Mendidik Anak nan Gampang Frustasi

Mendidik Anak nan Gampang Frustasi

Ibu anita aku punya masalah dengan suami dalam hal disparitas mendidik putra kami. Suami aku tak suka jika anak aku menangis, jika beliau di rumah dan mendengar anak kami menangis maka dia akan memarahi saya, kemudian meminta aku buat tak membuatnya menangis.

Contoh lain ialah ketika anak kami rangkingnya turun, anak kami menangis sebab tak mendapat piala seperti teman-temannya nan masuk 3 besar. Dia merebut rapot nan dipegang oleh aku kemudian dirumah dibantingnya rapot itu sambil jejeritan kepada saya. Kemudian ayahnya datang dan meredakan tangisnya dengan menawarkannya membeli mainan.

Entah mengapa aku merasa tak cocok dengan cara suami aku bersikap padanya, aku minta tolong masukannya apakah tepat apa nan dilakukan suami aku selama ini?

Wassalammua’alaikum

Ibu eva

Assalammu’alaikum wr. wb.

Bu eva nan dirahmati Allah,

Nampaknya ibu merasa gundah dengan polah asuh nan diterapkan oleh suami kepada anak. Ibu merasa sikap suami nan selalu berusaha membuat anak merasa bahagia dan tak membiarkannya merasa sedih tidaklah tepat buat mendidik putra ibu. Tentu saja memperlakukan anak dengan pola asuh nan berbeda bisa menimbulkan masalah, dan jika tak diselesaikan bisa menimbulkan kebingungan kepada anak dan justru semakin memperburuk situasi.

Orangtua selalu mengharapkan nan terbaik buat anak-anaknya dan mencoba buat mencurahkan kasih sayangnya setulus mungkin dengan asa sang anak akan tumbuh menjadi pribadi nan diharapkan. Namun tanpa disadari seringkali cara orangtua mengungkapkan cinta kepada anak justru merusak pribadi anak tersebut. Misalnya cinta nan hiperbola di mana orangtua selalu jadi pelindung bagi anak buat terhindar dari emosi nan negatif, justru bisa menghambat pertumbuhan kematangan emosi anak itu sendiri.

Suami ibu nampaknya sangat sayang kepada anak ibu dan buah dari rasa sayangnya ialah mencoba buat melindungi putra ibu dari merasa sedih, kecewa, kegagalan dan semacamnya. Menghindari anak dari emosi nan negatif akan sangat merugikannya ketika dia beranjak dewasa. Padahal memiliki ketrampilan buat menguasai emosi sudah harus dilatih sejak dini sebab masa kanak-kanak sebenarnya ialah masa persiapan buat menjalani kehidupan sebagai orang dewasa.

Dalam kehidupan orang dewasa tak mungkin buat terhindar dari hal-hal nan membuatnya sedih, kecewa ataupun kegagalan. Perasaan negatif bukanlah hal nan harus dihindarkan sebab perasaan tersebut kertika ditangani secara tepat akan jadi bagian dari pertumbuhan emosi nan matang. Ketika anak-anak selalu dihindarkan dari merasakan perasaan negatif dengan cara menolaknya atau mengalihkannya maka mereka tak akan terlatih bagaimana menanganinya saat dewasa.

Dan biasanya anak-anak nan seperti ini ialah anak-anak nan rentan terhadap kegagalan.Kegagalan kecil dapat mudah membuat mereka putus harapan bahkan menghancurkan kehidupannya. Padahal kegagalan ialah unsur krusial nan menjadi bagian dari keberhasilan. Dan dapat dibayangkan bagaimana pribadi semacam ini akan berkembang di masa dewasanya.

Dalam hal ini aku menyarankan kepada ibu buat berbicara dan sering berdiskusi dengan suami tentang metode terbaik dalam mendidik anak. Mungkin ibu dapat mencoba buat membahas sebuah artikel atau buku nan menghadirkan fakta-fakta krusial tentang pola asuh nan merugikan perkembangan emosi anak.

Dalam hal ini sebaiknya tak perlu menyudutkan dan menyalahkan suami, namun jadikan diskusi itu sebagai wahana buat sama-sama belajar dan intropeksi diri. Biar bagaimana baik ibu maupun suami ialah orangtua nan mencintai anaknya dan sebaiknya memang tak cukup puas dengan menjadikan pola pengasuhan berdasarkan pengalaman sendiri, namun mau memiliki pikiran nan terbuka buat belajar dari sumber-sumber lain. Wallahua’alam bishshawab

Wassalammu’alaikum wr. wb.

Rr Anita W.

Konsultasi

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy