Mengambil Ibroh Dari Kekuasaan

Mengambil Ibroh Dari Kekuasaan

Ibaratnya seperti meneguk air laut. Sekali meneguknya niscaya akan berulang keinginan meneguknya kembali. Tak akan pernah ada orang nan merasa cukup dengan sekali berkuasa. Tak ada penguasa nan rela, dan dengan ikhlas melepaskan kekuasaannya. Itulah hakekat kekuasaan dan penguasa. Karena, kekuasaan itu selalu diidentikkan dengan penghormatan, hak-hak istimewa, kekayaan, kemewahan, dan status. Setiap orang menginginkan kekuasaan. Karena dengan kekuasaan segalanya bisa dicapai dan diwujudkan.

Sekalipun orang nan berkuasa dirinya dihiasi dengan sejumlah aksesoris nan sangat sempurna, dan sering dengan sebutan sebagai darma kepada rakyat. Bungkus nan dibungkuskan kepada jati diri seorang penguasa dengan rapi, dan segalanya selalu dikatakan buat kepentingan rakyat. Seakan dirinya melebur dengan rakyat. Mimpinya ialah kesejahteraan rakyat. Bicaranya ialah kemakmuran rakyat. Pidatonya ialah membela rakyat. Kata ‘rakyat’ seperti tak pernah habis-habis, nan selalu ada dalam mimpi, bicara, dan pidato. Setiap lima tahun sekali rakyat mendapatkan perhatian nan tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh mereka. Betapa mulianya rakyat, di saat menjelang pemilihan. Rakyat di saat itu menjadi sebuah ‘kata’ nan sangat luar biasa ‘magisnya’.

Sampai-sampai, kemiskinan disulap menjadi kejehteraan, kegagalan disulap menjadi keberhasilan, kebathilan disulap menjadi kebenaran, kebohongan disulap menjadi kejujuran, korupsi dan mencuri uang rakyat disulap menjadi higienis dan amanah, utang disulap menjadi surplus, dan semuanya dipatrikan ke dalam pikiran rakyat melalui media. Sebuah citra betapapun paradoknya, tapi orang nan berkuasa bisa mengendalikan dan menguasai pikiran rakyatnya. Melalui sebuah manipulasi. Dan,hanya dengan angka-angka, nan selalu disuguhkan kepada rakyat.  Karena ada sebuah kaidah nan mengatakan, kebohongan nan diulang-ulang akan menjadi kebenaran. Sampai tidak ada seorangpun nan menolaknya. Semuanya mengatakan ‘amiin’ terhadap kebohongan itu.

Pernah ada penguasa di negeri ini, nan berkuasa dalam jangka waktu nan panjang, lebih dari tiga puluh tahun. Dan, setiap lima tahun sekali dipilih, partai nan digunakan sebagai kendaraannya, meniti kekuasaan selalu menang mutlak, bahkan nan terakhir kali mendapat suara 74 persen. Karena, sang ‘penguasa’ bisa menggunakan semua instrument negara buat mencapai tujuannya. Dan, setiap lima tahun sekali selalu ada kata ‘meLanjutkan’ amanah rakyat.

Dan usai pelantikan wakil rakyat ditempat nan akan menantukan nasib rakyat, maka ia dipilih lagi menjadi pemimpin, dan tidak ada nan menyainginya. Penguasa ini juga menggunakan slogan nan sangat sakti yaitu ‘pembangunan’. Pembangunan buat rakyat. Pembangunan buat memakmurkan rakyat. Pembangunan buat mengentaskan kemiskinan rakyat. Pembangunan buat mewujudkan negara nan adil dan makmur.

Watak penguasa di manapun sama. Mereka tidak ingin berhenti dari kekuasaan. Selalu ingin berkuasa kembali. Kekuasaannya tidak ingin dibatasi oleh apapun, termasuk konstitusi nan ada. Sekalipun eksplisit di dalam konstitusi itu ada pembatasan. Tapi, niscaya ia tidak ingin melepaskan kekuasaannya, nan sudah sangat dinikmatinya. Di zaman modern ini banyak penguasa, nan kemudian membentuk dinasti. Kekuasaannya dialihkan kepada anaknya, istrinya, saudaranya, dan kroni-kroninya. Kekuasaan tak boleh beralih ke tangan orang lain, nan bukan menjadi ‘trah’ keturunannya, atau orang nan mempunyai interaksi dekat, serta orang nan menjadi kepercayaannya. Inilah nan kemudian muncul kata ‘nepotisme’. Akhirnya kekuasaan sifatnya menjadi sangat pribadi.

Rakyat hanya diperhatikan saat-saat menjelang pemilihan. Usai pemilihan bukan lagi gilirannya rakyat nan diperhatikan. Tugas rakyat sudah selesai. Tugas rakyat hanya sampai dibilik suara. Memberikan suaranya. Cukup sampai disitu. Rakyat jangan lebih dari itu. Apalagi, rakyat nan pikiran dan persepsinya sudah bisa dikendalikan dan dikuasai oleh penguasa. Ibaratnya mereka ialah orang hidup, nan hakekaktnya sudah ‘mati’, sebab mereka tak lagi memiliki pendapat. Semuanya sudah diarahkan nan sinkron dengan keinginan penguasa.

Pengelolaan dan kebijakan negara terserah penguasa dan orang-orang nan sudah berjasa menjadikan sang penguasa berkuasa kembali. Semuanya cukup dengan mengucapkan terima kasih kepada rakyat nan sudah memilihnya. Apakah rakyat akan mengalami kemajuan hayati mereka? Tidak ada nan tahu. Karena, nan tahu hanyalah sang ‘penguasa’ dan nan ada di dalam lingkaran kekuasaan, nan membuat kebijakan atas nasib rakyat. Wallahu’alam.

Editorial

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy