Memperbarui Komitmen Setiap Malam

Memperbarui Komitmen Setiap Malam

  Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhary disebutkan bahwa setiap malam ketika Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bangun buat sholat malam beliau menyampaikan sebuah doa kepada Allah ta’aala nan intinya memohon ampunan Allah ta’aala atas segenap dosa di masa lalu dan nan akan datang. Namun sangat menarik buat dicatat bahwa doa tersebut diawali dengan rangkaian ungkapan pujian nan mengandung pembaruan komitmen Nabi shollallahu ’alaih wa sallam kepada Allah ta’aala dan kepada kehidupan akhirat.

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ يَتَهَجَّدُ قَالَ اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ لَكَ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ الْحَقُّ وَوَعْدُكَ الْحَقُّ وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ وَقَوْلُكَ حَقٌّ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ وَالسَّاعَةُ حَقٌّ اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَوْ لَا إِلَهَ غَيْرُكَ  

Bila Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam bangun di waktu malam buat sholat tahajjud beliau mengajukan doa berikut: “Ya Allah, bagimu segala puji, Engkau Penegak langit dan bumi serta segala isinya. BagiMu segala puji, Engkau Cahaya langit dan bumi serta segala isinya. BagiMu segala puji, milikMu Kerajaan langit dan bumi serta segala isinya. BagiMu segala puji, Engkau Cahaya langit dan bumi serta segala isinya. BagiMu segala puji, Engkau Raja langit dan bumi. BagiMu segala puji, Engkaulah Yang Maha Benar, dan janjiMu benar, perjumpaan denganMu benar, firmanMu benar, Surga itu benar, Neraka itu benar, para NabiMu benar, dan Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam benar, Kiamat itu sahih adanya. Ya Allah, kepadaMu saya berserah diri dan beriman, kepadaMu saya bertawakkal, kepadaMu saya kembali, kepadaMu saya mengadu, dan kepadaMu saya berhukum. Maka ampunilah dosaku nan lalu dan nan akan datang, nan tersembunyi dan tampak. Engkaulah Yang terdahulu dan Yang terakhir dan tak ada ilah selain Engkau.” (HR Bukhary 1053)

Dari doa di atas jelas terlihat betapa dalamnya perenungan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam di tengah malam. Jika setiap muslim melakukan sholat malam diiringi membaca doa di atas, pasti ingatannya terhadap kehidupan akhirat tentu akan menjadi sangat kuat. Coba perhatikan potongan doa di atas, terutama bagian di bawah ini:

أَنْتَ الْحَقُّ وَوَعْدُكَ الْحَقُّ وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ وَقَوْلُكَ حَقٌّ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ

”… Engkaulah Yang Maha Benar, dan janjiMu benar, perjumpaan denganMu benar, firmanMu benar, Surga itu benar, Neraka itu benar…”

Subhanallah…! Kalimat di atas merupakan rangkaian pembaruan ungkapan komitmen, laksana pembaruan bai’at seorang prajurit kepada komandannya. Jika seorang muslim membaca kalimat di atas setiap malam dengan penghayatan penuh tentulah ia akan menjadi seorang hamba Allah ta’aala nan berkeyakinan mantap akan kehidupan setelah kematian. Ia akan menjadi bersemangat mengusahakan segala daya-upaya buat meraih kenikmatan surga. Demikian pula ia akan menjadi sangat bersungguh-sungguh menghindari azab neraka Allah ta’aala nan amat menakutkan. Ia tak akan pernah menganggap surga dan neraka sekedar sebagai mitos mengandung hiburan atau ancaman khayali.

Bila seorang muslim sudah konfiden akan kehidupan akhirat, pasti ia akan menjadi sangat berbeda dengan orang nan pengetahuannya hanya sebatas ruang lingkup global fana. Dan Allah ta’aala memerintahkan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam serta ummatnya buat meninggalkan golongan manusia seperti itu.

فَأَعْرِضْ عَنْ مَنْ تَوَلَّى عَنْ ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ إِلَّا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ذَلِكَ مَبْلَغُهُمْ مِنَ الْعِلْمِ

”Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang nan berpaling dari peringatan Kami, dan hanya menginginkan kehidupan duniawi. Itulah batas pengetahuan mereka.” (QS An-Najm ayat 29-30)

Sungguh sangat berbeda sikap dan prilaku seorang pakar global dengan pakar akhirat. Seorang pakar global sangat berambisi mengejar keberhasilan jangka pendek sehingga justru Allah ta’aala cerai-beraikan urusannya di global dan akhirat dan Allah ta’aala jadikan ia selalu dihantui oleh bayang-bayang kefakiran di dalam kehidupan dunia. Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَتْ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَجَعَلَ
فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ

“Barangsiapa nan global ialah ambisinya, pasti Allah cerai-beraikan urusannya dan dijadikan kefakiran di hadapan kedua matanya dan Allah tak memberinya dari harta global ini, kecuali apa nan telah ditetapkan untuknya.” (HR Ibnu Majah 4095)

Sebaliknya seorang beriman nan keinginan dan fokusnya sangat kuat akan kebahagiaan akhirat malah Allah ta’aala janjikan buat menata kehidupan dunianya dengan baik, lalu hatinya senantiasa tenteram di global maupun di akhirat kemudian global justru bakal mendekati dirinya dengan cara nan samasekali tak terfikirkan olehnya sama sekali. Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda:

وَمَنْ كَانَتْ الْآخِرَةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ
وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ

“Dan barangsiapa nan akhirat menjadi keinginannya, pasti Allah ta’aala kumpulkan baginya urusannya dan dijadikan kekayaan di dalam hatinya dan didatangkan kepadanya global bagaimanapun keadaannya.” (HR Ibnu Majah 4095)

Suara langit

advertisements

Abu Haidar 2018 - Contact - Privacy Policy