Meneladani Kepemimpinan Abu Bakar Ash-Shiddiq

Meneladani Kepemimpinan Abu Bakar Ash-Shiddiq

URUSAN kepemimpinan atau imamah dalam Islam merupakan salah satu kewajiban agama di antara kewajiban lainnya, karena agama tak mungkin tegak tanpa memiliki pemimpin. Hal ini erat kaitannya dengan fitrah kejadian manusia, di mana setiap pribadi satu dengan nan lainnya saling membutuhkan hingga melahirkan interaksi hubungan di antara mereka dalam kehidupan bermasyarakat atau bernegara.

Soal pentingnya pemimpin menurut ajaran Islam didasarkan pada sejumlah ayat Al-Quran dan hadis, antara lain disebutkan: “Hai orang-orang nan beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan orang-orang nan memegang kekuasaan di antara kamu.” (QS. An-Nisa: 59).

Dalam sebuah hadis disebutkan: “Apabila berangkat dalam perjalanan tiga orang maka hendaklah mengangkat salah seorang dari mereka menjadi pemimpin.” (HR. Abu Dawud).

Demikianlah, Allah dan Rasul-Nya telah menegaskan betapa pentingnya keberadaan seorang pemimpin dalam suatu urusan. Bahkan disebutkan tiga orang saja nan akan melaksanakan suatu tugas bersama dan buat tujuan nan sama, hendaklah mengangkat salah satu di antaranya sebagai pemimpin. Dengan adanya seorang pemimpin, bila terjadi suatu perselisihan pendapat nan tak dapat dipertemukan lagi, maka keputusannya di tangan seorang pemimpin.

Di hadis nan lain Rasulullah Saw bersabda: “Setiap kalian ialah pemimpin, dan setiap pemimpin itu bertanggung jawab atas nan dipimpinnya.” (HR. Bukhari-Muslim).

Hanya, strata kepemimpinan itu saja nan berbeda. Ada nan memimpin dalam lingkup terkecil seperti keluarga hingga nan paling besar seperti negara. Namun, di level mana pun seseorang memimpin, niscaya ingin menjadi pemimpin nan berhasil dan ditaati.

Pemimpin nan berhasil ialah nan mampu memberikan perubahan nan lebih baik kepada nan dipimpinnya. Perubahan nan dimaksud tak hanya nan bersentuhan dengan perkara duniawi. Justru nan lebih krusial ialah perubahan nan berkaitan dengan urusan ukhrawi. Karenanya, hikmah terbesar disyariatkannya kepemimpinan pada dasarnya adalah menjaga kemaslahatan ukhrawi setiap orang.

Islam lalu mengajarkan tentang prinsip-prinsip kepemimpinan nan islami. Paling tak ada dua hal penting. Pertama, bertakwa kepada Allah Swt. Ketakwaan seorang pemimpin besar sekali khasiatnya dalam mengayomi masyarakat. Kepemimpinan nan dilandasi dengan dasar takwa akan lahir suatu sistem masyarakat nan tak mengenal subordinat di antara mereka, karena pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya lebih merupakan sebagai darma kepada masyarakat sekaligus dalam rangka beribadah kepada Allah Swt.

Kedua, menjadikan kepemimpinan sebagai amanah. Dalam Islam sesungguhnya kepemimpinan itu ialah amanah dari Allah Swt, sehingga tak saja harus dipertanggungjawabkan di global tetapi juga di akhirat kelak.

Dalam surat al-An’am 165 dinyatakan: “Dan Dialah nan menjadikankanmu penguasa (pemimpin) bumi dan sebagian kamu ditinggikan Tuhan beberapa derajat dari nan lain sebab Tuhan hendak menguji kamu tentang apa nan diberikan-Nya kepada kamu.”

Allah Swt juga berfirman dalam surah An-Nisa` 58: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada nan berhak menerimanya.”

Rasulullah pun sudah menjelaskan: “Sesungguhnya kepemimpinan itu ialah amanat dan pada hari akhirat kepemimpinan itu ialah rasa malu dan penyesalan, kecuali orang nan mengambilnya dengan haq serta melaksanakan tugas kewajibannya.” (HR. Muslim).

Mengingat kepemimpinan itu ialah amanat, maka buat menduduki jabatan pimpinan haruslah orang nan terpilih dalam suatu lembaga nan mempunyai kewenangan tunggal dan nan lebih mampu dari nan lainnya, baik dari segi kepribadiannya maupun dari segi kecakapannya.
Menurut Islam, sangatlah tak etis dan tak bermoral orang nan meminta-minta jabatan atau meminta posisi pimpinan. Rasulullah Saw sangat tak suka terhadap hal ini, sebab pemimpin nan memperoleh posisinya dengan cara semacam itu sangat sulit dipertanggungjawabkan kemungkinan berhasilnya dalam memimpin.

Suatu ketika Rasulullah menasihati sahabat Abu Bakar r.a.: “Hai Abu Bakar, urusan kedudukan itu ialah buat orang nan tak menginginkannya, bukan buat orang-orang nan menonjol-nonjolkan diri dan memburunya. Ia ialah bagi orang nan memandang kecil urusan itu dan bukan bagi orang nan mengulur-ulurkan kepalanya buat itu.”

Rasulullah memberikan nasihat kepada kita agar dalam memilih seorang pemimpin ialah orang nan pakar dan tepat, sebagaimana sabdanya: “Apabila amanat itu telah disia-siakan, maka tunggulah saat (kehancurannya). Sahabat bertanya: Bagaimana menyia-nyiakannya? Jawab Rasulullah: Apabila suatu jabatan diserahkan kepada orang-orang nan bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya.” (HR. Bukhari).

Lantas, bagaimanakah sikap kita seandainya diberi kesempatan menjadi pemimpin? Ada hal menarik nan patut kita contoh pada diri Abu Bakar r.a ketika diangkat menjadi seorang khalifah menggantikan Rasulullah SAW. Segera setelah dibaiat Abu Bakar berpidato: “Hai umat, saya telah diangkat buat memerintahmu. Sebenarnya saya terpaksa menerimanya. Aku bukanlah orang nan terpandai dan termulia dari kamu. Bila saya sahih dukunglah bersama-sama, tetapi jika saya menyimpang dari tugasku, betulkanlah bersama-sama. Jujur dan lurus ialah amanat, sedang dusta dan bohong ialah penghianatan.

Kaum nan lemah diantara kamu ialah kuat dalam pandanganku hingga haknya diperolehnya. Orang nan kuat dari kalanganmu ialah lemah dihadapanku hingga saya rebut hak itu dari padanya. Perjuangan dan jihad itu sekali-kali janganlah ditinggalkan. Kaum nan meninggalkan jihad itu akan dipukul kehinaan. Patuhlah kepadaku selama saya mematuhi Allah dan Rasul-Nya. Dikala saya mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, kamu tak wajib patuh lagi kepadaku.”

Selanjutnya dalam kehidupan sehari-hari, Abu Bakar sebagai seorang khalifah atau pemimpin negara, dengan mencontoh Rasulullah Saw, tetap dalam kesederhanaan. Antara Abu Bakar dan rakyat tidak ada tabir dan dinding pagar pembatas. Rumahnya boleh dikunjungi setiap waktu dan terbuka bagi rakyat. Ia dapat ditemui di mana saja. Pakaian, makanan, dan penghidupannya sangatlah bersahaja.

Alkisah, suatu hari Abu Bakar keluar ke Pasar Madinah memakai pakaian dari kulit kambing. Ketika kejadian itu dilihat keluarganya, mereka buru-buru datang kepada Abu Bakar dan berkata: “Hai khalifah, engkau sungguh-sungguh membuat malu kami di mata kaum muhajirin, Anshar, dan orang Arab.” Lalu Abu Bakar menjawab: “Apakah kamu bermaksud agar saya menjadi seorang Raja nan jemawa di zaman Jahiliyah dan jemawa di zaman Islam?”

Ketika Abu Bakar hendak meninggal, ia berkata kepada putrinya Aisyah: “Hai Aisyah, unta nan kita minum susunya, juga bejana loka kita mencelupkan pakaian, serta pakaian qathifah nan aku pakai, semuanya hanya bisa kita gunakan selama aku berkuasa. Dan bila saya meninggal, seluruhnya harus dikembalikan kepada Umar.” Maka ketika Abu bakar meninggal, Aisyah mengembalikan semua barang tersebut kepada Umar bin Khaththab.

Kisah nan lainnya, tatkala seorang wanita kampung bernama Unaisar berkata: “Hai Abu Bakar, apakah engkau masih bisa menolong kami memerah susu kambing seperti sebelum menjadi khalifah?” Jawab Abu Bakar: “Insya Allah saya akan tetap bersedia menolong kamu.” Demikianlah sosok Abu Bakar sebagai kepala negara nan telah sukses menaklukkan dua kerajaan besar (Syiria dan Persia) masih menyediakan waktu buat memeraskan susu kambing buat para wanita sekampungnya.

Sekarang, bagaimana dengan kita? Apakah kita juga harus mencontoh apa adanya sikap dan kepribadian Abu Bakar tersebut. Tentu tak demikian, sebab situasi dan kondisi sejarah sangatlah jauh berbeda dengan zaman khalifah Abu Bakar. Namun demikian, paling tak kita harus mencontoh kesederhanaannya sebagai seorang pemimpin, tidak sewenang-wenang, jauh dari gaya hayati mewah, tiada jemawa dan tak sombong.

Profil Penulis :

Ahmad Fatoni; Kelahiran Surabaya, alumnus Universitas Muhammadiyah Malang. Beberapa karya
tulis; cerpen, puisi, opini dan resensi buku, pernah dimuat Kompas, GATRA, Koran Tempo, Republika, Media Indonesia, Bisnis Indonesia, Seputar Indonesia, Harian Pelita, Suara Pembaruan, Sinar Harapan, Suara Muhammadiyah, Jawa Pos, Radar Surabaya, Surya, Surabaya News, Surabaya Post, Duta Masyarakat, Bhirawa, Malang Post, Sriwijaya Post, Waspada, Posinfo, Koran Pendidikan, Koran Pak Oles, Reform, Nadi, MATAN, Jurnal Bestari, Jurnal Ulumuddin-FAI dan Sebagainya. Kini sebagai staf Laboratorium Bahasa Arab (LBA) Universitas Muhammadiyah Malang, juga menjadi aktivis Corps Muballigh Muhammadiyah (CMM) di Malang. Alamat rumah: a.n. Laboratorium Bahasa Arab UMM, Jl. Raya Tlogomas No. 246 Malang 65144.

Suara kita

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy