ia berdiam di rumah saja, tanpa berinteraksi dengan siapapun, tentu orang pun akan malas berhubungan dan berkomunikasi dengannya. Bahkan, boleh jadi anaknya sendiri akan bersikap seperti itu dan merasa lebih nyaman dengan mengirimkan ia ke panti jompo atau memisahkan kehidupan di loka lain. Namun nan kulihat dari Kek Ngoh ialah hal nan luar biasa. Dalam usia 96 tahun ia masih mampu berpikir, berinteraksi dengan baik, dan menjalin silaturahim dengan semua orang. Boleh jadi, inilah salah satu berkah dari silaturahim nan menambah rezeki.

Banyak hikmah nan kupetik dari pergaulan dengan Kek Ngoh. Dan ini mengingatkanku pada mertuaku, Kamsir Effendis, nan berusia sudah senja juga, yaitu hampir 68 tahun danmasih bugar jasmani dan pikiran di usia tua tersebut. Hobbi dari mertuaku ini ialah bersilaturahim dengan saudara dan kerabat. Demi silaturahim, ke manapun jika diberikan kondisi sehat, maka beliau jalani.

Dengan silaturahim, beliau meluaskan interaksi dengan saudara, kerabat, dan handai taulan. Dengan silaturahim pula, beliau memperdalam ikatan bathin. Caranya ialah dengan membantu secara finasial bagi sanak keluarga nan membutuhkan dan rajin memberikan hadiah bagi kerabat dan handai taulan. Sungguh, saya belajar makna silaturahim sebenarnya di mana didalamnya terdapat kata-kata ‘super’ nan menjadi inspirasi bagi kemajuan bisnis. Meluaskan interaksi ialah prinsip generik bisnis buat menunai menunai kesuksesan. Demikian juga memperdalam interaksi ialah prinsip generik bisnis juga dalam mempertahankan kesetiaan pelanggan.

Boleh jadi jika diterjemahkan ke dalam bahasa bisnis, silaturahim mengandung makna-makna network marketing, relationship marketing, customer loyalty, customer satisfaction, differentiation, focus marketing dan lain-lain. Semua prinsip-prinsip marketing tersebut tak lain ialah dalam rangka meningkat penjualan nan merupakan rezeki bagi perusahaan. Maka mudah dipahami jika silaturahim itu dapat menambah dan meluaskan rezeki.

Aku mendapat pelajaran dari orang-orang tua tersebut bahwa jika ingin diluaskan rezekinya, baik di waktu muda maupun tua, maka perbanyaklah silaturahim. Tentu saja, silaturahim dengan segala keagungan makna nan terkandung di dalamnya.

Waallahu’alam.

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy