Membaca Frekuwensi Kehidupan Syariat Islam di Aceh

Membaca Frekuwensi Kehidupan Syariat Islam di Aceh

Dari hiruk-pikuk kondisi Aceh di bulan Oktober 2009, ada gelombang frekuwensi nan dapat kita tangkap, menunjukkan bahwa syariat Islam di Aceh masih hidup. Kobaran semangat menerapkan syariat Islam secara kaffah di Aceh masih membara. Frekuwensi ini ada di beberapa aspek, salah satunya terlihat jelas dari kasus Qory Sandioriva.

Kepada sebagian pihak nan menyeru tinggalkan masalah Qory, dengan tujuan agar dapat memberi solusi bagi banyak masalah Aceh nan lebih besar, kita doakan, semoga upaya mereka dalam memberi solusi bagi Aceh itu dipermudah oleh Allah. Kita harus dukung setiap pihak nan memberi kontribusi positif buat Aceh. Tentang Qory, jangan risau, alhamdulillâh banyak nan bergerak.

Kepada sebagian pihak nan mengangap masalah Qory kecil, itu benar. Karena bagi daerah syariat, memang seharusnya tak perlu terjadi adanya izin keikutsertaan putri daerahnya di ajang Pemilihan Puteri Indonesia (PPI) nan bertentangan dengan syariat Islam. Bila sudah ada izin, tinggal bubut saja. Kecil. Tapi anehnya, mengapa masalah kecil seperti ini tak segera diselesaikan oleh Pemda Aceh dengan memenuhi permintaan rakyat Aceh? Bukankah makin kecil masalah makin mudah memuhinya?

Tapi ironi, hingga kini surat izin buat Qory mewakili Aceh No. 556/2323 itu masih belum dicabut, dan tuntutan masyarakat Aceh nan dianggap kecil itu belum dipenuhi secara proporsional oleh Pemda Aceh. Aneh, tapi nyata. Dapat jadi ini nan membuat demo menjamur di Aceh, buat menepis imbas negatif nan besar bagi syariat Islam di Aceh dari masalah nan kecil ini.

Sama, aku juga tak berniat berbicara lebih banyak masalah Qory. Saya cuma ingin cerita sebuah kumpulan realita. Bahwa di sana ada kenyataan nan patut orang Aceh syukuri. Di balik hiruk-pikuk penenolakan Qory, ada kabar gembira nan menyejukkan hati. Dari kasus Qory, ada getaran, sehingga kita dapat membaca frekuwensi kehidupan syariat Islam di Aceh. Frekuwensi nan menunjukkan bahwa syariat Islam di Aceh belum mati. Masih banyak nan memperjuangkannya buat terus hayati dan bangkit. Walau ada pihak nan berupaya memadamkan cahaya syariat, tapi justru frekuwensi itu menunjukkan bahwa semangat membangun syariat Islam di Aceh masih menggebu, walau harus menerobos jalan berdebu.

Lihatlah getaran frekuwensi itu. Opini miring sebagian media bahwa pihak Aceh mendukung Qory, tenyata hanya suara nan sangat kecil nan tak mewakili Aceh. Opini miring ini dengan sendirinya terbantah oleh gelombang penolakan, kecaman, dan demo nan berdebur bertalu-talu. Menghantam dan meluluhlantakkan logika konspirator nan ingin memudarkan wibawa syariat Islam di Aceh.

Lihatlah, 26 forum menolak dan mengecam izin Pempda Aceh atas keikutsertaan Qory: Di antaranya 21 organisasi perempuan di bawah naungan Gabungan Organsisasi Wanita (GOW) Aceh Timur, Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA), DPRA Aceh nan berjanji memanggil Gubernur Aceh Irwandi Yusuf dan pihak–pihak di Pemerintahan Aceh, DPRK Aceh Tengah nan menampung dengan baik aspirasi demo Koalisi Muslimah Aceh Tengah, Dinas Syariat Islam Kota Lhokseumawe dan Majelis Adat Aceh (MAA) Kota Lhokseumawe. Ini baru nan bergerak dan diekspos media saja, belum lagi lainnya.

Selain penolakan dan kecaman, demo juga mengaung di seantero Seramoe Mekah, menembus jantung Timur Tengah dengan pernyataan sikapnya. Enam kali demo digelar silih berganti, dari 11 hingga 19 Oktober, nan dilakoni oleh 6 forum dan organisasi, mulai dari HMI, KAMMI, Mahasiswa Unimus Bireuen, Koalisi Muslimah Aceh Tengah, hingga Mahasiswa Peduli Aceh (MPA) nan merupakan gabungan mahasiswa Universitas Unsyiah dan IAIN Ar-Raniry, nan melakukan demo dua kali. Hingga tanggal 25 Oktober, masih saja ada opini di media Aceh nan dengan bijak turut mendesak Pemda Aceh buat memenuhi tuntutan rakyat Aceh secara proporsional.

Tidak mau ketinggalan dengan rakyat Aceh di Tanah Rencong, lebih dari 500 mahasiswa Aceh di Negeri Para Nabi pun beraksi. Mereka tergabung dalam Lembaga Mahasiswa Aceh Timur Tengah (FMATT), nan menyatakan sikap mendesak gubernur buat mencabut izin dan tak lagi memberi izin puteri Aceh buat mengikuti ajang PPI nan bertentangan dengan syariat Islam itu. Tak tanggung-tanggung, dalam FMATT ini tergabung 4 negara, yaitu Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) Mesir, KMA Sudan, Mahasiswa Madinah, dan Mahasiswa Aceh di Yaman, di bawah naungan organisasi ASAS (Aceh Studen’t ASosiation in Yemen). Semua ini kumpulan aspirasi nan sangat aneh ketika tak ditanggapi dengan baik.

Alâ kulli hâl, rentetan peristiwa ini memberikan frekuwensi bahwa kehidupan syariat Islam di Aceh masih sangat kuat, walau memang banyak hal nan harus dibenahi. Frekuwensi itu menunjukkan bahwa sangat banyak rakyat Aceh nan memperjuangkan syariat Islam, walau Pemda menunjukkan sikap tak peduli dengan beberapa pertimbangan materi, seperti pembangunan kepariwisataan dan mempromosikan Aceh secara nasional dan internasional (rakyataceh.com 17/10).

Sinyal nan menunjukkan bahwa ketika ada manusia nan berkonspirasi coba memadamkan syariat Allah, Allah juga berkonspirasi membela setiap mukmin nan memperjuangkan syariatnya. Frekuwensi nan menunjukkan, bahwa, persekongkolan memudarkan wibawa syariat Islam di Aceh dengan kasus Qory telah GAGAL TOTAL, dan dari realita penolakan ini, orang Aceh dapat dengan lega mengatakan, "Rakyat Aceh tidak pernah rela ada putrinya mengikuti ajang PPI, dan akan terus menentangnya. Walau sementara Qory mewakili Aceh, itu hanyalah ulah sebagian kecil pihak nan sama sekali tak layak bagi orang Aceh." Karena rakyat Aceh masih merindu dan mendamba tegaknya syariat Allah secara kaffah di bumi Serambi Mekah. Wallâhul musta‘ân.

Akhirnya, terimakasih bagi setiap pihak nan berusaha menjaga semangat menerapkan syariat Islam secara kaffah di Aceh. Walau secara hasil, izin itu belum dicabut, namun secara amal, Allah telah melihatnya. "Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu (QS. Al-Taubah [9]: 105)." []

Profil Penulis:

Muhammad Yasin Jumadi, Mahasiswa Universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir, Fakultas Syariah Wal Qanun, Jurusan Qanun Taraf V. Wakil Ketua I Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) Mesir 2009-2010. Penanggungjawab Lembaga Kajian Ilmiah Fakultatif ZAWIYAH KMA Mesir 2006-2008. Aktif juga pada Divisi Kajian Global Islam, Studi Informasi Alam Islami (SINAI) Mesir 2008-2010.

Suara kita

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy