Memagari Rumah

Memagari Rumah

Ass. Wr. Wb.

Pak Ustadz, ane pernah dengar kalo ada rumah nan ‘dipageri’, jika ada orang nan mencuri di rumah tersebut, pencuri akan jalan keliling rumah tersebut, sampai nan punya rumah tahu lalu membebaskannya dan memberikan ongkos buat mereka pulang. Apakah ini kerja jin juga, dan bolehkan kita ‘mempagari’ rumah kita seperti itu?

Atas penjelasannya ane ucapkan terima kasih.

Wass,Gathmir

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Cerita memagari rumah itu memang banyak kita dengar. Bukan dipagari dengan tembok atau pagar besi, melainkan dipagari dengan sesuatu nan bersifat ghaib.

Dan kalau sudah bicara tentang hal-hal nan ghaib, kita mengenal dan mengakui keberadaan dua jenis kekuatan ghaib. Pertama, kekuatan ghaib nan dibenarkan syariah. Dan kedua, kekuatan ghaib nan diharamkan syariah.

1. Kekuatan Ghaib nan Benar

Kekuatan ghaib nan dibenarkan syariah punya karakteristik khas buat mengenalinya. Yaitu dengan tak pernah dimiliki sepenuhnya oleh seorang manusia, kecuali para nabi, khususnya nabi Sulaiman alaihissalam. Sebab hanya beliau saja nan diberikan kelebihan buat menguasai para jin dan jenis makhluq ghaib lainnya.

Dan buat Sulaiman angin nan sangat kencang tiupannya nan berhembus dengan perintahnya ke negeri nan kami telah memberkatinya. Dan ialah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu. Dan Kami telah tundukkan segolongan syaitan-syaitan nan menyelam untuknya dan mengerjakan pekerjaan selain daripada itu, dan ialah Kami memelihara mereka itu. (QS. Al-Anbiya: 81-82)

Adapun para nabi lainnya, meski mereka diberikan fasilitas mukjizat dari Allah SWT, tetapi sifatnya bukan sebuah keterampilan nan dimiliki. Melainkan merupakan bentuk pertolongan Allah SWT nan hanya terjadi bila Allah SWT menghendakinya.

Maksudnya, para nabi alaihimussalam itu tak punya remote control nan kapan pun diinginkan, dapat mendatangkan mukjizat. Tidak ada tongkat ajaib nan dapat dipakai kapan saja.

Ketika tongkat nabi Musa as. itu berubah jadi ular besar, tak ada tombol nan dapat dipencet buat menampilkan mukjizat itu. Yang terjadi hanyalah Allah SWT menurunkan wahyu dan memerintahkan kepada Nabi Musa as. buat melemparkan tongkat itu, lalu atas perintah dan izin Allah SWT, tongkat itu tiba-tiba menjadi ular.

Maka Musa menjatuhkan tongkat-nya, lalu seketika itu juga tongkat itu menjadi ular nan sebenarnya. (QS Al-A’rah: 107)

Seandainya suatu ketika Nabi Musa as. iseng-iseng melemparkan tongkatnya, sekedar buat melakukan demo atas mukjizat nan dimilikinya, pastilah tongkat itu tetap tak berubah. Ini nan kami maksud bahwa karakteristik mukjizat itu bukanlah sesuatu nan dikuasai atau dimiliki, juga tdak dipelajari secara khusus.

Dan hal nan sama juga berlaku untuk orang-orang beriman nan terkadang Allah SWT membantunya dengan karamah khusus. Kita mengakui adanya karamah nan Allah SWT berikan kepada hamba-hamba-Nya nan dicintai-Nya. Namun hamba-hamba itu tak pernah merasa memiliki keajaiban dan sesuatu nan melanggar hukum fisika.

2. Kekuatan Ghaib nan Haram

Sedangkan kekuatan ghaib nan haram, dimiliki oleh syetan atau jin. Dan dalam rangka memperbanyak jumlah pengikutnya buat masuk neraka, terkadang kekuatan ghaib itu ‘dipinjamkan’ kepada para penyihir dari kalangan manusia.

Tentu saja bentuk penyihir itu tak selalu seperti nan ada di film-film, nan pakai jubah hitam, pegang tongkat dan selalu menyebut simsalabim atau alakazam atau abrakadabra.

Penyiihir itu dapat saja berkostum seorang pak haji, dengan sarung, kopiah, tasbih dan komat-kamit seolah membaca doa dalam bahasa arab. Padahal nan terjadi justru dia sedang meminta pertolongan kepada jin atau syetan. Orang seperti ini pada hakikatnya penyihir, meski kostumnya seperti kiyai. Sebab dia telah meminta donasi jin dan makhluq ghaib, nan sejak wafatnya Nabi Sulaiman as telah diharamkan.

Inilah nan telah terjadi, bila penyihir itu berkostum umumnya penyihir, maka banyak orang-orang muslim nan antipati sebelumnya. Akan tetapi iblis itu bukan makhluq bodoh, dia punya 1001 akal busuk buat melakukan tipu daya.

Maka dirancanglah sebuah rekayasa licik, di mana pelaku sihir itu ialah orang nan dianggap tokoh agama dengan segala atributnya. Sehingga banyak umat Islam nan terpedaya dan menganggap praktek memagari rumah seperti itu seolah dibenarkan dalam agama. Padahal hakikatnya ialah memagari rumah dengan penjagaan jin. Dan praktek ini sesungguhnya bagian dari syirik nan dilarang dalam syariah.

Wallahu a’lam bishshawab wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh Ahmad Sarwat, Lc.

Aqidah

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy