Memakai Jilbab Wajib atau Tidak?

Memakai Jilbab Wajib atau Tidak?

Assalamu’alaikum Ustadz,

Saya ingin menanyakantentang pemakaian Jilbab oleh muslimah, sebab beberapa waktu nan lalu kantor aku mengadakan tausyi’ah ramadhan mengenai jilbab.

Penceramah menjelaskan bahwa pemakaian hijab itu tak wajib hanya dianjurkan dengan mengutip ayat Alqur’an (saya lupa ayat & suratnya), banyak teman-teman nan tak setuju dengan pernyataan penceramah tersebut, kalau tak salahpenceramahnya berasal dari UIN.

Saya mohon kesadaran dari Ustadz mengenai masalah tersebut.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Memang ada sedikit hal nan perlu diluruskan dari istilah jilbab. Sebab ternyata di global Islam, penggunaan istilah hijab ini dipahami dengan berbagai bentuk nan berbeda.

Ada nan mengatakan bahwa hijab itu ialah baju nan dikenakan wanita dan menutup seluruh tubuhnya, termasuk wajah. Sebagian lainnya mengatakan bahwa hijab ialah baju nan besar, longgar, menyatu antara atasan dan bawahannya, serta menutup semua tubuh wanita.

Yang lainnya lagi mengatakan bahwa hijab ialah cadar, yaitu kain nan menutup paras para wanita.

Maka dengan perbedaan-perbedaan penggunaan istilah di atas, wajar pula kalau ada banyak disparitas pandangan dari segi hukum buat mengenakannya.

Hukum memakai burkak atau pakaian besar terusan dari atas ke bawah memang masih menjadi disparitas pendapat. Demikian juga, pakaia wanita nan menutup seluruh tubuh tanpa kecuali, masih menjadi disparitas pendapat.

Jilbab = Sandang epilog aurat

Yang disepakati oleh para ulama ialah bahwa setiap orang, baik pria atau wanita, diwajibkan buat menutup aurat. Dan bukan hanya selama mengerjakan shalat saja, melainkan ketika berhadapan dengan versus jenis nan bukan mahram.

Sementarabatasan aurat wanita itu ialah seluruh tubuhnya, kecuali paras dan kedua tapak tangannya. Batasan ini sudah sampai taraf ijma’ dari kebanyakan para ulama. Sehingga bukan pada tempatnya lagi buat diperdebatkan. Sama dengan ijma’ para ulama tentang wajibnya shalat lima waktu, wajibnya puasa bulan Ramadhan.

Kalau masih ada orang nan mempertanyakan kewajiban shalat lima waktu atau puasa di bulan Ramadhan, maka jelas-jelas dia kufur kepada perintah Allah SWT. Maka kalau ada orang Islam nan mengatakan bahwa aurat tak wajib ditutup di depan versus jenis nan bukan mahram, maka dia telah kufur dari ketetapan Allah SWT. Sebab kepastian akan kewajiban menutup aurat telah sampai ke level ijma’ ulama.

Menutup Aurat = Etika dan Kewajiban Paling Dasar

Sebagai seorang muslim, seharusnya kita sudah tak lagi bermain-main di wilayah nan sudah bersifat baku, seperti masalah kewajiban menutup aurat. Sebab menutup aurat itu merupakan naluri paling dasar manusia. Menutup aurat ialah salah satu ciri dasar nan membedakan antara manusia dan hewan.

Oleh sebab itu ketika nabi Adam alaihissalam melanggar embargo Allah, nampaklah aurat mereka. Maka secara naluri beliau segera menutup auratnya dengan daun-daun surga.

Maka syaitan membujuk keduanya dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. (QS. Al-A’raf: 22)

Dan ketika nabi Adam diturunkan ke bumi, Allah SWT pun menginformasikan bahwa telah diturunkan baju buat menutup aurat. Bahkan baju itu juga berfungsi sebagai perhiasan.

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu baju buat menutup ‘auratmu dan baju latif buat perhiasan (QS. Al-A’raf: 26)

Hanya manusia saja nan punya naluri buat menutup aurat dan mengenakan pakaian. Hewan dan tumbuhan sama sekali tak punya insting itu. Apakah sekarang kita inginmenghilangkan insting manusia buat berpakaian dan menutup aurat?

Apakah kita ingin mengatakan bahwa wanita tak perlu menutup auratnya? Apakah kita ingin mengatakan bahwa agama Islam tak mewajibkan wanita menutup aurat? Lalu kita ingin mengingkari Al-Quran dan sunnah Rasulullah SAW? Apakah kita tega membodohi umat dengan mengatakan bahwa tak ada dalil nan mewajibkan menutup aurat?

Padahal Rasulullah SAW telah bersabda:

Ada dua golongan penghuni neraka nan saya belum pernah melihatnya: Laki-laki nan tangan mereka menggenggam cambuk nan mirip ekor sapi buat memukuli orang lain dan wanita-wanita nan berpakaian namun telanjang dan berlenggak lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. Mereka itu tak masuk surga dan tak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau surga itu dapat tercium dari jeda sekian dan sekian. (HR Muslim)

Maka sebaiknya kita berhenti dari dosa sistem nan ingin mengubah kerangka berpikir berpikir umat Islam dengan mengatakan bahwa menutup aurat tak wajib. Berhentilah dari kesalahan berpikir nan fatal dan memalukan ini, selagi ajal belum datang menjemput. Sudah bukan zamannya lagi kita membodohi umat dengan argumentasi lemah buah karya setan sekulerime dan liberalisme.

Karena sekulerisme dan liberalisme sudah wafat terkubur oleh zaman. Mungkin 20 tahun nan lalu boleh mereka berbangga, tapi Allah SWT telah berkehendak lain. Hari ini gelombang orang menutup aurat nyaris tak terbendung lagi. Hari ini ialah hari penyesalan bagi kalangan sekuleris dan liberalis sebab kampanye anti hijab nan mereka usung berpuluh tahun telah mengalami kegagalan total.

Kalau hari ini masih ada orang nan mengatakan menutup aurat tak wajib, maka sebenarnya ajaran ini telah out of date, ketinggalan zaman, kuno, konvensional, sudah tak musim lagi.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Alquran

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy