Memilih Menjadi Golongan Bertaubat

Memilih Menjadi Golongan Bertaubat

Ketahuilah sesungguhnya golongan orang nan bertaubat itu lebih utama. Mereka memahami kehidupannya, tidak akan pernah luput dari perbuatan maksiat dan dosa. Karena itu, keinginannya buat selalu menghadapkan dirinya dihadapan Allah Azza Wa Jalla, dan memohon ampunan, jalan menuju taubat, nan akan bisa menghapus segala  dosanya.

Orang-orang nan memilih jalan bertaubat itu, menemukan alasan nan paling asasi, dan mereka akan sungguh-sungguh menempuh jalan taubat itu. Diantara alasan mereka ialah :

Pertama, ubudiyah orang nan bertaubat merupakan ‘ubudiyah nan sangat dicintai dan dimuliakan Allah. Karena Dia mencintai orang-orang nan bertaubat. Seandainya taubat bukan merupakan sesuatu nan paling dicintai Allah, pasti tak mungkin Dia menguji makhluk nan pailng mulia ini dengan dosa. Demi cinta-Nya terhadap taubat hamba-Nya, diuji-Nya lah seorang hamba dengan dosa, nan mengharuskannya melakukan sesuatu nan dicintai-Nya yaitu taubat.

Kedua, taubat mempunyai kedudukan disisi Allah nan tak dimiliki oleh ketaatan-ketaatan lainnya. Allah Azza Wa Jalla sangat gembira dengan taubat hamba-Nya, sebagaimana digambarkan oleh Nabi Shallahu Alaihi Wa Sallam dengan kegembiraan seseorang nan menemukan kembali untanya nan hilang. Seraya membawa perbekalannya berupa makanan dan minuman di lembah nan membahayakan, dia berputus harapan buat bisa hayati lebih lanjut. Tetapi Allah Azza Wa Jalla bergembira dengan taubat hamba-Nya, melebihi orang nan menemukan kembali untanya. Kegembiraan semacam ini tak didapati di dalam ketaatan manapun, selain taubat. Kegembiraan seperti ini memiliki pengaruh yagn besar kondisi dan hati orang nan bertaubat.

Ketiga, di dalam ‘ubudiyah taubat terhadap sikap merasa rendah, hina, tunduk dan selalu pasrah kepada Allah, dan merendahkan diri kepada-Nya. Hal ini lebih dicintai oleh-Nya daripada kebanyakan amalan lahir lainnya. Karena merasa rendah diri dan hina merupakan ruh ‘ubudiyah.

Keempat, sesungguhnya strata perasaan hina dan rendah pada orang nan bertaubat lebih paripurna daripada selainnya. Karena ia dan orang nan tak berdosa sama-sama merasakan kehinaan kefakiran, ‘ubudiyah, dan mahabbah (kecintaan), tetapi berbeda dari orang nan tak berdosa dalam soal remuk redamnya hati, sebab maksiat nan dilakukannya. Hati orang-orang nan bermaksiat, dan tak bertaubat menjadi hancur, dan tak bisa lagi menerima hidayah-Nya.

Sabda baginda Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam :

Bahwa Dia akan berfirman pada hari kiamat : “Wahai anak Adam, Aku minta makan kepadamu, tetapi engkau tak mau memberi-Ku makan”. Anak Adam bertanya, “Ya Tuhan, bagaimana saya memberi makan kepada-Mu, sedangkan Engkau ialah Tuhan bagi alam semesta?” Allah menjawab, “Hamba-Ku si fulan meminta makan kepadamu, tetapi engkau tak memberi. Ketahuilah, bahwa seandainya engkau memberi makan, pasti engkau dapati hal itu disisi-Ku. Wahai anak Adam, Aku meminta minum kepadamu tetapi engkau tak mau memberi-Ku minum, padahal Engkau ialah Tuhan bagi alam semesta?” Allah menjawab, “Hamba-Ku si fulan meminta minum kepadamu, tetapi tak engkau beri minum.Ketahuilah, seandainya engkau memberinya minum pasti engkau dapati hal itu disisi-Ku. Waha anak Adam, Aku sakit, tetapi engkau tak menjenguk-Ku”. Hamba bertanya, “Ya Tuhan, bagaimana saya menjenguk-Mu, sedangkau Engkau ialah Tuhan bagi alam semesta? Allah menjawab,”Ketahuilah bahwasanya hamba-Ku si fulan sakit, tetapi engkau tak menjenguknya. Ingatlah, seandainya engkau menjenguknya pasti engkau bisa saya disisinya”.

Mengapa do’a tiga orang manusia niscaya dikabulkan, yaitu, orang nan dianiaya, musafir, dan orang nan berpuasa. Karena hati mereka gundah gulana, merasa terasing dan resah. Demikian pula, puasa menghancurkan kebuasan jiwa kebinatangan dan menundukkannya. Maksudnya, lilin kekuasaan, keutamaan, dan anugerah itu turun di loka lilin kegelisahan. Pelaku pakar maksiat nan telah bertaubat mendapatkan bagian nan banyak ketika sudah berubah hidupnya.

Kelima, dosa kadang-kadang bermanfaat, bila diiringi dengan taubat, daripada ketaatan nan banyak. Inilah makna perkataan Salaf, “Kadang-kadang seorang hamba melakukan dosa, teapi sebab dosa itu dia masuk surga, dan kadang-kadang melakukan ketaatan, tetapi sebab dia masuk neraka”. Lalu, orang-orang bertanya, “Bagaimana dapat begitu?” Ia menjawab, “Dia melakukan suatu dosa, kemudian dosanya selalu tampak di pelupuk matanya. Ketika berdiri, duduk, dan berjalan, ia selalu ingat dosanya. Sehingga hatinya remuk redam, bertaubat, beristighfar, dan menyesal. Semuanya itu menjadi penyebab kesalamatan dirinya. Sebaliknya orang nan senantiasa melakukan amal kebaikan, kemudian kebaikannya itu selalu nampak di pelupuk matanya, ketika berdiri, duduk, dan berjalan. Setiap kali ingat kebaikannya, ia merasa ujub, takabur, dan merasa telah berjasa, sehingga menjadi penyebab kebinasaan.

Dosa itu telah menjadikan dirinya selalu meningkatkan berbagai ketaatan, kebaikan dan pencerahan hatinya, seperti takut kepada Allah Azza Wa Jalla, malu kepada-Nya, datang kepada-Nya dengan menundukkan kepala dan hati nan resah gelisah, dengan menangis dan menyesal, dan mengakui semua kesalahan dan kelalaian dihadapan Rabbnya. Wallahu’alam.

Nasihat ulama

advertisements

Abu Haidar 2018 - Contact - Privacy Policy